Sabtu, 25 Juli 2015

SEBUAH PAGI YANG LEMBAB DAN APRIL YANG CANTIK


Hanya Cerpen Fiksi

Pagi yang lembab bercampur butiran embun yang menempel di kaca jendela kamarku yang tak bergorden. Hawa dinginnya mengalir masuk melalui 2 ventilasi di atas jendela yang terbuat dari kayu, dinginnya menyebar cepat ke seluruh ruangan kamar yang hanya berukuran 3 meter kali 3 meter. Membuatku makin malas beranjak dari kasur dan selimutku. Aku gulingkan tubuhku ke samping kiri dan kutekuk kedua kakiku agar dapat masuk ke dalam selimut seutuhnya, karena memang ukuran selimutku yang tak sesuai dengan panjang tubuhku, selimutku terlalu kecil karena hanya terbuat dari handuk bekas. Terdengar dari kejauhan, suara kokokan ayam jago yang saling bersahut sahutan sebagai alarm alami penanda pagi telah tiba. Dari posisi tidur tertutup handuk, aku intip sebentar pandanganku kearah jendela yang berteralis besi itu, tak nampak sinar matahari menembus kaca. Mungkin sedang mendung pikirku. Atau mungkin masih terlalu pagi. Lalu aku kembali masuk ke dalam selimut handuk. Dengan mata sayup-sayup aku perhatikan arlojiku, waktu menunjukkan tepat jam 5.

Tak lama kemudian. Aku bergegas saja untuk bangun, aku ingat hari ini hari minggu, aku ada janji lari pagi dengan April, sahabatku. Lekas aku berdiri menghadap cermin yang kacanya telah retak-retak dan berjamur, sehingga tubuhku juga nampak patah-patah. Dengan lebih mendekat ke cermin, aku bersihkan kotoran yang menempel di pinggiran mataku. Lalu kuminum segelas air putih yang ada di atas meja kayu dan aku semburkan airnya ke arah cermin, di cermin terlihat tubuhku seolah-olah patah-patah dan meleleh. Aku tertawa sejenak, bukan karena sedang lucu, melainkan sedang bersemangat.

Dengan pakaian serba putih yang telah aku gosoki dengan kapur barus, aku mulai buka pintu kamarku dengan perlahan, eh maksudku dengan tangan. Kemudian aku keluar. Lampu-lampu lorong sudah dipadamkan, jadi sedikit gelap. Nampak seorang suster tua berjalan di depanku sambil membawa keranjang sayur di tangan kiri dan kanannya, sepertinya baru pulang dari belanja di pasar. “Selamat pagi mas Agus...” Sapa suster tua itu kepadaku. “Selamat pagi juga sus...” Jawabku sambil tersenyum. “Tumben.. mas Agus sudah bangun pagi-pagi begini?” Tanya suster tua itu. “Mau lari pagi sus, biar sehat jiwa raga.” Jawabku. Kemudian suster tua tersebut kembali berjalan.

Di dalam lorong yang sedikit gelap ini terdapat 20 kamar yang warna pintunya sama yaitu abu-abu, bentuk pintunya juga sama yaitu persegi panjang, dan ukuran kamarnya juga sama yaitu 3 kali 3 meter. 19 kamar diantaranya telah berpenghuni. Aku sendiri menghuni kamar nomor 14. Kamar yang tak berpenghuni tepat berada disebelah kiri kamarku, yaitu kamar nomor 13. Nah, April, sahabatku yang cantik berada di sebelah kiri kamar kosong tersebut, kamar nomor 12. Kami bertetangga dekat, hanya 6 langkah. Maka, ku segerakan melangkahkan kakiku 6 kali kearah kiri menuju depan kamar April. Akhirnya aku sampai juga di depan pintu kamar April dengan selamat. Di tengah pintunya terdapat tempelan angka 12 yang terbuat dari bahan kertas stiker, di bawah stiker angka 12 terdapat tulisan kecil menggunakan spidol hitam “Awas yang punya anjing galak!”. Aku tau, itu adalah tulisanku. Karena aku juga tau, April itu sejenis manusia yang galak, apalagi setelah anjing labrador hitamnya mati seminggu yang lalu karena kegilaannya. Bayangkan saja, anjingnya sendiri ia suntik menggunakan cairan avtur, hanya karena obsesi April yang ingin menjadi seorang dokter. Haha... dasar orang gila! Orang gila cantik sih.

Dari dalam kamarnya kudengar ia sedang asyik berbicara entah dengan siapa menggunakan bahasa yang tidak aku ketahui. Lalu tanpa mengetuk pintu, aku langsung membuka pintu kamarnya yang tak dikunci, dengan perlahan. Aku intip sedikit, nampak ia sedang mengobrol dengan sebuah boneka plastik berwujud bayi perempuan berambut pirang bergaun motif bunga-bunga. Kulihat April masih merebah di atas kasurnya sambil memeluk boneka tersebut di tangan kirinya. Kini matanya tertuju padaku, dan akhirnya muncul dialog:

April : Hey.. Agus! Masuk kantor orang nggak ketok-ketok dulu!
Aku : Hah.. kantor? Hmm... gilanya makin parah ini anak.
April : Ini kantorku, tempat aku praktek. Aku ini dokter yaah..
Aku : Hmm... Praktek apa sih?
April : Ya macem-macem lah, kebetulan ini lagi ada pasien seorang gadis kecil keturunan Belanda.
Aku : Sakit apa gadis kecil ini? (Aku bertanya sambil menutup mulutku karena menahan tawaku yang hampir pecah).

April mencubit lenganku dengan gemasnya, aku tahan sekuat-kuatnya karena tak mungkin aku tega membalas cubitannya. Terlalu cantik untuk disakiti, bahkan ia pun sebenarnya sedang sakit, sakit jiwanya. Dengan memandang wajahnya saja, seolah menjadi pembius rasa nyeriku.

April : Awas yah kalau berani meledekku lagi! Aku cubit lebih keras lagi!
Aku : Nggak nggak nggak.. Ampun deh...
April : Awaaas...
Aku : Hehehe... Eh, ayo kita lari pagi, kan kemaren kita udah sepakat mau lari pagi?
April : O... iya, aku lupa! Tunggu sebentar, aku ganti pakaian dulu. Tolong, pintunya ditutup sedikit ya Gus..
Aku : Hah? Ganti disini?
April : Iya, ada yang aneh?
Aku : Nggak.

Ya Tuhan, aku tutup sedikit pintunya. Jantungku langsung berdebar kencang, darahku mengalir naik hingga ujung kepala, mata kubuka lebar-lebar tanpa berkedip, sebentar lagi akan aku saksikan pemandangan indah luar biasa atas ciptaan-Nya yang Maha Agung. April!!!

Aku : Buseeeet! Yang ganti baju, bonekamu?
April : Heh! Ini pasienku!
Aku : yaa... ya itu, maksudku. Yang ganti baju pasienmu?
April : Ya iya laah.. Pasienku kan lagi sakit, dia harus ikut joging, banyak-banyak menghirup udara pagi yang sejuk.
Aku : Ooooh...

Rasa rasanya ingin kujedotkan kepalaku ini ke kasur! Kukira dia yang mau berganti pakaian, malah bonekanya yang diganti pakaiannya. Gilaaa....!

Kini bonekanya telah siap dengan pakaian mungil yang lebih ketat. Sementara itu, aku dan April mengenakan pakaian yang sama, sejenis piyama berwarna serba putih. Sebotol air mineral milik April telah aku bawa, karena April harus menggendong bonekanya, nyatanya bonekanya memang tak bisa berjalan apalagi berlari. Kami berjalan menelusuri lorong yang masih tetap gelap untuk menuju pintu keluar. Tepat di depan pintu keluar, pak satpam menyapaku “Selamat pagi mas Agus.. jangan keluar jauh-jauh yaa..”. “Siap... Pak!” Jawabku.

Sebuah taman yang berisi rerumputan hijau dan aneka bunga, membentang luas di depan pintu yang dijagai oleh pak Satpam. Kami berjalan ke arah lembah rumput yang agak luas. Kulihat di cakrawala sebelah timur, langit mulai membentuk warna gradasi jingga biru dengan sedikit awan. Beberapa ekor ayam jago mondar mandir mencari tanah yang bisa dipatuk-patuk. Beberapa suster juga kulihat mondar mandir, ada yang menyiram bunga, menyapu dedaunan kering, membaca koran, dan senam. Para penghuni kamar lainnya tak kulihat, karena masih asyik dengan mimpinya masing-masing di kamar. Kulihat juga April sedang meletakan bonekanya di rumput yang ada di depannya, mungkin si April ingin mengajarkan gerakan-gerakan senam kepada bonekanya. Tak lama kemudian, ia mulai melakukan gerakan senam dengan gaya semau-maunya, seperti gaya vokalis Band Metal yang sedang manggung. Mengibaskan rambutnya keatas dan kebawah berkali-kali. Dasar aneh!.

Aku hirup udara yang lembab ini dalam-dalam, agar oksigennya masuk keseluruh organ tubuh. Lalu aku pun mulai melakukan senam dengan wajar sambil sesekali tertawa melihat tingkah April yang makin menjadi-jadi. Aku heran, gadis secantik dia bisa bertingkah tolol seperti itu. Tadi senam bergaya vokalis Band Metal, lalu senam bergaya pantomim robot-robotan, sekarang senam bergaya pemain tinju. Ya ampuuun. Tapi, apapun gayanya, wajahnya tetap mempesona. Rambutnya yang panjang berwarna coklat, kini mulai berubah menjadi jingga disetiap ujungnya, karena cahaya matahari mulai memasuki kawasan yang kami pijaki. Sesekali ia palingkan wajahnya kearahku sambil tersenyum dan mengedipkan mata kirinya. Aku pura-pura saja tak melihatnya.

Kini matahari telah muncul seutuhnya dilangit sebelah timur, mencahayai kami semua yang berpijak di atas bumi. Kurentangkan kedua tanganku dengan telapak terbuka menghadap matahari. Dulu, April pernah berkata padaku bahwa sinar matahari pagi mengandung vitamin D, yang baik untuk tulang dan menambah sistem kekebalan tubuh. Ajaib sekali. Lalu kubalikan tubuhku 180 derajat membelakangi matahari, dengan posisi tangan masih terentang, tujuannya agar punggung dan pantatku juga ikut mendapatkan radiasi vitamin D. Kini, pandanganku tertuju pada sebuah gedung besar di depanku. Sebuah gedung paninggalan jaman Belanda, itu pertanda bahwa gedung tersebut telah berusia lebih dari 100 tahun, temboknya kokoh berwarna putih, memiliki 2 pintu besar yang saling berjejeran yang selalu dijaga oleh pak satpam, di atas pak satpam terdapat sebuah tulisan besar yang dibuat melengkung, tulisannya “RUMAH SAKIT JIWA VREDIGHEID”. Vredigheid itu artinya ketentraman, kedamaian dan ketenangan. Di gedung itu lah kami tinggal. Aku tak ingat sudah berapa tahun aku tinggal, mungkin karena akunya yang pelupa. Kulihat kaca-kaca jendela rumah sakit memantulkan cahaya matahari yang cukup menyilaukan. Aku balikkan lagi tubuhku.

Aku langsung saja berlari mendekati April yang masih melakukan senam, aku sambar tangannya, kupegang erat supaya tak lepas, lantas membuat April menjadi harus ikut berlari. Sehingga terpaksa ia tinggalkan bonekanya begitu saja di rerumputan. Kemudian, kami berdua lari pelan-pelan mengikuti lintasan kecil berkelok-kelok yang terbuat dari susunan blok paving. Menyusuri lembah sabana dan taman bunga. Kami terus berlari untuk mencapai ujung dari lintasan ini.

Aku : April, pasienmu tertinggal sendirian di halaman rumah sakit. Tak apa kan? (Maksudku adalah bonekanya)
April : Tak apa.. nanti juga dia nyusul.
Aku : Hmmm... mulai kambuh gilamu.
April : Kamu pikir kamu waras? Kamu itu kan juga gila.
Aku : Aku waras kok.
April : Kamu itu gila!
Aku :  Kalau aku gila, tak mungkin aku bisa mengendalikan kekuatan pikiranku, seperti saat ini.
April : Mmmm.... begitu? Trus?
Aku : Hatiku masih bisa merasakan aneka macam perasaan. Senang, Gembira, Sedih, Takut, Gelisah, Kaget dan Iba. Lalu kemudian aku juga bisa merefleksikan perasaan-perasaan tersebut pada gerakan tubuh.
April : Maksudnya? -___-
Aku : Disaat perasaanku sedang senang dan gembira, maka otomatis aku akan tertawa. Sebaliknya, saat perasaanku sedang sedih dan kecewa, maka otomatis pula aku akan menangis. Begitu...
April : Aah.. kalau cuma begitu, aku juga merasakannya!
Aku : Ooh.. kamu juga bisa merasakannya? Aku kira cuma aku saja. Hahaa
April : Aduuuh... makannya, jangan sok pintar. Sudah gila, sok pintar lagiii...
Aku : Ahahaa...

Kami masih berlari. Rambut panjangnya sengaja ia ikat dan gulung ke atas. Sehingga dapat aku lihat keringat di lehernya mengalir menuju pundak, membuat kerah piyamanya menjadi basah. Sesekali ia naikkan celananya yang sedikit kendor karena selalu saja melorot, aku pun begitu. Maklum, seragam khusus pasien.

Dalam gerakan slowmotion, aku benar-benar memperhatikannya: Wajahnya tampak dari samping. Rambutnya panjang kecoklatan. Dahinya lebar. Alisnya hitam lebat. Matanya menjorok kedalam. Bulu matanya hitam lentik dan asli. Hidungnya mancung dan sedikit lancip ujungnya. Pipinya terdiri dari lapisan kulit tipis berwarna kuning langsat dengan ditumbuhi bulu-bulu halus dan lesung yang begitu dalam ketika sedang tersenyum. Bibirnya terbagi menjadi dua bagian, atas dan bawah, yang berwarna merah jambu tanpa olesan lipstik. Bibir atas nampak lebih maju ketimbang bibir bawahnya. Dagunya sedikit lancip tanpa belahan. Telinganya menempel tepat disamping kanan dan kiri kepalanya yang lonjong. Sepasang anting permata hitam menembus lapisan kulit telinganya sebagai hiasan. Keseluruhan obyek menyatu dalam garis-garis anatomi yang tepat, membentuk sebuah mahakarya yang dinamakan “wajah”. April. Dia lah sebagian kecil dari ciptaan Tuhan.

Gedung rumah sakit telah hilang dari pandangan. Tak kupedulikan lagi pesan pak satpam, kini aku berada sekitar 1 kilometer dari rumah sakit. Kini background pemandangan perlahan mulai berganti. Akhirnya sampai lah kami di ujung lintasan lari, kami pun berhenti sejenak. Disebelah kanan dan kiri kami berdiri pohon-pohon karet yang batangya terdapat garis-garis bekas sayatan pisau. Tak kulihat seorang pun disekitar sini, kecuali April. Mungkin karena hari ini hari minggu, para petani lebih memilih ngaso dirumah ketimbang berkebun. Nampak di depan kami, sebuah kebun anggur yang terbentang luas, gapuranya terbuat dari bambu yang dililit tanaman Alamanda, yang berbunga warna kuning. April memegang tanganku lalu dia tariknya aku masuk ke dalam kebun anggur tersebut.

Setelah masuk ke dalam kebun, yang kurasakan adalah sejuk. Sejuk karena tanaman anggur disini memang sengaja dibuat saling merambat dan mengikat antara cabang satu dan cabang lainnya. Tepat di atas kepala kami. Dengan tangan yang masih terpegang si April, aku fokuskan pandangku ke segala penjuru. Kulihat cahaya matahari masuk melalui celah-celah dedaunan karena begitu lebatnya. Daun hijau dan daun kuning menepati posisi di bagian atas, sedangkan daun kering berserakan di bawah, di tanah. Buah anggur menempel disegala sisi, semua berwarna hijau, pertanda bahwa mereka belum matang.

April melepaskan pegangannya, kemudian melompat, mencoba meraih beberapa butir anggur dengan tangannya. Setelah berhasil ia dapatkan, tiba-tiba ia lemparkan sebutir anggur tepat di wajahku, “pyaaak”. Sebutir anggur mendarat dan pecah di dahiku. Sontak membuatku kaget.

Aku : Sialaaan... Awas yah! Aku balas
April : Coba saja kalau bisa.. Weeek..

Dengan tubuhku yang tinggi, aku tak perlu repot melompat untuk meraih serenteng anggur. Kini serenteng anggur telah aku dapatkan. Nampak April sedang mondar mandir mencari tempat mengumpat pada barisan pangkal pohon anggur tersebut. Aku dekati. Ketika ia berdiri hendak berpindah tempat sembunyi. Langsung kulempari serenteng anggur sekaligus. Dan “Praaaak”, tepat mendarat di wajah cantiknya.

Aku : Ahahahaha.... Rasain!

Aku ketawai dia dengan sepuas-puasnya. Wajahnya yang belepotan air, biji dan kulit anggur nampak memerah, sepertinya hendak menangis. Dan benar saja, ia menangis sambil duduk menutupi wajahnya.

Aku : Yaaah... begitu saja menangis..
April : Bodoh kamu! Sakit tau!
Aku : Kamu duluan yang memulai
April : Aku cuma sebutir, sedangkan kamu serenteng! Dasar.. orang gila tak berperasaan.

Setelah kupikir-pikir, benar juga. Aku sudah keterlaluan. Bisa-bisanya gadis secantik itu yang begitu aku cintai yang begitu aku sayangi, malah kusakiti. Ah.. bodohnya aku.

Aku duduk disebelahnya. Perlahan kupeluk dirinya, kubisikan kata-kata maaf ditelinganya, kubelai-belai rambutnya, kubersihkan pula sisa-sisa pecahan anggur yang menempel di wajahnya. Kurasakan tangannya menggenggam erat baju piyamaku. Isak tangisnya perlahan mulai berhenti. Aku tiup-tiup wajahnya, berharap rasa sakitnya segera terbang bersama angin.

Tiba-tiba April menatap wajahku tanpa ekspresi, matanya begitu tajam. Aku pun begitu, menatapnya dengan tajam. Memikirkan hal apa yang akan terjadi setelah ini. Perlahan April mendekatkan wajahnya padaku, lalu makin dekat dan makin dekat, hingga bibir kami akhirnya bersentuhan. Ya.. April menciumku. Dan aku pun menciumnya. Mencium sebuah bibir yang begitu sempurna bentuknya. Pertama kalinya dalam hidupku. Oh Tuhan.. betapa nikmatnya. Aku terbius kenikmatan. Tak dapat aku memikirkan hal-hal lainnya kecuali April. Lalu, ia kalungkan tanganya pada leherku, aku pun begitu, kukalungkan juga tanganku di lehernya. Dapat kulihat, bulu-bulu halus di tangannya mulai berdiri ketika kubelai daun telinganya. Aku rebahkan tubuhnya di atas tanah yang beralaskan dedaunan kering. Hembusan nafas yang keluar dari lubang hidungnya aku hirup dalam-dalam. Kini tubuhnya yang langsing nampak mengeliat setelah kuciumi lehernya, nafasnya pun mulai mengeluarkan suara desahan. Secara reflek, tangan kami berdua bergerilya mencari cari sarang persembunyian lawan. Karena terlalu nikmatnya, hingga aku tak sadarkan diri.
*
Pada sore hari sekitar jam 5, aku dibangunkan oleh pak Dokter dan 3 orang suster yang semuanya aku kenal. Aku bangun di kebun anggur yang kering dan gersang, dengan tanpa busana, sambil memeluk sebuah makam dan sebuah boneka usang yang juga tak berbusana dan berlubang di bagian alat vitalnya, aku kaget ketika melihat papan nama nisan makam tersebut bertuliskan R.I.P APRILLIA 1990. Astaga....! kegilaan macam apa ini?. Semuanya begitu nyata, sampai tak bisa kubedakan antara mimpi dan realitas, sepertinya aku memang masih harus tinggal lebih lama lagi di Rumah Sakit bersama para Dokter dan para suster yang baik dan penyabar. Pikiranku terasa lelah sekali, aku ingin pulang, semoga ini adalah realitasnya.

Aku raih pakaianku yang berserakan di tanah, lalu segera kupakai. Pak Dokter dan bu suster telah menungguku untuk membawaku pulang menuju Rumah Sakit Jiwa Vredigheid. Aku dimasukannya ke dalam mobil ambulan. Sambil menepuk nepuk pundakku, pak Dokter menceritakan jenis penyakitku, kalau tidak salah namanya Skizofrenia. Dalam perjalan pulang, masih terbayangkan sosok April dalam pikiranku, “Aprilku yang kucinta... entah siapa dirimu, entah darimana asalmu, entah bagaimana kamu datang dan entah kemana kamu pergi, aku ucapkan terima kasih yang sebesar besarnya, terima kasih telah memberiku pengalaman tak terlupa pada sebuah pagi yang lembab”.
*


Jogjakarta, 25 Juli 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar