Selasa, 04 Agustus 2015

SEBUAH PAGI YANG BASAH DAN AGUSTAS YANG HILANG


Sebuah cerpen lanjutan dari cerita sebelumnya:
Sebuah Pagi yang Lembab dan April yang Cantik.

Catatan April kepada Agustas:

“Haruskah ku katakan bahwa sesungguhnya aku juga mencintaimu, Gus? Kurasa tak perlu lagi kukatakan, percuma. Pastinya, kau pun sudah tahu jawabannya, Gus. Jawaban yang sekiranya mungkin membuatmu bahagia. Namun setelah itu kenyataannya, kita dibuat bersedih oleh perpisahan yang tiba-tiba datang tanpa permisi. Sebuah pagi yang lembab, pepohonan anggur yang rimbun, kicauan burung yang bersahutan, cahaya matahari yang menembus dedaunan dan tentunya dirimu yang kucintai. Yang kini juga aku rindui. Semuanya lenyap dalam sekejapan mata”.

Pagi itu, kita sama sama merasakan betapa surga telah berada di sekitaran kita, di kebun anggur yang rimbun. Ketika itu sentuhanmu telah sampai pada puncak titik kesempurnaanku. Dan ketika itu juga sentuhanku pun telah sampai pada puncak titik pencapaianmu. Semua menyatu dalam balutan sejuta rasa. Namun, pada pencapaian kita yang terakhir, dalam sekejap mata, akhirnya kita semua menghilang, hilang bersama dunianya masing-masing. Yang kuketahui, sesungguhnya hanya kau lah yang menghilang. Aku tetap disini di duniaku, terdampar di dalam sebuah pagi yang selalu lembab.

Agustasku yang tercinta, aku masih disini, ya masih disini. Di dalam sebuah pagi yang entah kenapa selalu lembab. Apakah kau mengerti, Gus? Kurasa tidak. Namun, tak apa lah jika kau tak mengerti dan tak mengetahui. Nanti kau akan tahu sendiri, Gus.

Aku teringat kembali ceritamu dahulu tentang penyakit jiwa yang kau derita sejak kecil. Kau bercerita, penyakit itu bernama Skizofrenia. Kau mengucapkan nama tersebut dengan sedikit gagu. Sepanjang yang kuketahui, penyakit tersebut menimbulkan gejala halusinasi dan paranoid bagi penderitanya. Ketika itu aku mulai sadar dan mengerti, Gus. Sesungguhnya bukan aku yang gila, tapi kau. Itu lah sebabnya terkadang aku tersinggung ketika kau ejek aku dengan sebutan “Wanita Gila”. Marahku itu mewakili perasaanku yang sesungguhnya ingin menginterupsi bahwa kau lah yang gila. Namun, aku juga tak boleh semena-mena mangatakan kau gila, sesungguhnya kau hanya sakit.

Tentang sakitmu yang entah darimana asalnya, pastinya pikiranmu telah dijejali gangguan halusinasi yang kemudian membuatku benar-benar mengerti, aku dan duniaku hanyalah halusinasimu, hanyalah buah pikiranmu. Lantas, apakah semua yang kuketahui itu membuatku sedih dan kecewa? Awalnnya iya, aku sedikit sedih. Betapa tidak, diriku yang kulihat di cermin begitu cantik, lengkap dengan aksesorisnya sebagai wanita remaja, bahkan lengkap pula dengan suasana sebuah pagi yang lembab, ternyata semua hanyalah semu belaka. Namun, seiring berjalannya waktu Gus, aku mulai terbiasa, aku mulai nyaman ketika bersamamu. Sosokmu begitu nyata, begitu pula diriku bagi dirimu. Tak ada satu orang pun yang ku kenal selain dirimu. Hari-hari bersamamu membuatku benar-benar lupa akan kesemuan diriku. Sudah kuanggap bahwa ini lah aku yang sesungguhnya, yang memiliki tubuh berbentuk wanita beserta segala pikiranku, sepengetahuanku.

Agustasku yang tersayang, kau adalah penciptaku, beserta sebuah pagi yang lembab sebagai latar panggungnya, membuatku menjadi hidup untuk ikut berperan serta di dalamnya sebagai aktrisnya, sedangkan kau merangkap sebagai aktor dan sekaligus sutradaranya. Sungguh begitu indah buah imajinasimu itu Gus, segala puji kutumpahkan kepadamu. Harus kah kusebut kau sebagai Tuhanku? Kurasa tidak perlu, cukup dalam pikiran saja.

Ingin aku bertanya padamu, apakah jauh sebelum aku diciptakan, saat itu kau sedang memikirkan seorang wanita? Apakah ketika itu kau sedang merasa kesepian dan membutuhkan sosok perempuan? Sehingga halusinasi yang muncul dalam pikiranmu adalah sosokku? Kali ini aku tak dapat menebak pikiranmu, Gus. Terlebih lagi kau adalah penciptaku, takkan mampu aku membaca pikiranmu.

Seiring dengan hilangnya dirimu kini, apakah halusinasimu tentang aku dan duniaku ini juga berakhir? Aku yakin pasti iya.

Kebersamaan kita di kebun anggur itu menjadi saksi perpisahan kita. Aku meyakini kemungkinan “Puncak Kenikmatan” kita bersama ketika itu menjadi penyebab hilangnya halusinasimu, sehingga musnah lah pula aku dari pikiranmu. Kalau memang itu penyebabnya, aku tak harus merasa bersalah padamu kan Gus? Itu artinya, kau mulai sembuh dari sakitmu, walaupun kesembuhanmu begitu menyakitkan untukku, setidaknya kau mulai bisa hidup dengan segala kenyataanmu. Terpaksa aku harus bahagia.

Sebuah pagi yang lembab yang kau ciptakan ini, kini telah menjadi sebuah pagi yang basah, gerimis mengguyuriku tanpa henti. Apakah kini kau sedang bersedih Gus? Atau sedang menangis? Sehingga langitku menjadi gerimis tiada henti? Aku mohon padamu Gus, hentikan kedehihanmu, aku kedinginan disini. Bergembira lah karena pulihnya jiwamu, aku ingin tersentuh hangatnya mentari di ufuk timur.

Agustasku yang sungguh-sungguh kurindui. Kelak jika suatu hari kau memikirkanku lagi, aku akan datang padamu.

***

Aprillia, 4 Agustus 1990

Jogjakarta, 4 Agustus 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar