Kamis, 20 Agustus 2015

RERESIK TUGU JOGJA

PERANCANGAN GAME "RERESIK TUGU JOGJA" SEBAGAI MEDIA INTERAKTIF

Yogyakarta dikenal sebagai kota pelajar dan kota budaya, sebuah kota yang juga memiliki banyak bangunan bersejarah peninggalan peradaban masa lampau, salah satunya yang paling terkenal dan juga sebagai icon kota Yogyakarta adalah Monumen Tugu Jogja. Sebuah monumen yang berdiri kokoh tepat di tengah perempatan Jalan Pangeran Mangkubumi, Jalan Jendral Soedirman, Jalan A.M Sangaji dan Jalan Diponegoro. Tugu Jogja yang berusia hampir 3 abad memiliki makna yang dalam sekaligus menyimpan beberapa rekaman sejarah kota Yogyakarta.

Tugu Jogja kira-kira didirikan setahun setelah Kraton Yogyakarta berdiri. Pada saat awal berdirinya, bangunan ini secara tegas menggambarkan Manunggaling Kawula Gusti, semangat persatuan rakyat dan penguasa untuk melawan penjajahan. Semangat persatuan atau yang disebut golong gilig itu tergambar jelas pada bangunan tugu, tiangnya berbentuk gilig (silinder) dan puncaknya berbentuk golong (bulat), sehingga disebut Tugu Golong-Gilig.

Setiap harinya, Tugu Jogja selalu ramai oleh pengunjung, baik lokal maupun mancanegara. Karena begitu banyaknya wisatawan yang datang, akhirnya membuat kebersihan di kawasan Tugu Jogja kurang terjaga. Oleh karena itu, perlu adanya media iklan yang menjelaskan tentang betapa pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, khususnya di kawasan Tugu Jogja. Salah satu media iklan yang dibuat adalah berupa Game Interaktif, sebuah game yang dapat memberikan suatu penghiburan bagi penggunanya dan sekaligus terdapat pesan positif di dalamnya. Sehingga pesan-pesan yang disampaikan dapat dengan mudah dicerna sekaligus dinikmati.

Game Interaktif ini diberi nama "Reresik Tugu Jogja", sebuah game sederhana yang diciptakan menggunakan program Adobe Flash yang hasilnya dapat dimainkan oleh semua kalangan masyarakat. Berikut ini merupakan rancangan desain storyboard game tersebut:

A.            COVER

B.            SINOPSIS

C.            COVER GAME

D.            KARAKTER

E.            PENDUKUNG

F.            BACKGROUND

G.            LEVEL 1

H.            LEVEL 2

I.            TAMAT

J.            BACKCOVER

Demikian lah rancangan konsep awal hingga akhir dari game “Reresik Tugu Jogja” yang sangat sederhana. Semoga bisa bermanfaat. Mohon maaf yang sebesar besarnya apabila terdapat tulisan atau gambar yang menyinggung hati para pembaca.

Music and Video By: Chandra Adi W


DOWNLOAD GAME  “RERESIK TUGU JOGJA” File RAR

Sabtu, 08 Agustus 2015

MITOS MEMAKAI KAOS HIJAU DI LAUT SELATAN

“PERANCANGAN IKLAN LAYANAN MASYARAKAT TENTANG MITOS MEMAKAI KAOS HIJAU DI LAUT SELATAN MENGGUNAKAN ANIMASI 2 DIMENSI”

Karya: Chandra Adi W


Dalam dunia Desain Komunikasi Visual, ilmu tentang Animasi merupakan ilmu pokok yang wajib untuk dipelajari, baik secara teori maupun prakteknya. Teknik animasi biasa digunakan untuk pembuatan film, iklan komersil, iklan layanan masyarakat, media interaktif dll. Dalam artikel ini, animasi tentang iklan layanan masyarakat menjadi pokok pembahasan utama.

Iklan layanan masyarakat, sudah pasti ditujukan untuk masyarakat. Berisi tentang informasi permasalahan umum yang sekiranya perlu disampaikan kepada masyarakat yang belum mengetahuinya. Penggunaan teknik animasi 2 Dimensi dalam pembuatan iklan layanan masyarakat ini pun memang sengaja digunakan, sebagai bumbu-bumbu estetik yang menyegarkan bagi para penontonnya (masyarakat). Animasi Iklan layanan masyarakat ini diberi judul “MITOS MEMAKAI KAOS HIJAU DI LAUT SELATAN”.

Sebagai masyarakat Indonesia pada umumnya, terlebih sebagai masyarakat jawa khususnya, kata “Mitos” tentu sudah tidak asing lagi di telinga. Mitos adalah cerita prosa rakyat yang menceritakan kisah berlatar masa lampau, mengandung penafsiran tentang alam semesta dan keberadaan makhluk di dalamnya, serta dianggap benar-benar terjadi oleh yang empunya cerita atau penganutnya. Dalam pengertian yang lebih luas, mitos dapat mengacu kepada cerita tradisional (Wikipedia: Mitos)

Mitos yang paling terkenal di Jawa adalah tentang adanya Nyai Roro Kidul sang penguasa laut selatan pulau Jawa. Wikipedia berpendapat bahwa Nyai Roro Kidul merupakan sesosok roh atau dewi legendaris Indonesia yang sangat populer di kalangan masyarakat Pulau Jawa dan Bali. Tokoh ini dikenal sebagai Ratu Laut Selatan (Samudra Hindia) dan secara umum disamakan dengan Kanjeng Ratu Kidul, meskipun beberapa kalangan sebenarnya keduanya berbeda.

Menurut cerita orang-orang terdahulu, Nyai Roro Kidul menyukai warna hijau, alasan menyukai warna hijau masih belum diketahui. Bagi siapa pun terutama yang percaya akan mitos tersebut, tidak ada yang berani berenang di pantai selatan mengenakan baju berwarna hijau, karena konon menurut cerita rakyat, orang yang berenang di laut selatan menggunakan baju hijau maka tubuhnya akan terseret ombak lalu lenyap bersama ombak karena diculik oleh Nyai Roro Kidul tersebut.

Belakangan ini penelitian ilmiah tentang kejadian hilangnya pengunjung yang mengenakan baju berwarna hijau telah dilakukan, sebagai pemecahan masalah secara logis. Dalam penelitiannya tersebut, terutama penelitian di laut Parangtritis Yogyakarta, mengatakan bahwa adanya sebuah palung yang dalam dan juga ombaknya yang cukup besar. Seperti kita ketahui, palung merupakan sejenis jurang yang berada di dasar laut, palung tersebut dapat menghasilkan sebuah pusaran yang sifatnya menyedot benda apapun yang ada di atasnya, sehingga benda tersebut terperangkap di dalamnya.

Sedangkan penelitian tentang warna hijau itu sendiri, seperti kita ketahui dalam hukum teori warna, warna hijau tidak memantulkan cahaya dengan kuat, hijau termasuk dalam warna tengah yaitu antara warna panas dan warna dingin. Pada umumnya, air laut berwarna biru kehijauan, artinya 50% Biru dan 50% Hijau. Disini dapat kita simpulkan bahawa apabila seorang pengunjung berpakaian warna hijau kemudian berenang di laut selatan dan terseret palung laut, maka yang terjadi adalah kesulitan para tim SAR untuk mendeteksi titik lokasi korban tersebut karena warna kaos yang hijau dan warna laut yang hijau pula. Akhirnya, nyawa pengunjung tersebut tak terselamatkan.

Dalam karya animasi 2 dimensi ini, saya mencoba memberi informasi layanan masyarakat  tentang hasil penelitian tersebut. Sehingga akan muncul ideologi yang logis pada masyarakat dalam menyikapi permasalah ini, dan juga memberi peringatan bahwa jangan lupa untuk selalu waspada terhadap rambu-rambu yang ada di obyek wisata khusunya pantai selatan, dan juga sadar akan pentingnya suatu kombinasi warna.

Di bawah ini adalah desain untuk buku panduannya sebelum memasuki tahap perancangan animasi:

Bercerita tentang 2 orang laki-laki bernama Cuplis dan Supri yang sedang berlibur ke Pantai Selatan (Parangtritis), setelah sampai di pantai, mereka kemudian berenang tanpa memperdulikan plang yang bertuliskan “Berbahaya, ada palung Laut”, beberapa saat kemudian ketika mereka sedang berenang, tiba-tiba ombak besar datang, lalu mereka tersedot oleh sebuah Palung yang ada di Laut Selatan. Mereka meminta pertolongan dengan cara melambai-lambaikan tangan, namu Tim SAR hanya dapat melihat si Supri, karena warna kaos yang dikenakan si Supri terlihat mencolok. Akhirnya Tim SAR hanya berhasil menolong si Supri, sedangkan si Cuplis akhirnya perlahan tenggelam lalu muncul bayangan Nyai Roro Kidul di dalam pikirannya.

Closhing: Tim SAR yang berbadan kekar dan berkulit hitam muncul di layar animasi. Lalu ia menjelaskan bahwa kejadian tersebut bukan dikarenakan perbuatan Nyai Roro Kidul, melainkan karena adanya sebuah Palung yang ada di dasar Laut Selatan dan juga karena warna hijau bajunya menyamarkan penglihatan, sehingga sulit untuk dideteksi.


A.            COVER


B.            SINOPSIS


C.            NASKAH #1


D.            NASKAH #2


E.            FULL FIGURE (Cuplis)


F.            FULL FIGURE (Supri)


G.            FULL FIGURE (Bang SAR)


H.            EKSPRESI


I.            ACTION


J.            DESAIN SET


K.            STORYBOARD #1

1.             Bumper atau Animasi pembuka.
2.             Cuplis dan Supri berdiri menatap lautan, tetapi tidak menatap papan peringatan tanda bahaya palung laut.
3.             Cuplis dan Supri mulai berlari menuju bibir pantai dengan wajah yang gembira.
4.             Ombak besar datang menghampiri mereka berdua, ekspresi wajah berubah menjadi takut dan panik.

L.            STORYBOARD #2

5.             Mereka berdua terombang ambing dalam gelombang meminta pertolongan.
6.             Penglihatan tim SAR terhadap Supri menggunakan binokular, sedangkan Cuplis sudah tidak nampak lagi.
7.             Tim SAR datang menolong Supri menggunakan perahu karet.
8.             Tubuh Cuplis berangsur tenggelam tidak sadarkan diri lalu membayangkan sosok Nyai Roro Kidul.

M.            CLOSHING


N.            BACKCOVER

Terima Kasih Atas Perhatiannya

Semoga perancangan buku manual proyek animasi 2 dimensi ini bisa bermanfaat, mohon maaf apabila sekiranya banyak ketidak sempurnaan teks, kalimat atau gambar didalam artikel ini.




Yogyakarta, 9 Agustus 2015
Chandra Adi W

Selasa, 04 Agustus 2015

SEBUAH PAGI YANG BASAH DAN AGUSTAS YANG HILANG


Sebuah cerpen lanjutan dari cerita sebelumnya:
Sebuah Pagi yang Lembab dan April yang Cantik.

Catatan April kepada Agustas:

“Haruskah ku katakan bahwa sesungguhnya aku juga mencintaimu, Gus? Kurasa tak perlu lagi kukatakan, percuma. Pastinya, kau pun sudah tahu jawabannya, Gus. Jawaban yang sekiranya mungkin membuatmu bahagia. Namun setelah itu kenyataannya, kita dibuat bersedih oleh perpisahan yang tiba-tiba datang tanpa permisi. Sebuah pagi yang lembab, pepohonan anggur yang rimbun, kicauan burung yang bersahutan, cahaya matahari yang menembus dedaunan dan tentunya dirimu yang kucintai. Yang kini juga aku rindui. Semuanya lenyap dalam sekejapan mata”.

Pagi itu, kita sama sama merasakan betapa surga telah berada di sekitaran kita, di kebun anggur yang rimbun. Ketika itu sentuhanmu telah sampai pada puncak titik kesempurnaanku. Dan ketika itu juga sentuhanku pun telah sampai pada puncak titik pencapaianmu. Semua menyatu dalam balutan sejuta rasa. Namun, pada pencapaian kita yang terakhir, dalam sekejap mata, akhirnya kita semua menghilang, hilang bersama dunianya masing-masing. Yang kuketahui, sesungguhnya hanya kau lah yang menghilang. Aku tetap disini di duniaku, terdampar di dalam sebuah pagi yang selalu lembab.

Agustasku yang tercinta, aku masih disini, ya masih disini. Di dalam sebuah pagi yang entah kenapa selalu lembab. Apakah kau mengerti, Gus? Kurasa tidak. Namun, tak apa lah jika kau tak mengerti dan tak mengetahui. Nanti kau akan tahu sendiri, Gus.

Aku teringat kembali ceritamu dahulu tentang penyakit jiwa yang kau derita sejak kecil. Kau bercerita, penyakit itu bernama Skizofrenia. Kau mengucapkan nama tersebut dengan sedikit gagu. Sepanjang yang kuketahui, penyakit tersebut menimbulkan gejala halusinasi dan paranoid bagi penderitanya. Ketika itu aku mulai sadar dan mengerti, Gus. Sesungguhnya bukan aku yang gila, tapi kau. Itu lah sebabnya terkadang aku tersinggung ketika kau ejek aku dengan sebutan “Wanita Gila”. Marahku itu mewakili perasaanku yang sesungguhnya ingin menginterupsi bahwa kau lah yang gila. Namun, aku juga tak boleh semena-mena mangatakan kau gila, sesungguhnya kau hanya sakit.

Tentang sakitmu yang entah darimana asalnya, pastinya pikiranmu telah dijejali gangguan halusinasi yang kemudian membuatku benar-benar mengerti, aku dan duniaku hanyalah halusinasimu, hanyalah buah pikiranmu. Lantas, apakah semua yang kuketahui itu membuatku sedih dan kecewa? Awalnnya iya, aku sedikit sedih. Betapa tidak, diriku yang kulihat di cermin begitu cantik, lengkap dengan aksesorisnya sebagai wanita remaja, bahkan lengkap pula dengan suasana sebuah pagi yang lembab, ternyata semua hanyalah semu belaka. Namun, seiring berjalannya waktu Gus, aku mulai terbiasa, aku mulai nyaman ketika bersamamu. Sosokmu begitu nyata, begitu pula diriku bagi dirimu. Tak ada satu orang pun yang ku kenal selain dirimu. Hari-hari bersamamu membuatku benar-benar lupa akan kesemuan diriku. Sudah kuanggap bahwa ini lah aku yang sesungguhnya, yang memiliki tubuh berbentuk wanita beserta segala pikiranku, sepengetahuanku.

Agustasku yang tersayang, kau adalah penciptaku, beserta sebuah pagi yang lembab sebagai latar panggungnya, membuatku menjadi hidup untuk ikut berperan serta di dalamnya sebagai aktrisnya, sedangkan kau merangkap sebagai aktor dan sekaligus sutradaranya. Sungguh begitu indah buah imajinasimu itu Gus, segala puji kutumpahkan kepadamu. Harus kah kusebut kau sebagai Tuhanku? Kurasa tidak perlu, cukup dalam pikiran saja.

Ingin aku bertanya padamu, apakah jauh sebelum aku diciptakan, saat itu kau sedang memikirkan seorang wanita? Apakah ketika itu kau sedang merasa kesepian dan membutuhkan sosok perempuan? Sehingga halusinasi yang muncul dalam pikiranmu adalah sosokku? Kali ini aku tak dapat menebak pikiranmu, Gus. Terlebih lagi kau adalah penciptaku, takkan mampu aku membaca pikiranmu.

Seiring dengan hilangnya dirimu kini, apakah halusinasimu tentang aku dan duniaku ini juga berakhir? Aku yakin pasti iya.

Kebersamaan kita di kebun anggur itu menjadi saksi perpisahan kita. Aku meyakini kemungkinan “Puncak Kenikmatan” kita bersama ketika itu menjadi penyebab hilangnya halusinasimu, sehingga musnah lah pula aku dari pikiranmu. Kalau memang itu penyebabnya, aku tak harus merasa bersalah padamu kan Gus? Itu artinya, kau mulai sembuh dari sakitmu, walaupun kesembuhanmu begitu menyakitkan untukku, setidaknya kau mulai bisa hidup dengan segala kenyataanmu. Terpaksa aku harus bahagia.

Sebuah pagi yang lembab yang kau ciptakan ini, kini telah menjadi sebuah pagi yang basah, gerimis mengguyuriku tanpa henti. Apakah kini kau sedang bersedih Gus? Atau sedang menangis? Sehingga langitku menjadi gerimis tiada henti? Aku mohon padamu Gus, hentikan kedehihanmu, aku kedinginan disini. Bergembira lah karena pulihnya jiwamu, aku ingin tersentuh hangatnya mentari di ufuk timur.

Agustasku yang sungguh-sungguh kurindui. Kelak jika suatu hari kau memikirkanku lagi, aku akan datang padamu.

***

Aprillia, 4 Agustus 1990

Jogjakarta, 4 Agustus 2015

Sabtu, 25 Juli 2015

SEBUAH PAGI YANG LEMBAB DAN APRIL YANG CANTIK


Hanya Cerpen Fiksi

Pagi yang lembab bercampur butiran embun yang menempel di kaca jendela kamarku yang tak bergorden. Hawa dinginnya mengalir masuk melalui 2 ventilasi di atas jendela yang terbuat dari kayu, dinginnya menyebar cepat ke seluruh ruangan kamar yang hanya berukuran 3 meter kali 3 meter. Membuatku makin malas beranjak dari kasur dan selimutku. Aku gulingkan tubuhku ke samping kiri dan kutekuk kedua kakiku agar dapat masuk ke dalam selimut seutuhnya, karena memang ukuran selimutku yang tak sesuai dengan panjang tubuhku, selimutku terlalu kecil karena hanya terbuat dari handuk bekas. Terdengar dari kejauhan, suara kokokan ayam jago yang saling bersahut sahutan sebagai alarm alami penanda pagi telah tiba. Dari posisi tidur tertutup handuk, aku intip sebentar pandanganku kearah jendela yang berteralis besi itu, tak nampak sinar matahari menembus kaca. Mungkin sedang mendung pikirku. Atau mungkin masih terlalu pagi. Lalu aku kembali masuk ke dalam selimut handuk. Dengan mata sayup-sayup aku perhatikan arlojiku, waktu menunjukkan tepat jam 5.

Tak lama kemudian. Aku bergegas saja untuk bangun, aku ingat hari ini hari minggu, aku ada janji lari pagi dengan April, sahabatku. Lekas aku berdiri menghadap cermin yang kacanya telah retak-retak dan berjamur, sehingga tubuhku juga nampak patah-patah. Dengan lebih mendekat ke cermin, aku bersihkan kotoran yang menempel di pinggiran mataku. Lalu kuminum segelas air putih yang ada di atas meja kayu dan aku semburkan airnya ke arah cermin, di cermin terlihat tubuhku seolah-olah patah-patah dan meleleh. Aku tertawa sejenak, bukan karena sedang lucu, melainkan sedang bersemangat.

Dengan pakaian serba putih yang telah aku gosoki dengan kapur barus, aku mulai buka pintu kamarku dengan perlahan, eh maksudku dengan tangan. Kemudian aku keluar. Lampu-lampu lorong sudah dipadamkan, jadi sedikit gelap. Nampak seorang suster tua berjalan di depanku sambil membawa keranjang sayur di tangan kiri dan kanannya, sepertinya baru pulang dari belanja di pasar. “Selamat pagi mas Agus...” Sapa suster tua itu kepadaku. “Selamat pagi juga sus...” Jawabku sambil tersenyum. “Tumben.. mas Agus sudah bangun pagi-pagi begini?” Tanya suster tua itu. “Mau lari pagi sus, biar sehat jiwa raga.” Jawabku. Kemudian suster tua tersebut kembali berjalan.

Di dalam lorong yang sedikit gelap ini terdapat 20 kamar yang warna pintunya sama yaitu abu-abu, bentuk pintunya juga sama yaitu persegi panjang, dan ukuran kamarnya juga sama yaitu 3 kali 3 meter. 19 kamar diantaranya telah berpenghuni. Aku sendiri menghuni kamar nomor 14. Kamar yang tak berpenghuni tepat berada disebelah kiri kamarku, yaitu kamar nomor 13. Nah, April, sahabatku yang cantik berada di sebelah kiri kamar kosong tersebut, kamar nomor 12. Kami bertetangga dekat, hanya 6 langkah. Maka, ku segerakan melangkahkan kakiku 6 kali kearah kiri menuju depan kamar April. Akhirnya aku sampai juga di depan pintu kamar April dengan selamat. Di tengah pintunya terdapat tempelan angka 12 yang terbuat dari bahan kertas stiker, di bawah stiker angka 12 terdapat tulisan kecil menggunakan spidol hitam “Awas yang punya anjing galak!”. Aku tau, itu adalah tulisanku. Karena aku juga tau, April itu sejenis manusia yang galak, apalagi setelah anjing labrador hitamnya mati seminggu yang lalu karena kegilaannya. Bayangkan saja, anjingnya sendiri ia suntik menggunakan cairan avtur, hanya karena obsesi April yang ingin menjadi seorang dokter. Haha... dasar orang gila! Orang gila cantik sih.

Dari dalam kamarnya kudengar ia sedang asyik berbicara entah dengan siapa menggunakan bahasa yang tidak aku ketahui. Lalu tanpa mengetuk pintu, aku langsung membuka pintu kamarnya yang tak dikunci, dengan perlahan. Aku intip sedikit, nampak ia sedang mengobrol dengan sebuah boneka plastik berwujud bayi perempuan berambut pirang bergaun motif bunga-bunga. Kulihat April masih merebah di atas kasurnya sambil memeluk boneka tersebut di tangan kirinya. Kini matanya tertuju padaku, dan akhirnya muncul dialog:

April : Hey.. Agus! Masuk kantor orang nggak ketok-ketok dulu!
Aku : Hah.. kantor? Hmm... gilanya makin parah ini anak.
April : Ini kantorku, tempat aku praktek. Aku ini dokter yaah..
Aku : Hmm... Praktek apa sih?
April : Ya macem-macem lah, kebetulan ini lagi ada pasien seorang gadis kecil keturunan Belanda.
Aku : Sakit apa gadis kecil ini? (Aku bertanya sambil menutup mulutku karena menahan tawaku yang hampir pecah).

April mencubit lenganku dengan gemasnya, aku tahan sekuat-kuatnya karena tak mungkin aku tega membalas cubitannya. Terlalu cantik untuk disakiti, bahkan ia pun sebenarnya sedang sakit, sakit jiwanya. Dengan memandang wajahnya saja, seolah menjadi pembius rasa nyeriku.

April : Awas yah kalau berani meledekku lagi! Aku cubit lebih keras lagi!
Aku : Nggak nggak nggak.. Ampun deh...
April : Awaaas...
Aku : Hehehe... Eh, ayo kita lari pagi, kan kemaren kita udah sepakat mau lari pagi?
April : O... iya, aku lupa! Tunggu sebentar, aku ganti pakaian dulu. Tolong, pintunya ditutup sedikit ya Gus..
Aku : Hah? Ganti disini?
April : Iya, ada yang aneh?
Aku : Nggak.

Ya Tuhan, aku tutup sedikit pintunya. Jantungku langsung berdebar kencang, darahku mengalir naik hingga ujung kepala, mata kubuka lebar-lebar tanpa berkedip, sebentar lagi akan aku saksikan pemandangan indah luar biasa atas ciptaan-Nya yang Maha Agung. April!!!

Aku : Buseeeet! Yang ganti baju, bonekamu?
April : Heh! Ini pasienku!
Aku : yaa... ya itu, maksudku. Yang ganti baju pasienmu?
April : Ya iya laah.. Pasienku kan lagi sakit, dia harus ikut joging, banyak-banyak menghirup udara pagi yang sejuk.
Aku : Ooooh...

Rasa rasanya ingin kujedotkan kepalaku ini ke kasur! Kukira dia yang mau berganti pakaian, malah bonekanya yang diganti pakaiannya. Gilaaa....!

Kini bonekanya telah siap dengan pakaian mungil yang lebih ketat. Sementara itu, aku dan April mengenakan pakaian yang sama, sejenis piyama berwarna serba putih. Sebotol air mineral milik April telah aku bawa, karena April harus menggendong bonekanya, nyatanya bonekanya memang tak bisa berjalan apalagi berlari. Kami berjalan menelusuri lorong yang masih tetap gelap untuk menuju pintu keluar. Tepat di depan pintu keluar, pak satpam menyapaku “Selamat pagi mas Agus.. jangan keluar jauh-jauh yaa..”. “Siap... Pak!” Jawabku.

Sebuah taman yang berisi rerumputan hijau dan aneka bunga, membentang luas di depan pintu yang dijagai oleh pak Satpam. Kami berjalan ke arah lembah rumput yang agak luas. Kulihat di cakrawala sebelah timur, langit mulai membentuk warna gradasi jingga biru dengan sedikit awan. Beberapa ekor ayam jago mondar mandir mencari tanah yang bisa dipatuk-patuk. Beberapa suster juga kulihat mondar mandir, ada yang menyiram bunga, menyapu dedaunan kering, membaca koran, dan senam. Para penghuni kamar lainnya tak kulihat, karena masih asyik dengan mimpinya masing-masing di kamar. Kulihat juga April sedang meletakan bonekanya di rumput yang ada di depannya, mungkin si April ingin mengajarkan gerakan-gerakan senam kepada bonekanya. Tak lama kemudian, ia mulai melakukan gerakan senam dengan gaya semau-maunya, seperti gaya vokalis Band Metal yang sedang manggung. Mengibaskan rambutnya keatas dan kebawah berkali-kali. Dasar aneh!.

Aku hirup udara yang lembab ini dalam-dalam, agar oksigennya masuk keseluruh organ tubuh. Lalu aku pun mulai melakukan senam dengan wajar sambil sesekali tertawa melihat tingkah April yang makin menjadi-jadi. Aku heran, gadis secantik dia bisa bertingkah tolol seperti itu. Tadi senam bergaya vokalis Band Metal, lalu senam bergaya pantomim robot-robotan, sekarang senam bergaya pemain tinju. Ya ampuuun. Tapi, apapun gayanya, wajahnya tetap mempesona. Rambutnya yang panjang berwarna coklat, kini mulai berubah menjadi jingga disetiap ujungnya, karena cahaya matahari mulai memasuki kawasan yang kami pijaki. Sesekali ia palingkan wajahnya kearahku sambil tersenyum dan mengedipkan mata kirinya. Aku pura-pura saja tak melihatnya.

Kini matahari telah muncul seutuhnya dilangit sebelah timur, mencahayai kami semua yang berpijak di atas bumi. Kurentangkan kedua tanganku dengan telapak terbuka menghadap matahari. Dulu, April pernah berkata padaku bahwa sinar matahari pagi mengandung vitamin D, yang baik untuk tulang dan menambah sistem kekebalan tubuh. Ajaib sekali. Lalu kubalikan tubuhku 180 derajat membelakangi matahari, dengan posisi tangan masih terentang, tujuannya agar punggung dan pantatku juga ikut mendapatkan radiasi vitamin D. Kini, pandanganku tertuju pada sebuah gedung besar di depanku. Sebuah gedung paninggalan jaman Belanda, itu pertanda bahwa gedung tersebut telah berusia lebih dari 100 tahun, temboknya kokoh berwarna putih, memiliki 2 pintu besar yang saling berjejeran yang selalu dijaga oleh pak satpam, di atas pak satpam terdapat sebuah tulisan besar yang dibuat melengkung, tulisannya “RUMAH SAKIT JIWA VREDIGHEID”. Vredigheid itu artinya ketentraman, kedamaian dan ketenangan. Di gedung itu lah kami tinggal. Aku tak ingat sudah berapa tahun aku tinggal, mungkin karena akunya yang pelupa. Kulihat kaca-kaca jendela rumah sakit memantulkan cahaya matahari yang cukup menyilaukan. Aku balikkan lagi tubuhku.

Aku langsung saja berlari mendekati April yang masih melakukan senam, aku sambar tangannya, kupegang erat supaya tak lepas, lantas membuat April menjadi harus ikut berlari. Sehingga terpaksa ia tinggalkan bonekanya begitu saja di rerumputan. Kemudian, kami berdua lari pelan-pelan mengikuti lintasan kecil berkelok-kelok yang terbuat dari susunan blok paving. Menyusuri lembah sabana dan taman bunga. Kami terus berlari untuk mencapai ujung dari lintasan ini.

Aku : April, pasienmu tertinggal sendirian di halaman rumah sakit. Tak apa kan? (Maksudku adalah bonekanya)
April : Tak apa.. nanti juga dia nyusul.
Aku : Hmmm... mulai kambuh gilamu.
April : Kamu pikir kamu waras? Kamu itu kan juga gila.
Aku : Aku waras kok.
April : Kamu itu gila!
Aku :  Kalau aku gila, tak mungkin aku bisa mengendalikan kekuatan pikiranku, seperti saat ini.
April : Mmmm.... begitu? Trus?
Aku : Hatiku masih bisa merasakan aneka macam perasaan. Senang, Gembira, Sedih, Takut, Gelisah, Kaget dan Iba. Lalu kemudian aku juga bisa merefleksikan perasaan-perasaan tersebut pada gerakan tubuh.
April : Maksudnya? -___-
Aku : Disaat perasaanku sedang senang dan gembira, maka otomatis aku akan tertawa. Sebaliknya, saat perasaanku sedang sedih dan kecewa, maka otomatis pula aku akan menangis. Begitu...
April : Aah.. kalau cuma begitu, aku juga merasakannya!
Aku : Ooh.. kamu juga bisa merasakannya? Aku kira cuma aku saja. Hahaa
April : Aduuuh... makannya, jangan sok pintar. Sudah gila, sok pintar lagiii...
Aku : Ahahaa...

Kami masih berlari. Rambut panjangnya sengaja ia ikat dan gulung ke atas. Sehingga dapat aku lihat keringat di lehernya mengalir menuju pundak, membuat kerah piyamanya menjadi basah. Sesekali ia naikkan celananya yang sedikit kendor karena selalu saja melorot, aku pun begitu. Maklum, seragam khusus pasien.

Dalam gerakan slowmotion, aku benar-benar memperhatikannya: Wajahnya tampak dari samping. Rambutnya panjang kecoklatan. Dahinya lebar. Alisnya hitam lebat. Matanya menjorok kedalam. Bulu matanya hitam lentik dan asli. Hidungnya mancung dan sedikit lancip ujungnya. Pipinya terdiri dari lapisan kulit tipis berwarna kuning langsat dengan ditumbuhi bulu-bulu halus dan lesung yang begitu dalam ketika sedang tersenyum. Bibirnya terbagi menjadi dua bagian, atas dan bawah, yang berwarna merah jambu tanpa olesan lipstik. Bibir atas nampak lebih maju ketimbang bibir bawahnya. Dagunya sedikit lancip tanpa belahan. Telinganya menempel tepat disamping kanan dan kiri kepalanya yang lonjong. Sepasang anting permata hitam menembus lapisan kulit telinganya sebagai hiasan. Keseluruhan obyek menyatu dalam garis-garis anatomi yang tepat, membentuk sebuah mahakarya yang dinamakan “wajah”. April. Dia lah sebagian kecil dari ciptaan Tuhan.

Gedung rumah sakit telah hilang dari pandangan. Tak kupedulikan lagi pesan pak satpam, kini aku berada sekitar 1 kilometer dari rumah sakit. Kini background pemandangan perlahan mulai berganti. Akhirnya sampai lah kami di ujung lintasan lari, kami pun berhenti sejenak. Disebelah kanan dan kiri kami berdiri pohon-pohon karet yang batangya terdapat garis-garis bekas sayatan pisau. Tak kulihat seorang pun disekitar sini, kecuali April. Mungkin karena hari ini hari minggu, para petani lebih memilih ngaso dirumah ketimbang berkebun. Nampak di depan kami, sebuah kebun anggur yang terbentang luas, gapuranya terbuat dari bambu yang dililit tanaman Alamanda, yang berbunga warna kuning. April memegang tanganku lalu dia tariknya aku masuk ke dalam kebun anggur tersebut.

Setelah masuk ke dalam kebun, yang kurasakan adalah sejuk. Sejuk karena tanaman anggur disini memang sengaja dibuat saling merambat dan mengikat antara cabang satu dan cabang lainnya. Tepat di atas kepala kami. Dengan tangan yang masih terpegang si April, aku fokuskan pandangku ke segala penjuru. Kulihat cahaya matahari masuk melalui celah-celah dedaunan karena begitu lebatnya. Daun hijau dan daun kuning menepati posisi di bagian atas, sedangkan daun kering berserakan di bawah, di tanah. Buah anggur menempel disegala sisi, semua berwarna hijau, pertanda bahwa mereka belum matang.

April melepaskan pegangannya, kemudian melompat, mencoba meraih beberapa butir anggur dengan tangannya. Setelah berhasil ia dapatkan, tiba-tiba ia lemparkan sebutir anggur tepat di wajahku, “pyaaak”. Sebutir anggur mendarat dan pecah di dahiku. Sontak membuatku kaget.

Aku : Sialaaan... Awas yah! Aku balas
April : Coba saja kalau bisa.. Weeek..

Dengan tubuhku yang tinggi, aku tak perlu repot melompat untuk meraih serenteng anggur. Kini serenteng anggur telah aku dapatkan. Nampak April sedang mondar mandir mencari tempat mengumpat pada barisan pangkal pohon anggur tersebut. Aku dekati. Ketika ia berdiri hendak berpindah tempat sembunyi. Langsung kulempari serenteng anggur sekaligus. Dan “Praaaak”, tepat mendarat di wajah cantiknya.

Aku : Ahahahaha.... Rasain!

Aku ketawai dia dengan sepuas-puasnya. Wajahnya yang belepotan air, biji dan kulit anggur nampak memerah, sepertinya hendak menangis. Dan benar saja, ia menangis sambil duduk menutupi wajahnya.

Aku : Yaaah... begitu saja menangis..
April : Bodoh kamu! Sakit tau!
Aku : Kamu duluan yang memulai
April : Aku cuma sebutir, sedangkan kamu serenteng! Dasar.. orang gila tak berperasaan.

Setelah kupikir-pikir, benar juga. Aku sudah keterlaluan. Bisa-bisanya gadis secantik itu yang begitu aku cintai yang begitu aku sayangi, malah kusakiti. Ah.. bodohnya aku.

Aku duduk disebelahnya. Perlahan kupeluk dirinya, kubisikan kata-kata maaf ditelinganya, kubelai-belai rambutnya, kubersihkan pula sisa-sisa pecahan anggur yang menempel di wajahnya. Kurasakan tangannya menggenggam erat baju piyamaku. Isak tangisnya perlahan mulai berhenti. Aku tiup-tiup wajahnya, berharap rasa sakitnya segera terbang bersama angin.

Tiba-tiba April menatap wajahku tanpa ekspresi, matanya begitu tajam. Aku pun begitu, menatapnya dengan tajam. Memikirkan hal apa yang akan terjadi setelah ini. Perlahan April mendekatkan wajahnya padaku, lalu makin dekat dan makin dekat, hingga bibir kami akhirnya bersentuhan. Ya.. April menciumku. Dan aku pun menciumnya. Mencium sebuah bibir yang begitu sempurna bentuknya. Pertama kalinya dalam hidupku. Oh Tuhan.. betapa nikmatnya. Aku terbius kenikmatan. Tak dapat aku memikirkan hal-hal lainnya kecuali April. Lalu, ia kalungkan tanganya pada leherku, aku pun begitu, kukalungkan juga tanganku di lehernya. Dapat kulihat, bulu-bulu halus di tangannya mulai berdiri ketika kubelai daun telinganya. Aku rebahkan tubuhnya di atas tanah yang beralaskan dedaunan kering. Hembusan nafas yang keluar dari lubang hidungnya aku hirup dalam-dalam. Kini tubuhnya yang langsing nampak mengeliat setelah kuciumi lehernya, nafasnya pun mulai mengeluarkan suara desahan. Secara reflek, tangan kami berdua bergerilya mencari cari sarang persembunyian lawan. Karena terlalu nikmatnya, hingga aku tak sadarkan diri.
*
Pada sore hari sekitar jam 5, aku dibangunkan oleh pak Dokter dan 3 orang suster yang semuanya aku kenal. Aku bangun di kebun anggur yang kering dan gersang, dengan tanpa busana, sambil memeluk sebuah makam dan sebuah boneka usang yang juga tak berbusana dan berlubang di bagian alat vitalnya, aku kaget ketika melihat papan nama nisan makam tersebut bertuliskan R.I.P APRILLIA 1990. Astaga....! kegilaan macam apa ini?. Semuanya begitu nyata, sampai tak bisa kubedakan antara mimpi dan realitas, sepertinya aku memang masih harus tinggal lebih lama lagi di Rumah Sakit bersama para Dokter dan para suster yang baik dan penyabar. Pikiranku terasa lelah sekali, aku ingin pulang, semoga ini adalah realitasnya.

Aku raih pakaianku yang berserakan di tanah, lalu segera kupakai. Pak Dokter dan bu suster telah menungguku untuk membawaku pulang menuju Rumah Sakit Jiwa Vredigheid. Aku dimasukannya ke dalam mobil ambulan. Sambil menepuk nepuk pundakku, pak Dokter menceritakan jenis penyakitku, kalau tidak salah namanya Skizofrenia. Dalam perjalan pulang, masih terbayangkan sosok April dalam pikiranku, “Aprilku yang kucinta... entah siapa dirimu, entah darimana asalmu, entah bagaimana kamu datang dan entah kemana kamu pergi, aku ucapkan terima kasih yang sebesar besarnya, terima kasih telah memberiku pengalaman tak terlupa pada sebuah pagi yang lembab”.
*


Jogjakarta, 25 Juli 2015