Sabtu, 26 September 2015

KACANG TAK PERNAH LUPA KULITNYA


Sebuah Cerpen Fiksi

Di sebuah bangunan poskamling yang bercahaya kuning di bawah naungan langit yang gelap, aku menyendiri dari keramaian, bukan karena aku tak suka keramaian, lebih karena keramaian yang tak menyukaiku. Ya, aku mengerti. Begini saja sudah lebih baik, aku nikmati setiap detik waktuku hanya bersama kesunyian.

Aku pernah dengar cerita tentang sifat dasar manusia, manusia ditakdirkan sebagai makhluk sosialis, entah apa sosialis itu, mungkin maksudnya adalah makhluk yang saling membutuhkan antara satu individu terhadap individu lainnya. Namun, meskipun sama-sama terlahir sebagai seorang manusia, mengapa aku dijauhkan dari aktifitas sosialis? Mengapa mereka tak pernah mau menerimaku? Apa yang salah dariku? Begitulah segelintir kegelisahanku, yang sengaja aku tulis ungkapan kegelisahan batinku tersebut pada sebuah buku yang aku buat sendiri dari limbah kertas.

Malam begitu dingin, angin menyentuh tubuh kumalku yang bertelanjang dada, untung lah radiasi lampu 5 watt memberiku sedikit kehangatan. Di sisi lain, puluhan nyamuk beterbangan mengelilingi rambut gimbalku seakan ingin mencari tempat sembunyi, sesekali terdengar suara ayam jantan berkokok, aku menduga ini tidak lagi malam, tetapi telah berlanjut menuju dini hari. Pantas, Poskamling hanya menyisakan sebuah tikar usang dengan taburan sampah kulit kacang di atasnya.

Di dalam keheningan, tiba-tiba kurasakan gerakan kecil kulit-kulit kacang mendekat kearahku, entah kau percaya atau tidak, itulah yang aku lihat dengan mata kepalaku. Satu persatu kulit kacang bergerak dan berkumpul membentuk barisan menghadap ke arahku, bahkan sebagaian dari mereka berloncatan bergantian dengan suaranya yang lucu “cuw..cuw..cuw..”. Ku katakan lagi, entah kau percaya atau tidak, itulah yang aku dengar dari telingaku. Beberapa menit kemudian kulit-kulit kacang tersebut telah berkumpul rapih tepat di depanku. Kupandangi mereka dengan seksama, tak ada yang berbeda, semua sama, hanya kulit kacang. Salah satu kulit kacang yang berada di barisan paling depan tiba-tiba bersuara lalu berkata padaku “Aku punya suatu cerita untukmu”. Dalam hati, sesungguhnya aku ingin tertawa, mendengar kulit kacang memiliki sebuah cerita. Aku mulai penasaran, dan dialog dini hari pun terjadi.

Aku : Sebelum kau menyampaikan cerita, tolong perkenalkan dulu dirimu beserta teman-temanmu.

Kulit Kacang 1 : Mengapa aku harus memperkenalkan diriku dan teman-temanku?

Aku : Hmm... Agar aku bisa menyayangimu.

Kulit Kacang 1 : Apa hubungannya? Jangan bodoh kau.

Aku : Aku ingat, Pepatah pernah berkata “Tak kenal maka tak sayang”.

Kulit Kacang 1 : Pepatah? Siapa pula Pepatah itu? Manusia kah?

Aku : Ah.. pertanyaan macam apa itu, baru kali ini kudengar.. sial..

Kulit Kacang 3 : Lalu, menurutmu siapa Pepatah itu?

Memang benar, dalam benakku, sesungguhnya aku pun tak pernah tau siapa dan apa itu Pepatah. Pertanyaan Kulit Kacang tersebut membuatku bertanya tanya pula. Disisi lain aku juga tak ingin terlihat bodoh dan kikuk di depan mereka. Maka segera aku menjawab.

Aku : Pepatah adalah golongan manusia-manusia yang bijaksana. Kalimat-kalimat bijak yang mereka buat merupakan sebuah pesan yang memiliki arti mendalam. Kira-kira begitu.

Kulit Kacang 3 : Benar begitu?

Aku : Ah.. salah pun tak apa, kebenaran hanya lah masalah kesepakatan. Jika kita sama-sama sepakat bahwa pendapatku benar, maka jadilah benar.

Kulit Kacang 1 & 3 : Ya.. tentu kami sepakat, bahwa pendapatmu benar.

Aku : Kalau begitu, lekas perkenalkan siapa kalian?

Suara jangkrik menyebar dari segala penjuru, padahal sepanjang yang kuketahui tak ada pohon ataupun semak di sekitarku. Poskamling ini terhimpit oleh bangunan rumah di samping kanan, kiri dan belakang yang begitu padat. Jalan aspal di depan poskamling ini pun hanya cukup untuk dilewati 1 buah mobil.

Kulit Kacang 1 : Perkenalkan, kami adalah Kulit Kacang yang sedang merindu.

Aku : Wahai Kulit Kacang yang sedang merindu, cerita apa yang ingin kau sampaikan?

Kulit Kacang 1 : Ini tentang saudara kami, saudara yang sejak lahir kami lindungi dan kami jaga dengan segenap kekuatan. Bahkan hingga mereka tumbuh menjadi dewasa dan matang. Dan entah mengapa, di puncak kedewasaan mereka, selalu saja mereka meninggalkan kami tanpa ucap satu kata pun. Bahkan, tersenyum pada kami pun tidak. Pada saat itu pula, kami mulai mengerti, saudara kami terlahir sebagai sosok yang tak pernah berterima kasih. Kekecewaan kami berbuah kebencian.

Aku : Ya.. aku mengerti kekecewaanmu, ditinggalkan tanpa pesan memang menyakitkan.

Kulit Kacang 1 : Ya.. kau benar

Suara burung gagak menggema di atas atap Pos Kamling, nyamuk-nyamuk pun masih bersemangat terbang bebas berkeliling di bawah lampu yang hangat. Sejenak aku terdiam dalam lamunan, mencari-cari kalimat untuk menanggapi pernyataan para Kulit Kacang yang sedari tadi dirundung kegelisahan. Semakin lama aku mencari, semakin tak kutemukan pula pikiranku tentang solusi permasalahan para Kulit Kacang tersebut. Sementara itu, sebagian dari para Kulit Kacang wajahnya tampak mulai mengantuk lalu menguap selebar-lebarnya.

Tidak lama setelah itu, tiba-tiba terlihat gerakan-gerakan kecil dari arah pojok Pos Kamling, yang kulihat adalah sebuah bungkus korek api kayu kecil yang bergerak-gerak. Aku ambil lalu kemudian aku buka.

Alangkah kagetnya aku ketika sebutir Kacang melompat dari dalam bungkus korek api, lalu berdiri tegak diantara aku dan para Kulit Kacang. Sontak membuat para Kulit Kacang kehilangan rasa kantuknya. Tampak wajah tegang diseluruh wajah mereka. Akhirnya dialog pun terjadi.

Aku : Waw.. Sepertinya ada tamu tak diundang disini.

Kacang : Diam kau lelaki bodoh! Gila! Ini bukan urusanmu!

Aku : Lalu apa urusanmu?

Kacang : Aku..

Kulit Kacang 4 : Hey.. kau! Saudara kurang ajar! Tak tahu berbalas budi!

Kulit Kacang 1 : Kami sudah muak melihatmu, jangan harap kau bisa meminta perlindungan dari kami. Pergi kau!

Kulit Kacang 13 : Kau selalu pergi meninggalkan kami, tanpa satu pesan pun!

Kulit Kacang 1 : Pergi Kau! Kacang sialan!

Dalam ketegangan yang tak kuketahui perkaranya, sejenak aku merenung menembus pikiran masa lampau, membuatku ingat beberapa petuah papatah, pepatah pernah berkata “Kacang Lupa Kulitnya”. Mungkinkah kejadian ini yang menjadi dasar pemikiran pepatah tersebut? Ah.. mungkin saja.

Aku : Kau! “Kacang Lupa Kulitnya”

Kacang : Dengar!!! Aku tak seperti yang kalian pikirkan!

Kulit Kacang 1 : Kau itu “Kacang Lupa Kulitnya” Pergi kau!

Kacang : Dengar!!! Sungguh aku tak pernah lupa pada kulitku.

Kulit Kacang 1 : Hmm.. Omong kosong!

Kacang : Dengar!!! “Kacang tak pernah lupa Kulitnya”, Ingat itu. Manusia lah yang memisahkan kita, lalu kemudian mereka merampas ragaku dari lindungan kalian. Jangan kalian pikir aku seenaknya meninggalkan kalian tanpa pesan. Perlu kalian ketahui, aku bisa berdiri disini dihadapan kalian bukan lah hal yang mudah. Aku satu-satunya kacang yang berhasil lolos dari cengkeraman manusia.

Kulit Kacang 1 : Apa maksudmu cengkeraman manusia?

Kacang : Wahai saudaraku, sesungguhnya para Kacang menjadi santapan para manusia setelah merampasnya dari kalian, saudaraku.

Kacang mulai berjalan memasuki kerumunan para Kulit Kacang, kemudian mereka saling berpelukan. Terdengar isak tangis memecah keheningan malam. Aku hanya terdiam dalam kebingungan.

Kini pandangan mereka ditujukan padaku dengan mata-mata yang menyipit dan tangan yang mengepal. Aku mulai paham, sebentar lagi aku akan dibenci mereka, karena aku manusia.

Suara burung Gagak di atas atap Pos Kamling mengiringi langkahku untuk segera meninggalkan mereka.

***