Tampilkan postingan dengan label Galeri Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Galeri Cerpen. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 26 September 2015

KACANG TAK PERNAH LUPA KULITNYA


Sebuah Cerpen Fiksi

Di sebuah bangunan poskamling yang bercahaya kuning di bawah naungan langit yang gelap, aku menyendiri dari keramaian, bukan karena aku tak suka keramaian, lebih karena keramaian yang tak menyukaiku. Ya, aku mengerti. Begini saja sudah lebih baik, aku nikmati setiap detik waktuku hanya bersama kesunyian.

Aku pernah dengar cerita tentang sifat dasar manusia, manusia ditakdirkan sebagai makhluk sosialis, entah apa sosialis itu, mungkin maksudnya adalah makhluk yang saling membutuhkan antara satu individu terhadap individu lainnya. Namun, meskipun sama-sama terlahir sebagai seorang manusia, mengapa aku dijauhkan dari aktifitas sosialis? Mengapa mereka tak pernah mau menerimaku? Apa yang salah dariku? Begitulah segelintir kegelisahanku, yang sengaja aku tulis ungkapan kegelisahan batinku tersebut pada sebuah buku yang aku buat sendiri dari limbah kertas.

Malam begitu dingin, angin menyentuh tubuh kumalku yang bertelanjang dada, untung lah radiasi lampu 5 watt memberiku sedikit kehangatan. Di sisi lain, puluhan nyamuk beterbangan mengelilingi rambut gimbalku seakan ingin mencari tempat sembunyi, sesekali terdengar suara ayam jantan berkokok, aku menduga ini tidak lagi malam, tetapi telah berlanjut menuju dini hari. Pantas, Poskamling hanya menyisakan sebuah tikar usang dengan taburan sampah kulit kacang di atasnya.

Di dalam keheningan, tiba-tiba kurasakan gerakan kecil kulit-kulit kacang mendekat kearahku, entah kau percaya atau tidak, itulah yang aku lihat dengan mata kepalaku. Satu persatu kulit kacang bergerak dan berkumpul membentuk barisan menghadap ke arahku, bahkan sebagaian dari mereka berloncatan bergantian dengan suaranya yang lucu “cuw..cuw..cuw..”. Ku katakan lagi, entah kau percaya atau tidak, itulah yang aku dengar dari telingaku. Beberapa menit kemudian kulit-kulit kacang tersebut telah berkumpul rapih tepat di depanku. Kupandangi mereka dengan seksama, tak ada yang berbeda, semua sama, hanya kulit kacang. Salah satu kulit kacang yang berada di barisan paling depan tiba-tiba bersuara lalu berkata padaku “Aku punya suatu cerita untukmu”. Dalam hati, sesungguhnya aku ingin tertawa, mendengar kulit kacang memiliki sebuah cerita. Aku mulai penasaran, dan dialog dini hari pun terjadi.

Aku : Sebelum kau menyampaikan cerita, tolong perkenalkan dulu dirimu beserta teman-temanmu.

Kulit Kacang 1 : Mengapa aku harus memperkenalkan diriku dan teman-temanku?

Aku : Hmm... Agar aku bisa menyayangimu.

Kulit Kacang 1 : Apa hubungannya? Jangan bodoh kau.

Aku : Aku ingat, Pepatah pernah berkata “Tak kenal maka tak sayang”.

Kulit Kacang 1 : Pepatah? Siapa pula Pepatah itu? Manusia kah?

Aku : Ah.. pertanyaan macam apa itu, baru kali ini kudengar.. sial..

Kulit Kacang 3 : Lalu, menurutmu siapa Pepatah itu?

Memang benar, dalam benakku, sesungguhnya aku pun tak pernah tau siapa dan apa itu Pepatah. Pertanyaan Kulit Kacang tersebut membuatku bertanya tanya pula. Disisi lain aku juga tak ingin terlihat bodoh dan kikuk di depan mereka. Maka segera aku menjawab.

Aku : Pepatah adalah golongan manusia-manusia yang bijaksana. Kalimat-kalimat bijak yang mereka buat merupakan sebuah pesan yang memiliki arti mendalam. Kira-kira begitu.

Kulit Kacang 3 : Benar begitu?

Aku : Ah.. salah pun tak apa, kebenaran hanya lah masalah kesepakatan. Jika kita sama-sama sepakat bahwa pendapatku benar, maka jadilah benar.

Kulit Kacang 1 & 3 : Ya.. tentu kami sepakat, bahwa pendapatmu benar.

Aku : Kalau begitu, lekas perkenalkan siapa kalian?

Suara jangkrik menyebar dari segala penjuru, padahal sepanjang yang kuketahui tak ada pohon ataupun semak di sekitarku. Poskamling ini terhimpit oleh bangunan rumah di samping kanan, kiri dan belakang yang begitu padat. Jalan aspal di depan poskamling ini pun hanya cukup untuk dilewati 1 buah mobil.

Kulit Kacang 1 : Perkenalkan, kami adalah Kulit Kacang yang sedang merindu.

Aku : Wahai Kulit Kacang yang sedang merindu, cerita apa yang ingin kau sampaikan?

Kulit Kacang 1 : Ini tentang saudara kami, saudara yang sejak lahir kami lindungi dan kami jaga dengan segenap kekuatan. Bahkan hingga mereka tumbuh menjadi dewasa dan matang. Dan entah mengapa, di puncak kedewasaan mereka, selalu saja mereka meninggalkan kami tanpa ucap satu kata pun. Bahkan, tersenyum pada kami pun tidak. Pada saat itu pula, kami mulai mengerti, saudara kami terlahir sebagai sosok yang tak pernah berterima kasih. Kekecewaan kami berbuah kebencian.

Aku : Ya.. aku mengerti kekecewaanmu, ditinggalkan tanpa pesan memang menyakitkan.

Kulit Kacang 1 : Ya.. kau benar

Suara burung gagak menggema di atas atap Pos Kamling, nyamuk-nyamuk pun masih bersemangat terbang bebas berkeliling di bawah lampu yang hangat. Sejenak aku terdiam dalam lamunan, mencari-cari kalimat untuk menanggapi pernyataan para Kulit Kacang yang sedari tadi dirundung kegelisahan. Semakin lama aku mencari, semakin tak kutemukan pula pikiranku tentang solusi permasalahan para Kulit Kacang tersebut. Sementara itu, sebagian dari para Kulit Kacang wajahnya tampak mulai mengantuk lalu menguap selebar-lebarnya.

Tidak lama setelah itu, tiba-tiba terlihat gerakan-gerakan kecil dari arah pojok Pos Kamling, yang kulihat adalah sebuah bungkus korek api kayu kecil yang bergerak-gerak. Aku ambil lalu kemudian aku buka.

Alangkah kagetnya aku ketika sebutir Kacang melompat dari dalam bungkus korek api, lalu berdiri tegak diantara aku dan para Kulit Kacang. Sontak membuat para Kulit Kacang kehilangan rasa kantuknya. Tampak wajah tegang diseluruh wajah mereka. Akhirnya dialog pun terjadi.

Aku : Waw.. Sepertinya ada tamu tak diundang disini.

Kacang : Diam kau lelaki bodoh! Gila! Ini bukan urusanmu!

Aku : Lalu apa urusanmu?

Kacang : Aku..

Kulit Kacang 4 : Hey.. kau! Saudara kurang ajar! Tak tahu berbalas budi!

Kulit Kacang 1 : Kami sudah muak melihatmu, jangan harap kau bisa meminta perlindungan dari kami. Pergi kau!

Kulit Kacang 13 : Kau selalu pergi meninggalkan kami, tanpa satu pesan pun!

Kulit Kacang 1 : Pergi Kau! Kacang sialan!

Dalam ketegangan yang tak kuketahui perkaranya, sejenak aku merenung menembus pikiran masa lampau, membuatku ingat beberapa petuah papatah, pepatah pernah berkata “Kacang Lupa Kulitnya”. Mungkinkah kejadian ini yang menjadi dasar pemikiran pepatah tersebut? Ah.. mungkin saja.

Aku : Kau! “Kacang Lupa Kulitnya”

Kacang : Dengar!!! Aku tak seperti yang kalian pikirkan!

Kulit Kacang 1 : Kau itu “Kacang Lupa Kulitnya” Pergi kau!

Kacang : Dengar!!! Sungguh aku tak pernah lupa pada kulitku.

Kulit Kacang 1 : Hmm.. Omong kosong!

Kacang : Dengar!!! “Kacang tak pernah lupa Kulitnya”, Ingat itu. Manusia lah yang memisahkan kita, lalu kemudian mereka merampas ragaku dari lindungan kalian. Jangan kalian pikir aku seenaknya meninggalkan kalian tanpa pesan. Perlu kalian ketahui, aku bisa berdiri disini dihadapan kalian bukan lah hal yang mudah. Aku satu-satunya kacang yang berhasil lolos dari cengkeraman manusia.

Kulit Kacang 1 : Apa maksudmu cengkeraman manusia?

Kacang : Wahai saudaraku, sesungguhnya para Kacang menjadi santapan para manusia setelah merampasnya dari kalian, saudaraku.

Kacang mulai berjalan memasuki kerumunan para Kulit Kacang, kemudian mereka saling berpelukan. Terdengar isak tangis memecah keheningan malam. Aku hanya terdiam dalam kebingungan.

Kini pandangan mereka ditujukan padaku dengan mata-mata yang menyipit dan tangan yang mengepal. Aku mulai paham, sebentar lagi aku akan dibenci mereka, karena aku manusia.

Suara burung Gagak di atas atap Pos Kamling mengiringi langkahku untuk segera meninggalkan mereka.

***

Selasa, 04 Agustus 2015

SEBUAH PAGI YANG BASAH DAN AGUSTAS YANG HILANG


Sebuah cerpen lanjutan dari cerita sebelumnya:
Sebuah Pagi yang Lembab dan April yang Cantik.

Catatan April kepada Agustas:

“Haruskah ku katakan bahwa sesungguhnya aku juga mencintaimu, Gus? Kurasa tak perlu lagi kukatakan, percuma. Pastinya, kau pun sudah tahu jawabannya, Gus. Jawaban yang sekiranya mungkin membuatmu bahagia. Namun setelah itu kenyataannya, kita dibuat bersedih oleh perpisahan yang tiba-tiba datang tanpa permisi. Sebuah pagi yang lembab, pepohonan anggur yang rimbun, kicauan burung yang bersahutan, cahaya matahari yang menembus dedaunan dan tentunya dirimu yang kucintai. Yang kini juga aku rindui. Semuanya lenyap dalam sekejapan mata”.

Pagi itu, kita sama sama merasakan betapa surga telah berada di sekitaran kita, di kebun anggur yang rimbun. Ketika itu sentuhanmu telah sampai pada puncak titik kesempurnaanku. Dan ketika itu juga sentuhanku pun telah sampai pada puncak titik pencapaianmu. Semua menyatu dalam balutan sejuta rasa. Namun, pada pencapaian kita yang terakhir, dalam sekejap mata, akhirnya kita semua menghilang, hilang bersama dunianya masing-masing. Yang kuketahui, sesungguhnya hanya kau lah yang menghilang. Aku tetap disini di duniaku, terdampar di dalam sebuah pagi yang selalu lembab.

Agustasku yang tercinta, aku masih disini, ya masih disini. Di dalam sebuah pagi yang entah kenapa selalu lembab. Apakah kau mengerti, Gus? Kurasa tidak. Namun, tak apa lah jika kau tak mengerti dan tak mengetahui. Nanti kau akan tahu sendiri, Gus.

Aku teringat kembali ceritamu dahulu tentang penyakit jiwa yang kau derita sejak kecil. Kau bercerita, penyakit itu bernama Skizofrenia. Kau mengucapkan nama tersebut dengan sedikit gagu. Sepanjang yang kuketahui, penyakit tersebut menimbulkan gejala halusinasi dan paranoid bagi penderitanya. Ketika itu aku mulai sadar dan mengerti, Gus. Sesungguhnya bukan aku yang gila, tapi kau. Itu lah sebabnya terkadang aku tersinggung ketika kau ejek aku dengan sebutan “Wanita Gila”. Marahku itu mewakili perasaanku yang sesungguhnya ingin menginterupsi bahwa kau lah yang gila. Namun, aku juga tak boleh semena-mena mangatakan kau gila, sesungguhnya kau hanya sakit.

Tentang sakitmu yang entah darimana asalnya, pastinya pikiranmu telah dijejali gangguan halusinasi yang kemudian membuatku benar-benar mengerti, aku dan duniaku hanyalah halusinasimu, hanyalah buah pikiranmu. Lantas, apakah semua yang kuketahui itu membuatku sedih dan kecewa? Awalnnya iya, aku sedikit sedih. Betapa tidak, diriku yang kulihat di cermin begitu cantik, lengkap dengan aksesorisnya sebagai wanita remaja, bahkan lengkap pula dengan suasana sebuah pagi yang lembab, ternyata semua hanyalah semu belaka. Namun, seiring berjalannya waktu Gus, aku mulai terbiasa, aku mulai nyaman ketika bersamamu. Sosokmu begitu nyata, begitu pula diriku bagi dirimu. Tak ada satu orang pun yang ku kenal selain dirimu. Hari-hari bersamamu membuatku benar-benar lupa akan kesemuan diriku. Sudah kuanggap bahwa ini lah aku yang sesungguhnya, yang memiliki tubuh berbentuk wanita beserta segala pikiranku, sepengetahuanku.

Agustasku yang tersayang, kau adalah penciptaku, beserta sebuah pagi yang lembab sebagai latar panggungnya, membuatku menjadi hidup untuk ikut berperan serta di dalamnya sebagai aktrisnya, sedangkan kau merangkap sebagai aktor dan sekaligus sutradaranya. Sungguh begitu indah buah imajinasimu itu Gus, segala puji kutumpahkan kepadamu. Harus kah kusebut kau sebagai Tuhanku? Kurasa tidak perlu, cukup dalam pikiran saja.

Ingin aku bertanya padamu, apakah jauh sebelum aku diciptakan, saat itu kau sedang memikirkan seorang wanita? Apakah ketika itu kau sedang merasa kesepian dan membutuhkan sosok perempuan? Sehingga halusinasi yang muncul dalam pikiranmu adalah sosokku? Kali ini aku tak dapat menebak pikiranmu, Gus. Terlebih lagi kau adalah penciptaku, takkan mampu aku membaca pikiranmu.

Seiring dengan hilangnya dirimu kini, apakah halusinasimu tentang aku dan duniaku ini juga berakhir? Aku yakin pasti iya.

Kebersamaan kita di kebun anggur itu menjadi saksi perpisahan kita. Aku meyakini kemungkinan “Puncak Kenikmatan” kita bersama ketika itu menjadi penyebab hilangnya halusinasimu, sehingga musnah lah pula aku dari pikiranmu. Kalau memang itu penyebabnya, aku tak harus merasa bersalah padamu kan Gus? Itu artinya, kau mulai sembuh dari sakitmu, walaupun kesembuhanmu begitu menyakitkan untukku, setidaknya kau mulai bisa hidup dengan segala kenyataanmu. Terpaksa aku harus bahagia.

Sebuah pagi yang lembab yang kau ciptakan ini, kini telah menjadi sebuah pagi yang basah, gerimis mengguyuriku tanpa henti. Apakah kini kau sedang bersedih Gus? Atau sedang menangis? Sehingga langitku menjadi gerimis tiada henti? Aku mohon padamu Gus, hentikan kedehihanmu, aku kedinginan disini. Bergembira lah karena pulihnya jiwamu, aku ingin tersentuh hangatnya mentari di ufuk timur.

Agustasku yang sungguh-sungguh kurindui. Kelak jika suatu hari kau memikirkanku lagi, aku akan datang padamu.

***

Aprillia, 4 Agustus 1990

Jogjakarta, 4 Agustus 2015

Sabtu, 25 Juli 2015

SEBUAH PAGI YANG LEMBAB DAN APRIL YANG CANTIK


Hanya Cerpen Fiksi

Pagi yang lembab bercampur butiran embun yang menempel di kaca jendela kamarku yang tak bergorden. Hawa dinginnya mengalir masuk melalui 2 ventilasi di atas jendela yang terbuat dari kayu, dinginnya menyebar cepat ke seluruh ruangan kamar yang hanya berukuran 3 meter kali 3 meter. Membuatku makin malas beranjak dari kasur dan selimutku. Aku gulingkan tubuhku ke samping kiri dan kutekuk kedua kakiku agar dapat masuk ke dalam selimut seutuhnya, karena memang ukuran selimutku yang tak sesuai dengan panjang tubuhku, selimutku terlalu kecil karena hanya terbuat dari handuk bekas. Terdengar dari kejauhan, suara kokokan ayam jago yang saling bersahut sahutan sebagai alarm alami penanda pagi telah tiba. Dari posisi tidur tertutup handuk, aku intip sebentar pandanganku kearah jendela yang berteralis besi itu, tak nampak sinar matahari menembus kaca. Mungkin sedang mendung pikirku. Atau mungkin masih terlalu pagi. Lalu aku kembali masuk ke dalam selimut handuk. Dengan mata sayup-sayup aku perhatikan arlojiku, waktu menunjukkan tepat jam 5.

Tak lama kemudian. Aku bergegas saja untuk bangun, aku ingat hari ini hari minggu, aku ada janji lari pagi dengan April, sahabatku. Lekas aku berdiri menghadap cermin yang kacanya telah retak-retak dan berjamur, sehingga tubuhku juga nampak patah-patah. Dengan lebih mendekat ke cermin, aku bersihkan kotoran yang menempel di pinggiran mataku. Lalu kuminum segelas air putih yang ada di atas meja kayu dan aku semburkan airnya ke arah cermin, di cermin terlihat tubuhku seolah-olah patah-patah dan meleleh. Aku tertawa sejenak, bukan karena sedang lucu, melainkan sedang bersemangat.

Dengan pakaian serba putih yang telah aku gosoki dengan kapur barus, aku mulai buka pintu kamarku dengan perlahan, eh maksudku dengan tangan. Kemudian aku keluar. Lampu-lampu lorong sudah dipadamkan, jadi sedikit gelap. Nampak seorang suster tua berjalan di depanku sambil membawa keranjang sayur di tangan kiri dan kanannya, sepertinya baru pulang dari belanja di pasar. “Selamat pagi mas Agus...” Sapa suster tua itu kepadaku. “Selamat pagi juga sus...” Jawabku sambil tersenyum. “Tumben.. mas Agus sudah bangun pagi-pagi begini?” Tanya suster tua itu. “Mau lari pagi sus, biar sehat jiwa raga.” Jawabku. Kemudian suster tua tersebut kembali berjalan.

Di dalam lorong yang sedikit gelap ini terdapat 20 kamar yang warna pintunya sama yaitu abu-abu, bentuk pintunya juga sama yaitu persegi panjang, dan ukuran kamarnya juga sama yaitu 3 kali 3 meter. 19 kamar diantaranya telah berpenghuni. Aku sendiri menghuni kamar nomor 14. Kamar yang tak berpenghuni tepat berada disebelah kiri kamarku, yaitu kamar nomor 13. Nah, April, sahabatku yang cantik berada di sebelah kiri kamar kosong tersebut, kamar nomor 12. Kami bertetangga dekat, hanya 6 langkah. Maka, ku segerakan melangkahkan kakiku 6 kali kearah kiri menuju depan kamar April. Akhirnya aku sampai juga di depan pintu kamar April dengan selamat. Di tengah pintunya terdapat tempelan angka 12 yang terbuat dari bahan kertas stiker, di bawah stiker angka 12 terdapat tulisan kecil menggunakan spidol hitam “Awas yang punya anjing galak!”. Aku tau, itu adalah tulisanku. Karena aku juga tau, April itu sejenis manusia yang galak, apalagi setelah anjing labrador hitamnya mati seminggu yang lalu karena kegilaannya. Bayangkan saja, anjingnya sendiri ia suntik menggunakan cairan avtur, hanya karena obsesi April yang ingin menjadi seorang dokter. Haha... dasar orang gila! Orang gila cantik sih.

Dari dalam kamarnya kudengar ia sedang asyik berbicara entah dengan siapa menggunakan bahasa yang tidak aku ketahui. Lalu tanpa mengetuk pintu, aku langsung membuka pintu kamarnya yang tak dikunci, dengan perlahan. Aku intip sedikit, nampak ia sedang mengobrol dengan sebuah boneka plastik berwujud bayi perempuan berambut pirang bergaun motif bunga-bunga. Kulihat April masih merebah di atas kasurnya sambil memeluk boneka tersebut di tangan kirinya. Kini matanya tertuju padaku, dan akhirnya muncul dialog:

April : Hey.. Agus! Masuk kantor orang nggak ketok-ketok dulu!
Aku : Hah.. kantor? Hmm... gilanya makin parah ini anak.
April : Ini kantorku, tempat aku praktek. Aku ini dokter yaah..
Aku : Hmm... Praktek apa sih?
April : Ya macem-macem lah, kebetulan ini lagi ada pasien seorang gadis kecil keturunan Belanda.
Aku : Sakit apa gadis kecil ini? (Aku bertanya sambil menutup mulutku karena menahan tawaku yang hampir pecah).

April mencubit lenganku dengan gemasnya, aku tahan sekuat-kuatnya karena tak mungkin aku tega membalas cubitannya. Terlalu cantik untuk disakiti, bahkan ia pun sebenarnya sedang sakit, sakit jiwanya. Dengan memandang wajahnya saja, seolah menjadi pembius rasa nyeriku.

April : Awas yah kalau berani meledekku lagi! Aku cubit lebih keras lagi!
Aku : Nggak nggak nggak.. Ampun deh...
April : Awaaas...
Aku : Hehehe... Eh, ayo kita lari pagi, kan kemaren kita udah sepakat mau lari pagi?
April : O... iya, aku lupa! Tunggu sebentar, aku ganti pakaian dulu. Tolong, pintunya ditutup sedikit ya Gus..
Aku : Hah? Ganti disini?
April : Iya, ada yang aneh?
Aku : Nggak.

Ya Tuhan, aku tutup sedikit pintunya. Jantungku langsung berdebar kencang, darahku mengalir naik hingga ujung kepala, mata kubuka lebar-lebar tanpa berkedip, sebentar lagi akan aku saksikan pemandangan indah luar biasa atas ciptaan-Nya yang Maha Agung. April!!!

Aku : Buseeeet! Yang ganti baju, bonekamu?
April : Heh! Ini pasienku!
Aku : yaa... ya itu, maksudku. Yang ganti baju pasienmu?
April : Ya iya laah.. Pasienku kan lagi sakit, dia harus ikut joging, banyak-banyak menghirup udara pagi yang sejuk.
Aku : Ooooh...

Rasa rasanya ingin kujedotkan kepalaku ini ke kasur! Kukira dia yang mau berganti pakaian, malah bonekanya yang diganti pakaiannya. Gilaaa....!

Kini bonekanya telah siap dengan pakaian mungil yang lebih ketat. Sementara itu, aku dan April mengenakan pakaian yang sama, sejenis piyama berwarna serba putih. Sebotol air mineral milik April telah aku bawa, karena April harus menggendong bonekanya, nyatanya bonekanya memang tak bisa berjalan apalagi berlari. Kami berjalan menelusuri lorong yang masih tetap gelap untuk menuju pintu keluar. Tepat di depan pintu keluar, pak satpam menyapaku “Selamat pagi mas Agus.. jangan keluar jauh-jauh yaa..”. “Siap... Pak!” Jawabku.

Sebuah taman yang berisi rerumputan hijau dan aneka bunga, membentang luas di depan pintu yang dijagai oleh pak Satpam. Kami berjalan ke arah lembah rumput yang agak luas. Kulihat di cakrawala sebelah timur, langit mulai membentuk warna gradasi jingga biru dengan sedikit awan. Beberapa ekor ayam jago mondar mandir mencari tanah yang bisa dipatuk-patuk. Beberapa suster juga kulihat mondar mandir, ada yang menyiram bunga, menyapu dedaunan kering, membaca koran, dan senam. Para penghuni kamar lainnya tak kulihat, karena masih asyik dengan mimpinya masing-masing di kamar. Kulihat juga April sedang meletakan bonekanya di rumput yang ada di depannya, mungkin si April ingin mengajarkan gerakan-gerakan senam kepada bonekanya. Tak lama kemudian, ia mulai melakukan gerakan senam dengan gaya semau-maunya, seperti gaya vokalis Band Metal yang sedang manggung. Mengibaskan rambutnya keatas dan kebawah berkali-kali. Dasar aneh!.

Aku hirup udara yang lembab ini dalam-dalam, agar oksigennya masuk keseluruh organ tubuh. Lalu aku pun mulai melakukan senam dengan wajar sambil sesekali tertawa melihat tingkah April yang makin menjadi-jadi. Aku heran, gadis secantik dia bisa bertingkah tolol seperti itu. Tadi senam bergaya vokalis Band Metal, lalu senam bergaya pantomim robot-robotan, sekarang senam bergaya pemain tinju. Ya ampuuun. Tapi, apapun gayanya, wajahnya tetap mempesona. Rambutnya yang panjang berwarna coklat, kini mulai berubah menjadi jingga disetiap ujungnya, karena cahaya matahari mulai memasuki kawasan yang kami pijaki. Sesekali ia palingkan wajahnya kearahku sambil tersenyum dan mengedipkan mata kirinya. Aku pura-pura saja tak melihatnya.

Kini matahari telah muncul seutuhnya dilangit sebelah timur, mencahayai kami semua yang berpijak di atas bumi. Kurentangkan kedua tanganku dengan telapak terbuka menghadap matahari. Dulu, April pernah berkata padaku bahwa sinar matahari pagi mengandung vitamin D, yang baik untuk tulang dan menambah sistem kekebalan tubuh. Ajaib sekali. Lalu kubalikan tubuhku 180 derajat membelakangi matahari, dengan posisi tangan masih terentang, tujuannya agar punggung dan pantatku juga ikut mendapatkan radiasi vitamin D. Kini, pandanganku tertuju pada sebuah gedung besar di depanku. Sebuah gedung paninggalan jaman Belanda, itu pertanda bahwa gedung tersebut telah berusia lebih dari 100 tahun, temboknya kokoh berwarna putih, memiliki 2 pintu besar yang saling berjejeran yang selalu dijaga oleh pak satpam, di atas pak satpam terdapat sebuah tulisan besar yang dibuat melengkung, tulisannya “RUMAH SAKIT JIWA VREDIGHEID”. Vredigheid itu artinya ketentraman, kedamaian dan ketenangan. Di gedung itu lah kami tinggal. Aku tak ingat sudah berapa tahun aku tinggal, mungkin karena akunya yang pelupa. Kulihat kaca-kaca jendela rumah sakit memantulkan cahaya matahari yang cukup menyilaukan. Aku balikkan lagi tubuhku.

Aku langsung saja berlari mendekati April yang masih melakukan senam, aku sambar tangannya, kupegang erat supaya tak lepas, lantas membuat April menjadi harus ikut berlari. Sehingga terpaksa ia tinggalkan bonekanya begitu saja di rerumputan. Kemudian, kami berdua lari pelan-pelan mengikuti lintasan kecil berkelok-kelok yang terbuat dari susunan blok paving. Menyusuri lembah sabana dan taman bunga. Kami terus berlari untuk mencapai ujung dari lintasan ini.

Aku : April, pasienmu tertinggal sendirian di halaman rumah sakit. Tak apa kan? (Maksudku adalah bonekanya)
April : Tak apa.. nanti juga dia nyusul.
Aku : Hmmm... mulai kambuh gilamu.
April : Kamu pikir kamu waras? Kamu itu kan juga gila.
Aku : Aku waras kok.
April : Kamu itu gila!
Aku :  Kalau aku gila, tak mungkin aku bisa mengendalikan kekuatan pikiranku, seperti saat ini.
April : Mmmm.... begitu? Trus?
Aku : Hatiku masih bisa merasakan aneka macam perasaan. Senang, Gembira, Sedih, Takut, Gelisah, Kaget dan Iba. Lalu kemudian aku juga bisa merefleksikan perasaan-perasaan tersebut pada gerakan tubuh.
April : Maksudnya? -___-
Aku : Disaat perasaanku sedang senang dan gembira, maka otomatis aku akan tertawa. Sebaliknya, saat perasaanku sedang sedih dan kecewa, maka otomatis pula aku akan menangis. Begitu...
April : Aah.. kalau cuma begitu, aku juga merasakannya!
Aku : Ooh.. kamu juga bisa merasakannya? Aku kira cuma aku saja. Hahaa
April : Aduuuh... makannya, jangan sok pintar. Sudah gila, sok pintar lagiii...
Aku : Ahahaa...

Kami masih berlari. Rambut panjangnya sengaja ia ikat dan gulung ke atas. Sehingga dapat aku lihat keringat di lehernya mengalir menuju pundak, membuat kerah piyamanya menjadi basah. Sesekali ia naikkan celananya yang sedikit kendor karena selalu saja melorot, aku pun begitu. Maklum, seragam khusus pasien.

Dalam gerakan slowmotion, aku benar-benar memperhatikannya: Wajahnya tampak dari samping. Rambutnya panjang kecoklatan. Dahinya lebar. Alisnya hitam lebat. Matanya menjorok kedalam. Bulu matanya hitam lentik dan asli. Hidungnya mancung dan sedikit lancip ujungnya. Pipinya terdiri dari lapisan kulit tipis berwarna kuning langsat dengan ditumbuhi bulu-bulu halus dan lesung yang begitu dalam ketika sedang tersenyum. Bibirnya terbagi menjadi dua bagian, atas dan bawah, yang berwarna merah jambu tanpa olesan lipstik. Bibir atas nampak lebih maju ketimbang bibir bawahnya. Dagunya sedikit lancip tanpa belahan. Telinganya menempel tepat disamping kanan dan kiri kepalanya yang lonjong. Sepasang anting permata hitam menembus lapisan kulit telinganya sebagai hiasan. Keseluruhan obyek menyatu dalam garis-garis anatomi yang tepat, membentuk sebuah mahakarya yang dinamakan “wajah”. April. Dia lah sebagian kecil dari ciptaan Tuhan.

Gedung rumah sakit telah hilang dari pandangan. Tak kupedulikan lagi pesan pak satpam, kini aku berada sekitar 1 kilometer dari rumah sakit. Kini background pemandangan perlahan mulai berganti. Akhirnya sampai lah kami di ujung lintasan lari, kami pun berhenti sejenak. Disebelah kanan dan kiri kami berdiri pohon-pohon karet yang batangya terdapat garis-garis bekas sayatan pisau. Tak kulihat seorang pun disekitar sini, kecuali April. Mungkin karena hari ini hari minggu, para petani lebih memilih ngaso dirumah ketimbang berkebun. Nampak di depan kami, sebuah kebun anggur yang terbentang luas, gapuranya terbuat dari bambu yang dililit tanaman Alamanda, yang berbunga warna kuning. April memegang tanganku lalu dia tariknya aku masuk ke dalam kebun anggur tersebut.

Setelah masuk ke dalam kebun, yang kurasakan adalah sejuk. Sejuk karena tanaman anggur disini memang sengaja dibuat saling merambat dan mengikat antara cabang satu dan cabang lainnya. Tepat di atas kepala kami. Dengan tangan yang masih terpegang si April, aku fokuskan pandangku ke segala penjuru. Kulihat cahaya matahari masuk melalui celah-celah dedaunan karena begitu lebatnya. Daun hijau dan daun kuning menepati posisi di bagian atas, sedangkan daun kering berserakan di bawah, di tanah. Buah anggur menempel disegala sisi, semua berwarna hijau, pertanda bahwa mereka belum matang.

April melepaskan pegangannya, kemudian melompat, mencoba meraih beberapa butir anggur dengan tangannya. Setelah berhasil ia dapatkan, tiba-tiba ia lemparkan sebutir anggur tepat di wajahku, “pyaaak”. Sebutir anggur mendarat dan pecah di dahiku. Sontak membuatku kaget.

Aku : Sialaaan... Awas yah! Aku balas
April : Coba saja kalau bisa.. Weeek..

Dengan tubuhku yang tinggi, aku tak perlu repot melompat untuk meraih serenteng anggur. Kini serenteng anggur telah aku dapatkan. Nampak April sedang mondar mandir mencari tempat mengumpat pada barisan pangkal pohon anggur tersebut. Aku dekati. Ketika ia berdiri hendak berpindah tempat sembunyi. Langsung kulempari serenteng anggur sekaligus. Dan “Praaaak”, tepat mendarat di wajah cantiknya.

Aku : Ahahahaha.... Rasain!

Aku ketawai dia dengan sepuas-puasnya. Wajahnya yang belepotan air, biji dan kulit anggur nampak memerah, sepertinya hendak menangis. Dan benar saja, ia menangis sambil duduk menutupi wajahnya.

Aku : Yaaah... begitu saja menangis..
April : Bodoh kamu! Sakit tau!
Aku : Kamu duluan yang memulai
April : Aku cuma sebutir, sedangkan kamu serenteng! Dasar.. orang gila tak berperasaan.

Setelah kupikir-pikir, benar juga. Aku sudah keterlaluan. Bisa-bisanya gadis secantik itu yang begitu aku cintai yang begitu aku sayangi, malah kusakiti. Ah.. bodohnya aku.

Aku duduk disebelahnya. Perlahan kupeluk dirinya, kubisikan kata-kata maaf ditelinganya, kubelai-belai rambutnya, kubersihkan pula sisa-sisa pecahan anggur yang menempel di wajahnya. Kurasakan tangannya menggenggam erat baju piyamaku. Isak tangisnya perlahan mulai berhenti. Aku tiup-tiup wajahnya, berharap rasa sakitnya segera terbang bersama angin.

Tiba-tiba April menatap wajahku tanpa ekspresi, matanya begitu tajam. Aku pun begitu, menatapnya dengan tajam. Memikirkan hal apa yang akan terjadi setelah ini. Perlahan April mendekatkan wajahnya padaku, lalu makin dekat dan makin dekat, hingga bibir kami akhirnya bersentuhan. Ya.. April menciumku. Dan aku pun menciumnya. Mencium sebuah bibir yang begitu sempurna bentuknya. Pertama kalinya dalam hidupku. Oh Tuhan.. betapa nikmatnya. Aku terbius kenikmatan. Tak dapat aku memikirkan hal-hal lainnya kecuali April. Lalu, ia kalungkan tanganya pada leherku, aku pun begitu, kukalungkan juga tanganku di lehernya. Dapat kulihat, bulu-bulu halus di tangannya mulai berdiri ketika kubelai daun telinganya. Aku rebahkan tubuhnya di atas tanah yang beralaskan dedaunan kering. Hembusan nafas yang keluar dari lubang hidungnya aku hirup dalam-dalam. Kini tubuhnya yang langsing nampak mengeliat setelah kuciumi lehernya, nafasnya pun mulai mengeluarkan suara desahan. Secara reflek, tangan kami berdua bergerilya mencari cari sarang persembunyian lawan. Karena terlalu nikmatnya, hingga aku tak sadarkan diri.
*
Pada sore hari sekitar jam 5, aku dibangunkan oleh pak Dokter dan 3 orang suster yang semuanya aku kenal. Aku bangun di kebun anggur yang kering dan gersang, dengan tanpa busana, sambil memeluk sebuah makam dan sebuah boneka usang yang juga tak berbusana dan berlubang di bagian alat vitalnya, aku kaget ketika melihat papan nama nisan makam tersebut bertuliskan R.I.P APRILLIA 1990. Astaga....! kegilaan macam apa ini?. Semuanya begitu nyata, sampai tak bisa kubedakan antara mimpi dan realitas, sepertinya aku memang masih harus tinggal lebih lama lagi di Rumah Sakit bersama para Dokter dan para suster yang baik dan penyabar. Pikiranku terasa lelah sekali, aku ingin pulang, semoga ini adalah realitasnya.

Aku raih pakaianku yang berserakan di tanah, lalu segera kupakai. Pak Dokter dan bu suster telah menungguku untuk membawaku pulang menuju Rumah Sakit Jiwa Vredigheid. Aku dimasukannya ke dalam mobil ambulan. Sambil menepuk nepuk pundakku, pak Dokter menceritakan jenis penyakitku, kalau tidak salah namanya Skizofrenia. Dalam perjalan pulang, masih terbayangkan sosok April dalam pikiranku, “Aprilku yang kucinta... entah siapa dirimu, entah darimana asalmu, entah bagaimana kamu datang dan entah kemana kamu pergi, aku ucapkan terima kasih yang sebesar besarnya, terima kasih telah memberiku pengalaman tak terlupa pada sebuah pagi yang lembab”.
*


Jogjakarta, 25 Juli 2015

Rabu, 08 Juli 2015

#3 TRILOGY DIARY

CATATAN AKHIR GAGAK


Sebuah Cerpen Fiksi Terakhir Tentang Burung Gagak

Sungguh malam yang mengenyangkan dan menyenangkan untukku. Bagaimana tidak, puluhan serangga Laron berhasil aku santap setelah 30 hari lamanya berpuasa karena kemarau panjang, yang lebih menggembirakan lagi untukku yaitu makanan penutupnya, seekor kupu-kupu jantan besar yang kebetulan mengantongi cairan madu. Hmm... manisnya terasa hingga kerongkonganku. Memang malam ini berbeda dengan malam-malam kemarin, hawa yang dingin mungkin membuat Bangsa Laron berhijrah dari tempat persembunyiannya yang panas menuju taman yang dingin dan lembab. Terlihat sayap-sayap Laron bertaburan di atas taman, mengotori bunga – bunga dan rerumputan. Aku bergegas pergi, urusanku dengan Bangsa Laron telah usai.

Tepat disayap kananku, aku memegang sebuah buku tulis usang berisi catatan pribadi yang ditulis oleh seekor semut dan kupu-kupu. Buku ini mirip seperti sebuah buku diary. Aku merampasnya sebelum aku memakan kupu-kupu yang tadi. Sepertinya akan menarik jika aku ikut berpartisipasi dalam menulis pengalaman sehari-hariku, tapi harus aku tulis secara diam-diam, jangan sampai ketahuan teman-temanku. Aku tak mau jika temanku mengetahui aku yang seekor Gagak ini, menulis sebuah buku diary, pasti celotehan ejekan mereka pecah ditelingaku. Aku tak mau. Ini harus rahasia.

Aku mulai menulis. Aku adalah seekor Burung Gagak. Sebagai Gagak hitam jantan, malam adalah duniaku, waktu dimana aku beraktifitas. Bermain, belajar, makan, minum dan bersantai. Manusia menyebutku sebagai binatang Noktural. Sebetulnya selain aku, masih banyak binatang lain yang juga sama-sama beraktifitas dimalam hari: Kelelawar, Burung Hantu, Kucing dll. Walaupun sama-sama Noktural, kami tak pernah saling sapa ketika berpapasan. Karena setiap binatang Noktural, memegang teguh egonya masing-masing. Sama-sama ingin tampil sebagai penguasa malam, ingin menjadi rajanya malam. Tapi, aku tak peduli. Bagiku, Bangsa Gagak lah yang lebih pantas disebut rajanya malam dan Bangsa Gagak lah yang lebih patut dihormati. Meskipun memang burung Hantu nampak lebih karismatik, lebih berwibawa, namun ia tak memiliki sisi Magis di dalam dirinya, ia tak lebih dari sekadar burung biasa. Sedangkan aku, aku memiliki cerita tentang sebuah kutukan, kutukan yang sudah ada sejak dari jaman nenek moyangku. Rupa-rupanya seluruh Gagak telah dikutuk bahkan sebelum Gagak - gagak tersebut ditetaskan dari telurnya. Gagak banyak dikaitkan dengan binatang pembawa kematian. Konon, setiap rumah-rumah yang dihinggapi oleh seekor Gagak pada malam hari, maka keesokan harinya akan ada kabar duka tentang kematian salah satu anggota keluarga di rumah tersebut. Mungkin cerita itu lah yang membuat Bangsa Gagak berbeda dengan Noktural lainnya.

Kini aku tinggal disebuah pohon Kamboja besar di kawasan makam tua yang sunyi dan gelap. Gelap ketika malam atau pun siang, karena makam tersebut ditumbuhi banyak pohon besar dan juga semak semak liar yang tak terurus, sehingga hanya sedikit cahaya matahari yang mampu menyentuh tanah, udaranya pun terasa begitu lembab. Sangat cocok untuk tidur siang dan bermimpi hingga malam tiba.
*
Aku terbangun dari tidurku dengan tiba-tiba, membuat kepalaku sedikit pusing, gara-gara mimpiku barusan, aku tarik ulur nafasku perlahan untuk menormalkan detak jantungku. Kulihat, malam telah datang membawa serta kesunyiannya. Aku benar-benar terkejut, untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupku, aku mendapatkan mimpi yang ter-amat aneh. Lekas aku cepat-cepat mengambil buku diary untuk segera aku tulis mimpiku, sebelum aku lupa karena ini penting:

Terdengar olehku suara ayam jantan berkokok disamping kamarku, hangatnya cahaya matahari menembus kaca jendela menyentuh kulit wajahku, menandakan bahwa pagi telah datang. Lekas aku bangun dari tidurku, lalu mulai membuka mata. Tapi tak ada satu pun yang dapat aku lihat, aku yakin benar aku telah membuka mataku, tapi tetap saja aku tak melihat apa-apa. Aku merasa takut, gelisah sekaligus khawatir. Apa yang sesungguhnya sedang aku alami? Ketakutanku berbuah tangisan, yang kemudian aku sadari bahwa itu suara tangisan seorang manusia wanita. Ya.. ternyata aku terbangun sebagai seorang wanita tuna netra.

Dan entah kenapa, didalam mimpiku aku berperan sebagai seorang wanita tuna netra, dan juga didalam mimpiku tersebut aku merasa seperti sudah terbiasa dengan keadaan tersebut, keadaan tak bisa melihat. Seakan-akan aku sudah buta belasan tahun. Apa yang dilakukan wanita itu pun, aku benar-benar turut merasakannya dan juga benar-benar detail. Aku lanjutkan kembali cerita mimpiku yang sebagai seorang wanita itu selagi aku masih ingat:

Pada suatu siang yang cerah, di dalam rumah aku berhias diri, memakai kerudung dan berbaju gamis, menenteng tas berisi buku catatan dan dompet kecil, bersiap menuju taman bunga. Aku berjalan perlahan menuju taman bunga yang letaknya di pertengahan kota tidak jauh dari tempat tinggalku, sebuah taman yang biasa digunakan oleh masyarakat untuk bermain, berkumpul dan belajar, nah.. niatku adalah untuk belajar. Aku sudah biasa belajar disana, karena suasananya begitu nyaman, banyak aneka macam suara, mulai dari suara angin, tawa, tangis, gurauan, kicauan burung, gemericik air, dll. Sehingga dapat menghilangkan kesunyianku, ditambah lagi terdapat beberapa gasebu.

Berkali-kali aku lewati jalan ini, membuatku hafal rutenya. Dalam perjalanan, aku memasuki sebuah gang yang jalannya kutahu terbuat dari susunan paving tanpa rumput, tanpa banyak dilewati kendaraan bermotor juga. Seperti biasa bau kue pukis mulai menyambangi hidungku. Hmm... baunya seakan memberi ucapan “Selamat Datang, Anda Sedang Melawati Rumah Produksi Kue Pukis H. Acong”, pemiliknya adalah seorang mualaf. Terdengar beberapa anak kecil berlarian dibelakangku sambil menggiring bola plastik yang sepertinya sudah kempes. Terdengar pula kicauan aneka macam burung yang bisa kutebak, burung-burung tersebut berkicau di dalam sangkar. Beberapa meter setelah itu, seorang ibu-ibu yang jelas kukenal orangnya menyapaku dengan ramah “Eh.. neng Ely, cantik sekali hari ini. Tumben. Mau kemana siang-siang begini?”. “Ah.. ibu Endang nih, bisa aja. Biasa, bu.. Mau ke taman” Jawabku sambil tersenyum. “Belajar lagi?” Tanyanya lagi. “Iya..bu..” Jawabku. “Yasudah.. hati-hati di jalan ya neng.. selamat belajar” Pesan ibu itu. “Iya...bu..terimakasih” Jawabku sambil mengangguk. Lalu aku kembali melanjutkan jalan sambil tersnyum-senyum sendiri, kepikiran ucapan ibu Endang tadi “Benarkah aku ini cantik? Hmmmh”, Tetapi yang terpenting adalah pesan kedua dari ibu Endang, hati-hati dijalan. Aku telah sampai pada ujung gang. Bertemu sebuah jalan aspal yang banyak dilalui kendaraan bermotor dari sisi kanan dan kiri, sesekali terdengar suara klakson.

Aku hentikan sejenak tulisan mimpiku, sayapku terasa sedikit semutan karena terlalu bersemangat campur gelisah. Aku sempatkan membuat secangkir kopi panas untuk sedikit menenangkan pikiran. Setelah pikiranku sedikit tenang, aku teringat pada sebuah taman bunga yang kemarin aku datangi ketika menyerbu bangsa Laron, ya.. memang disana terdapat aneka macam bunga dan beberapa gasebu, persis seperti lokasi taman bunga yang ada di alam mimpiku. Lekas, Aku boyong kopiku dan buku diary ini kesana, aku akan menulis disana saja.

Beberapa menit kemudian, aku telah sampai di taman bunga yang gelap karena lampu tamannya hanya mampu menerangi sekitaran pintu masuknya. Aku duduk manis disalah satu atap gasebu. Terimakasihku ku ucapkan kepada sang purnama yang telah memberikan sedikit cahayanya sehingga memudahkanku dalam menulis. Suasananya begitu sunyi, karena waktu telah menunjukkan pukul 23.00. Dan langsung saja kulanjutkan lagi cerita mimpiku:

Aku berjalan lagi ke arah kanan, perlahan aku melewati trotoar yang kurasakan permukaannya tak beraturan, aku mewaspadai tiap langkahku kalau-kalau ada lubang atau bebatuan yang menyembul. Terdengar aneka ragam suara disekitarku. Aku tetap fokus pada langkahku selama beberapa menit. Dan akhirnya sampailah aku tepat didepan pintu masuk taman bunga. Gerbangnya berbentuk sebuah gapura yang bertuliskan “Taman Firdaus” Kata orang-orang. Tepat di pintu masuk, kudengar bunyi musik “teloleet.. teloleet.. telolelolelooot..” Hmm.. khas sekali bunyinya. “Pak.. Es krim Conelisnya dua yaa..” Kataku pada si bapak penjual es krim. “Yang rasa apa non?” Tanya si bapak. “Mm... Mocca sama Coklat” Jawabku. “Okee.. ini non” Kata si bapak. Lalu aku membuka dompet dan meraba raba uangku, kemudian kubayar.

Aku terbang sejenak menuju gapura, untuk memastikan apakah benar taman ini bernama Taman Firdaus. Alangkah ajaibnya mimpiku, dan ternyata benar! Taman ini bernama Taman Firdaus. Aku kembali duduk di atap gasebu dan melanjutkan menulis:

Aku melangkah di jalan kecil berkelok kelok yang dibuat dari susunan batu paving, sisi kanan dan kirinya dibatasi oleh rerumputan setinggi betisku. Aroma bunga mulai tercium semerbak di hidungku. Beberapa anak dan orang tua terdengar sedang bercakap-cakap disebelah kananku, tapi agak jauh. Aku berjalan terus sambil meraba raba bunga dipinggiran. Terdengar dari arah sebelah kiri, suara laki-laki memanggil dengan nada yang lantang “Ely... Aku disini! Di Gasebo ketiga”. Nah.. itu dia, si Adam. Aku bergegas menuju ke arahnya. Adam itu sahabat terbaikku sekaligus guruku, ia 2 tahun lebih tua dariku. “Maaf ya Dam.. sudah lama menunggu yah?” Tanyaku sambil menggaruk garuk kepala yang tidak gatal. “Iya nih.. sampai ngantuk” Kata si Adam. “Maaf deeh.. ni kubelikan es Krim Conelis Mocca kesukaanmu” Rayuku kepadanya supaya reda marahnya. “Waaah... ini nih.. cocok! gak jadi marah deh..” Katanya sambil tertawa.

Setelah kami menghabiskan es krim dan membuang sampahnya di tempat sampah, ia sempat memujiku dan berkata “Tak seperti biasanya El, kamu nampak lebih cantik, Motif kerudungmu yang bunga-bunga itu seakan akan membaur dengan lingkungan sekitar yang juga dipenuhi bunga-bunga. Ditambah lagi gamismu yang berwarna coklat seakan akan kesatuan dari tangkai-tangkai bunga yang terikat, sejak kamu berjalan masuk ke taman, aku tak bisa membedakan, mana yang bunga dan mana yang kamu”.

Hahahaha.... aku sempatkan tertawa sejenak mengingat gombalan kuno dari si Adam. Ya.. bagiku itu memang gombalan kuno. Tapi lain lagi bagi aku yang sedang di dalam diri Ely:

Aku kaget mendengar kata-kata Adam, entah malu atau senang, aku bingung mengekspresikannya pada wajahku. Yang bisa kulakukan hanyalah mencubit lengannya. Ia pun berteriak kesakitan sambil tertawa.

Seperti biasa, aku mulai membuka tas dan mengeluarkan buku, buku tebal berukuran A4 dengan cover berwarna coklat. Berisi catatan-catatan cerpenku yang diketik menggunakan huruf Braille yang selama ini sudah diajarkan Adam kepadaku. Cita-citaku sejak kecil ingin menjadi seorang penulis, apa daya keadaan memaksaku tak bisa menulis, disinilah peran Adam sangat penting dalam usahaku mewujudkan cita-citaku. Betapa Agungnya Engaku Tuhan, telah ciptakan Adam untuk diriku sebagai sahabat terbaik, aku bersyukur padaMu. Disisi lain, Adam telah siap dengan mesin ketiknya, yang katanya keyword mesinnya telah dimodif menjadi huruf Braille.

Rencananya, siang ini aku akan merampungkan cerpenku, nantinya akan ada 3 cerpen yang aku buat. Cerita 1 dan 2 telah selesai, aku sendiri yang mengetiknya dengan dipandu oleh Adam. Tinggal cerita yang ke-3 yang belum. Keseluruhan tokoh dalam ceritaku adalah binatang, mirip seperti Fabel, dimana binatang bisa bicara, menulis dan berfikir layaknya manusia. Cerpen ke-1 menceritakan tentang kehidupan dan kematian seekor Semut yang kuberi judul “Catatan Akhir Semut”. Cerpen ke-2 menceritakan tentang kehidupan dan juga kematian seekor Kupu-kupu yang kuberi judul “Catatan Akhir Kupu”. Dan Cerpen terakhir menceritakan tentang...

Tepat di atas gapura Taman Firdaus tiba-tiba menclok seekor burung Hantu putih dengan matanya yang besar berwarna hitam, aku sempat kaget dibuatnya. Aku hentikan sejenak tulisanku, mataku kutujukan pada burung Hantu tersebut, aku pantau terus gerak geriknya agar aku tetap waspada, kalau-kalau ia ingin menyerangku. Beberapa detik kemudian, burung Hantu tersebut kembali terbang, menjauh dan akhirnya hilang dari pandanganku. Aku mulai kembali ceritaku:

Pada Cerpen terakhir, aku menceritakan tentang kehidupan dan sekaligus kematian seekor Burung Gagak yang masih dalam proses pengerjaan, cerpen tersebut nantinya akan diberi judul “Catatan Akhir Gagak”.

Disini aku mulai curiga, kenapa harus gagak? Aku adalah gagak. Mungkinkah tokoh gagak yang ada pada cerpen terakhirnya itu terinspirasi dari aku? Mungkin juga. Kalau memang benar Ely terinspirasi dariku, aku patut berbangga.

Aku mulai mengetik huruf demi huruf dengan perlahan, tombol keyword mesin ketinya dibuat timbul untuk memudahkanku menemukan huruf-huruf yang sesuai sehingga mendapatkan tulisan kata yang tepat, dan tentunya menggunakan huruf Braille. Sementara itu, Adam yang sedang berada di sisi kiriku sibuk membaca naskah cerpen-cerpenku sambil sesekali tertawa. “Kenapa kamu tertawa? Ada yang lucu?” Tanyaku sedikit kesal. “Kamu tega El, masa semua tokohnya kamu buat mati diakhir cerita.. Hahaha..” Jawabnya. “Semua yang hidup, pasti akan mati kan Dam?” Jawabku dengan masih meraba raba tombol keyword. “Iya sih.. kamu benar El” Katanya sambil menepuk pundaku.

Tepat jam 3 sore akhirnya cerpen terakhirku selesai. Senang sekali rasanya, akhirnya setelah 12 tahun belajar membaca dan menulis, aku bisa menciptakan karya tulis ini seperti yang aku cita-citakan. Puji syukurku ku ucapkan kepada Tuhan yang telah memberi rahmat dan hidayah luar biasa-Nya. Tak lupa juga ku ucapkan terima kasihku pada Adam yang telah banyak membantuku. Atas saran si Adam, karya cerpen ini ku beri judul “Trilogy Diary”, Kumpulan 3 cerpen yang saling berhubungan namun masing-masing judul dapat berdiri sendiri, diketik menggunakan huruf Braille.

Sejenak aku pandangi langit hitam tepat di atasku, kulihat seekor gagak terbang berputar-putar mengeluarkan suara “Aarrrkkk... Aarrrkkk”, aku tak mengenalinya. Mungkin gagak dari desa sebelah yang sedang kelaparan mencari mangsa. Aku minum sedikit kopiku yang sudah mulai dingin. Kembali aku menulis:

Adam menjabat tanganku memberi ucapan selamat, akhirnya cita-citaku sebagai penulis terwujud juga. Betapa aku bahagianya, begitu juga dengan Adam. Namun, tiba-tiba dengan nada yang sedikit serius, Adam berkata “Ely.. sekali lagi aku ucapkan selamat padamu, karya tulismu telah selesai dengan baik, kelak kamu akan menjadi penulis yang handal, dan tercapai lah cita-citamu. Dengan selesainya karyamu, ku kira kamu sudah bisa belajar mandiri”. “Maksudmu apa Dam?” Tanyaku yang begitu penasaran.

Jantungku seakan berhenti berdetak, Letupan kebahagiaan berubah menjadi dengungan kesedihan. Setelah kudengar ia berkata tepat jam 5 sore nanti, ia akan hijrah ke Negeri Yunani, sebuah Negeri tertua di Dunia, selama 4 tahun untuk melanjutkan pendidikan S-2 nya. Ia memang pernah bercerita padaku bahwa ia ingin menggapai cita-citanya menjadi filsuf, karena katanya Negeri Yunani merupakan Negeri kelahiran para Filsuf barat yang tersohor di seluruh Dunia.

Keputusannya untuk meninggalkan Negeri ini sekaligus meninggalkanku tak bisa aku halang-halangi, cita-cita memang harus digapai. Aku telah meraih cita-citaku sebagai penulis, maka kini saatnya bagi Adam untuk menggapai cita-citanya sebagai filsuf. Air mataku tak bisa kutahan, mengalir dengan derasnya di pipiku, kurasakan belaian jarinya menyentuh pipiku, mengusap butiran air mata yang terus berjatuhan. “Tenang Ely... aku hanya pergi 4 tahun lamanya” Ucapnya sambil terus mengusap pipiku. “Setelah aku sampai disana, aku akan mengirimi surat padamu setiap bulan”. Ucapnya lagi. “Janji???” Kataku. “Janji..” Jawabnya sambil tersenyum.

Waktu menunjukan pukul 03.35, aku lepas kepergian Adam dengan tangisan, tak dapat kulihat perginya, yang kudengar hanyalah langkah kakinya yang perlahan menjauh dan perlahan tak lagi kudengar langkah kakinya.

Udara malam begitu dingin, semakin menambah dingin pula pena besiku. Kulihat lagi langit di atasku, nampak ada yang janggal. Kini ada 7 ekor gagak yang beterbangan tepat di atasku, lagi-lagi aku tak mengenalinya, aku begitu asing dengan wajah mereka dan entah apa yang sedang mereka lakukan, apakah mereka ingin menyerangku? Tapi aku merasa tak punya masalah dengan mereka. Setahuku, bangsa gagak tak pernah menyerang sesama gagak jika benar-benar tak ada suatu masalah. Aku lanjutkan kembali tulasanku sambil tetap mewaspadai mereka:

Kini aku duduk menyendiri di gasebu bersama sesedihan yang terus menggebu di dalam hati. Kupegangi mesin ketiknya yang ia berikan padaku, lalu perlahan aku menulis sebuah kalimat “WAHAI KUPU KUPU SAMPAIKAN RINDUKU KEPADANYA”. Berharap ada seekor kupu-kupu yang mendengar batinku di tengah-tengah taman bunga ini.

Aku senderkan tubuhku pada tiang gasebu dengan pikiran kosong, menikmati semilir angin yang begitu lembab, hingga mengantuk kemudian ketiduran.

Pada saat itu, aku terbangun dari tidurku. Dan begitulah akhir cerita mimpiku. Kutulis dengan sedetail-detailnya. Kupandangi lagi gagak-gagak di atasku, alangkah terkejutnya diriku ketika ku tahu jumlah mereka bertambah menjadi 9 ekor. Kini aku benar-benar khawatir akan keselamatanku, jelas akan terjadi sesuatu yang tidak beres denganku. “Apa kah mereka akan mengutukku?”. Penaku terjatuh ke bawah, kemudian aku bergegas mengambilnya.

Setelah kudapati penaku di tanah, tiba-tiba tubuhku tak bisa kugerakan ketika aku dikejutkan oleh si Ely yang sedang ketiduran di gasebu lengkap dengan buku-buku dan mesin ketiknya. Dengan perlahan sekali, aku kepakan sayap menuju kembali keatas diiringi oleh suara gagak yang saling bersahutan, aku terus ke atas, pandanganku pun mulai memudar, menjadi sinar putih menyilaukan.



TAMAT