Rabu, 13 Mei 2015

Gaga Sewaktu Kecil


Hari ini adalah hari ke-6 setelah Lebaran Idhul Fitri di tahun 1995. Di atas meja ruang tamu masih menyisakan beberapa jajanan: Astor, Wafer Nissin dan tidak ketinggalan pula Biskuit Kong Guan. Disanalah aku berada. Sebagai seorang anak kecil, aku suka sekali dengan cokelat, sama seperti anak kecil pada umumnya.

Sore ini, aku menyibukan diri dengan menjilati cokelat yang ada di beberapa biskuit Kong Guan, sisa-sisa biskuit yang cokelatnya telah kujilati aku masukan kembali ke dalam kalengnya, tujuannya adalah supaya tidak mubazir, terlebih lagi gigiku yang gupis terasa sedikit linu.

Waktu maghrib hampir tiba, aku mandi dengan sabun Casson Imperial Latter yang telah aku ukir menjadi bentuk televisi dan tidak lupa juga menyikat gigi dengan pasta gigi Kodomo rasa pisang, hmm... nikmat sekali mandiku.

Jam 7 malam, rumah kedatangan beberapa tamu. Mereka semua adalah kerabat baik ayahku di kantor. Silaturahmi memang sudah menjadi tradisi kami setiap lebaran Idhul Fitri. Mereka semua asyik mengobrol layaknya orang dewasa, sambil minum teh hangat, kopi dan juga makan biskuit Kong Guan dengan lahapnya.

Di dalam keramaian, aku menunjuk ke arah kaleng biskuit tersebut sambil berkata dengan lantang “Hiii.... padahal cokelatnya udah aku jilati...”.

Jumat, 08 Mei 2015

BIANGLALA IMAJINER


Sebuah cerpen fiksi

Banyak orang berkata “Jatuh Cinta itu Berjuta juta Indahnya”, tapi tidak denganku, bagiku jatuh cinta bermilyar milyar indahnya, aku bisa merasakannya, meskipun tidak pernah aku hitung hingga bermilyar jumlahnya karena ketika itu hitunganku terhenti diangka 14. Selanjutnya, waktu lah yang telah membuat hitungannya menjadi bermilyar milyar keindahan.

Pagi ini, bulan Januari tahun 1990 yang begitu lembab dan sejuk, aku menulis sambil mendengarkan kicauan sepasang burung merpati di dalam sangkar kayu yang di letakan tepat di atasku, di teras sebuah rumah besar peninggalan Belanda yang aku tinggali selama lebih dari 35 tahun bersama 5 temanku tercinta. Sementara, sudah kuhabiskan dua batang rokok kretekku dan secangkir kopi hitam dengan sedikit gula, cukup sederhana untuk menciptakan pagiku yang manis.

Sebagai seorang laki-laki tua yang entah sudah berapa tahun umurku, tidak banyak lagi aktifitas berat yang bisa aku lakukan. Aku tidak lagi muda. Bahkan tulang-tulangku kini sudah tak mampu lagi menopang beratnya sebuah tas carrier yang dulu sering aku pakai untuk mendaki gunung, kulitku yang kriput ini pun sudah tak mampu lagi berpapasan dengan teriknya matahari dan dinginnya puncak. Terlebih lagi aku sedang sakit yang entah sakit apa dan entah kapan akan sembuh.

Pagi ini adalah akhir pekan, aku sengaja tidak mandi dan tidak sarapan indomie kesukaanku. Karena dari dulu aku pun selalu begitu diakhir pekan. Seperti biasa, dari kejauhan, terlihat Nn. Martawi yang sudah aku tunggu-tunggu sedang memasuki pintu gerbang menuntun sebuah sepeda ontel tua dengan keranjang besi di belakangnya, membawa sekitar 6 bungkusan bubur ayam untuk kami. Yesss....!

Nn. Martawi adalah salah seorang perawat disebuah Rumah Sakit Jiwa Darkem, ya.. disini, tempat dimana aku dan 5 temanku tinggal selama 35 tahun lebih. Wajahnya yang manis, berambut hitam panjang, berbibir merah dan bertubuh montok, menyamarkan fakta bahwa sesungguhnya Nn. Martawi telah berumur 35 tahun. Ia tidak memiliki anak apalagi suami, ia habiskan seluruh hidupnya untuk mengabdi di Rumah Sakit Jiwa Darkem ini. Dia merupakan perawat yang rajin dan ulet, terbukti dengan segala keindahan dan kerapihan yang ada di Rumah Sakit ini, bahkan ia rela membersihkan kamar tidurku yang basah karena tidak sengaja aku kencingi ketika aku tidur. Terkadang aku malu dengannya, entah kenapa aku tidak bisa mengontrol keluarnya air kencing disaat aku tidur. Sehingga aku kerap memberikannya hadiah sebagai tanda terima kasihku kepadanya, hadiah yang aku buat sendiri, Sebuah lukisan pemandangan dua buah gunung kembar disebelah kanan dan kiri, dengan jalan berbelok yang dibuat mengecil ketika mendekati gunung, dengan sawah yang menguning, langit yang biru, 1 buah matahari kuning yang bundar dan seorang wanita di langit. Nn. Martawi bertanya “ Siapa wanita yang ada di langit itu Gaga?”, “Entahlah, mungkin malaikat” Jawabku sambil sedikit menaikan bahu. Nn. Martawi tersenyum sambil menganggukan kepala. Dalam hati, sebenarnya aku menjawab “Itu kamu”. Hahaa... Aku kira cukup sudah bercerita tentang Nn. Martawi, aku hanya tak ingin kalian mengenal lebih jauh tentangnya, karena bisa membuatku cemburu.

Waktu sudah menunjukan jam setengah sepuluh, sebungkus bubur ayam sudah aku habiskan, 2 batang rokok kretek pun sudah aku hisap pula. Kini aku harus meminum obatku yang jumlahnya satu lusin, salah satu obatnya bernama Benzodiazepin. Lalu aku bergegas menuju Aula Rumah Sakit bersama ke 5 temanku, dengan pakaian yang sedikit rapi.

Tepat jam 11 siang, aku dan 5 temanku mulai memasuki Aula dengan berjalan berjejeran layaknya aktor film. Sebelum memasuki ruangan Aula yang pintunya bertuliskan “No Smoking”, aku sempatkan mematikan rokoku di lidah lalu kusentilkan kearah atas menggunakan jari tengahku. Seperti biasa, kami diberi tepuk tangan yang meriah oleh 12 orang petinggi pengurus Rumah Sakit ini, termasuk juga Nn. Martawi yang senyumnya bisa aku lihat ketika aku mandi. Seperti yang sudah-sudah, selain  berdiskusi tentang perkembangan kesehatan kami, tujuan kami berkumpul di Aula juga karena para pengurus Rumah Sakit ingin membahas rencana acara seminar psikologi kejiwaan yang akan diselenggarakan oleh sebuah Universitas terkemuka yang ada di kota ini, besok senin pagi. Kami ber 6 diberi kehormatan untuk menjadi narasumber diacara seminar tersebut, walau tidak ada satu pun peserta yang hormat kepada kami, kami cukup senang.

Malam ini hujan dan salju turun dengan bersamaan, butiran salju yang menempel di dedaunan hanya mampu bertahan 4 detik saja karena langsung dilelehkan oleh tetesan air hujan. Seperti biasa, aku duduk berselonjor di kursi bambu panjang di teras Rumah Sakitku, sambil menulis dan menikmati kacang rebus buatan Nn. Martawi. Kali ini tidak seperti biasanya, aku tidak melihat ke 5 temanku di teras, di dalam, di luar dan dimana-mana. “Mba.. kemana perginya ke 5 teman tercintaku. Yudhistira, Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa?” Tanyaku kepada Nn. Delilah, salah seorang perawat yang kebetulan lewat dibelakangku. Ia tersenyum dan menjawab “Mereka disumbangkan oleh bapak direktur ke Museum Wayang Kulit milik pemerintah daerah tadi sore”. “Lho.. kenapa mereka disumbangkan? Aku khawatir mereka tidak bahagia disana”. Tanyaku yang merasa keheranan. Kuhisap lagi rokoku untuk mengurangi kegelisahan kemudian aku bertanya lagi, namun tiba-tiba Nn. Delilah sudah pergi. Aku bergegas berdiri melihat suasana disekitarku, aku masih benar-benar tidak menyangka, mereka meninggalkanku begitu saja setelah bertahun-tahun kami hidup bersama, bermain bersama, bersendau gurau bersama, bercakap-cakap bersama. Aaah... aku tidak suka suasana seperti ini, perasaanku tidak karuan, aku merasa linglung, jantungku berdebar kencang, kepalaku seakan berputar-putar. Aku berlari ke tengah lapangan di depan teras, kurebahkan tubuh rentaku bersama guyuran air hujan dan salju, seekor burung gagak hitam beterbangan di atasku dengan suaranya yang khas. Dari pintu Rumah Sakit, terdengar Nn. Martawi memanggilku “Gaga, masuk lah.. aku tak ingin kamu demam”. “Yaaa... aku masuk”. Aku berdiri dan kemudian berjalan masuk.

Di dalam rumah, Nn. Martawi memberiku handuk dan pakaian kering sambil menanyaiku “Sebenarnya apa yang telah terjadi Gaga?”. Lalu aku ceritakan semuanya tentang kepergian 5 temanku itu. Nn. Martawi memelukku untuk membuatku tenang, bukannya tenang, aku malah menjadi tegang.

Ini adalah senin pagi yang cerah, Aku tidak bisa lagi mendengar celotehan para sahabatku. Aku lekas bergegas mandi menggunakan air kelapa yang baru saja aku petik dari pohon di depan Rumah Sakit. Rok merah dan jas hitam juga telah aku siapkan di atas meja kamarku untuk aku kenakan di acara seminar tersebut. Setelah semua perlengkapanku telah siap, Nn. Martawi menawarkan diri untuk mengantarku, aku meng-iyakan tawarannya. Karena lokasinya cukup jauh dan Rumah Sakit hanya memiliki satu mobil, maka kami berdua berangkat menggunakan mobil ambulan. Kami siap berangkat dengan Nn. Martawi sebagai sopirnya. Ditengah perjalanan terkadang aku terpaksa menyalakan sirene agar tidak terjebak kemacetan ketika melewati perempatan atau pertigaan. Setelah satu jam perjalanan, akhirnya kami sampai disebuah gapura besar yang dipasangi spanduk bertuliskan “Selamat datang para peserta Seminar Psikologi Kejiwaan”.

Kedatangan kami rupanya disambut dengan hangat oleh panitia. Sambil tertawa cekikikan, para panitia memandu kami menuju ruang Seminar yang gedungnya besar. Aku memgang erat tangan Nn. Martawi untuk menghilangkan rasa gerogiku. Setelah moderator selesai berbicara, panitia mempersilahkan aku duduk ditempat duduk tepat ditengah backround panggung, sedangkan Nn. Martawi duduk di kursi VVIP. Langkah kakiku diiringi oleh tepukan tangan dan tawaan yang sangat riuh oleh para peserta. Kemudian aku duduk sambil memandang cahaya matahari yang menembus salah satu kaca jendela gedung. Sebelum berdiri dan berbicara, aku menyempatkan untuk menyalakan rokokku agar lebih percaya diri, walaupun aku dianggap gila tetapi aku tetap butuh yang namanya rasa percaya diri. Pembicaraanku pun dimulai dengan tanya jawab.

Peserta 7: Pak, kenapa anda memakai jas hitam dan rok merah?

Aku: Karena jas yang coklat dan rok yang hitam sedang dicuci.

Peserta 22: Jika anda masih ingat, tolong jelaskan apa yang terjadi dengan kaki kanan anda, mengapa menggunakan kaki palsu?

Aku: Pertanyaan bagus nak... aku tak pernah lupa. Kaki kananku patah sudah sejak aku duduk di bangku SMP, ketika itu aku sengaja mematahkannya menggunakan balok kayu yang kupukulkan berkali-kali, sekedar untuk membuktikan kepada kekasihku bahwa putus cinta dengannya lebih menyakitkan dibanding patahnya kakiku.

Para Peserta: Huuuuuuuuu....

Peserta 34: Kalau boleh tau, Kenapa anda begitu mencintai kekasih anda ketika itu?

Aku: Sebagai remaja laki-laki, aku sangat menyukai aktifitas seks. Hanya dengan dia, aku bisa merasakan sensasi seks yang sehebat-hebatnya, bagaikan Bianglala.

Peserta 35: Sensasi seks hebat macam apa yang anda rasakan ketika bersamanya?

Aku: Hmm... Bagiku dia itu unik. Wajah, suara, rambut, postur badan, warna kulit, pikiran, sifat, umur, payudara dan bahkan maaf, vaginanya pun bisa berubah ubah sesuai dengan yang aku inginkan. Hahaha...

Para Peserta: Huuuuuuuuuu.....

Sejenak suasana gedung menjadi riuh oleh tepukan tangan para peserta. Aku sempatkan meminum teh hangat yang disiapkan panitia untuk menyegarkan tenggorokanku.

Peserta 4: Saya penasaran, masa iya sih ada perempuan seperti dia. Tolong ceritakan awal anda bertemu dengannya!

Aku: Pada suatu siang, di Sekolah SMPku. Aku mengikuti pelajaran bhs. Indonesia di perpustakaan bersama 35 siswa yang lain. Ketika itu, Ibu guru menjelaskan panjang lebar tentang penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, sedangkan aku lebih memilih untuk melamun hingga ketiduran.

Peserta 4: Lalu???

Aku: Tidak ada satu pun teman-temanku yang membangunkanku, keterlaluan sekali mereka, teman macam apa itu! Sialnya, aku terbangun setelah maghrib. Beberapa saat setelah aku menyalakan sakelar lampu, baru lah sosok cantiknya muncul dari balik lemari buku. Aku mendekati untuk mencoba berkenalan.

Peserta 3: Siapa namanya Pak?

Aku: Dengan nada yang lirih, dia berkata “Ima”. Sejak saat itu, hubungan kami semakin hari semakin dekat layaknya orang dewasa yang bersuami istri. Dia selalu mengajaku berkelana keliling Dunia, sekedar untuk mencari sensasi berhubungan seks yang ekstrim.

Peserta 105: Bagaimana caranya kalian keliling Dunia diusia yang semuda itu?

Aku: Mudah saja bagi Ima, aku hanya disuruhnya memilih salah satu tempat yang ada di buku Atlas kemudian aku tidur sambil memeluknya. Setelah itu, aku terbangun dan telah berada ditempat yang aku inginkan. Misalnya ketika aku menginginkan sebuah pegunungan Es Alven, maka kami sampai disana. Ketika itu kami tinggal disebuah kabin kayu berukuran 5 kali 5 meter, diantara pohon-pohon cemara yang dihujani oleh salju, dengan pegunungan es sebagai backgroundnya. Seperti biasa, dicuaca yang dingin seperti itu, hal yang paling menyenangkan adalah bercinta, telah tersedia pula coklat cair hangat yang bisa kami pakai untuk berendam bersama. Hmmm... aku masih ingat betul manisnya coklat tersebut yang aku jilati di lehernya.

Para Peserta: Huuuuuuuuuuuuuuuuu....

Nn. Martawi: Hayoo pak Gaga... jaga ucapan...

Aku: Oke Nona...

Peserta 58: Hahahaha... mendengar cerita anda, sungguh membuatku iri Pak Gaga. Menurut anda, perjalanan kemana kah yang paling berkesan?

Aku: Perjalanan paling berkesan, Gunung Walu, Di gunung itu lah kami terpisah hingga detik ini.

Peserta 29: Tolong ceritaan kronologi terpisahnya anda dengan sosok Ima!

Aku: Pada suatu sore, kami berjalan menyusuri hutan yang kering. Semangatku membara walaupun berjalan dengan terseok-seok karena kaki palsuku yang sering kendor bautnya dan tas carrier yang berat. Sesekali si Ima menyemangatiku “Gaga.. Gaga.. Gaga..!” Setelah berjalan selama 2 jam, tepat ketika mentari mulai menghilang dan langit mulai menghitam, kami sampai di dua pohon beringin besar sebelum mencapai puncak. Kami berjalan di antara dua beringin tersebut, itu lah awal mula terpisahnya aku dengan Ima. Setelah beberapa detik aku melewati dua pohon beringin tersebut, tiba-tiba aku telah berada disebuah hutan besar yang ditumbuhi aneka macam pepohonan yang ukurannya besar-besar dan dipenuhi dengan semak belukar. Aku berteriak memanggil Ima, tapi tidak ada jawaban. Aku pun berlari kesana kemari mencari Ima, tapi tetap saja tidak kutemukan. Jangankan menemukan Ima, petani yang lewat pun tidak ada. Pencarianku tersebut berlangsung hingga 5 tahun, aku terjebak di dalam hutan yang sangat besar.

Para Peserta: Huuuuuuuuuuuuu.....

Tidak terasa waktu menunjukan jam 12 siang, acara seminar diistirahatkan sejenak hingga jam 1. Aku dan Nn. Martawi dipersilahkan makan siang dengan nasi kotak lezat yang diberikan oleh panitia. Kami makan di bawah sebuah pohon ketapang yang rindang di samping gedung, nikmat sekali. Sesekali Nn. Martawi menyindir tentang Ima, aku hanya bisa tertawa. Akhirnya waktu istirahat pun telah habis, seminar kembali dilanjutkan.

Aku: Ya.. Singkat cerita, aku tidak pernah menemukan Ima lagi hingga detik ini.

Peserta 17: Lalu apa yang anda temukan?

Aku: Nah... Pertanyaan yang bagus nak. Setelah aku menemukan sungai dan mencoba menyusurinya selama 7 bulan, aku menemukan sebuah Rumah Besar peninggalan Bangsa Belanda. Di atas pintu gerbangnya bertuliskan “Rumah Sakit Jiwa Darkem”. Kemudian aku masuk, aku melihat 5 orang yang sedang bermain bola di udara. Perasaanku lega sekali karena untuk pertama kalinya dalam 5 tahun akhirnya aku menemukan orang yang bisa kuajak bicara. Mereka menyambutku dengan ramah, kami pun berkenalan, mereka memiliki nama Yudhistira, Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa. Sejak saat itu lah mereka menyuruhku untuk tinggal saja di Rumah Sakit tersebut. Aku diperkenalkan kepada para pengurus Rumah Sakit untuk mendapatkan ijin tinggal. Akhirnya, aku tinggal menetap disana hingga sekarang ini yang telah berjalan selama lebih dari 35 tahun. Aku senang sekali tinggal disana bersama orang-orang yang mau menerimaku apa adanya, walaupun terkadang juga sedih ketika tiba-tiba teringat kembali tentang Ima yang entah kemana perginya. Nah.. begitulah sedikit ringkasan tentang hidupku. Mohon maaf apabila ada kata-kataku yang tidak berkenan di hati kalian semua.

Tepuk tangan para peserta menggema di dalam gedung Seminar tersebut, mengiringi aku yang berjalan menuju kursi VVIP untuk kembali kepada Nn. Martawi.

Moderator: Yaa... barusan kita telah mendengarkan sebuah cerita hebat pengalaman hidup dari seorang imajiner yang menderita kelainan jiwa sejak kecil. Pelajaran yang bisa kita ambil darinya adalah tentang betapa luasnya Imajinasi, imajinasi dapat menciptakan Dunianya sendiri, Dunia yang hanya bisa dirasakan oleh tiap-tiap individu yang mengalaminya. Berimajinasi lah sesuai kemampuan kalian masing-masing, tapi ada satu hal yang harus digaris bawahi. Imajinasi itu ada batasannya, kalian harus bisa membedakan mana imajinasi yang positif dan mana imajinasi yang negatif. Selain itu, kalian juga harus bisa membedakan mana yang sebenarnya Imajinasi dan mana yang kenyataan. Itu lah yang membedakan antara manusia yang sehat dan yang sakit jiwanya.

Setelah acara seminar ditutup oleh moderator, kami meninggalkan ruangan sambil bersalaman dengan para pengurus acara dan tamu-tamu yang lain. Sebelum aku masuk ke mobil, seorang peserta yang cantik memberiku sebuah bingkisan kecil sebagai ucapan terimakasih, katanya. Lalu aku masukan ke dalam kantong jasku. Kemudian kami pulang, kali ini aku yang menyetir.

Waktu menunjukan jam 4 sore, ditengah perjalanan Nn. Martawi terlihat sedikit murung dengan memalingkan wajah ke kaca sebelah kiri, lagi lagi ia menyinggungku tentang Ima.

Nn. Martawi: Apakah kamu masih mencintai Ima?

Aku: Mmm.......

Nn. Martawi: Jawab!

Aku: Iya, aku masih mencintainya!

Nn. Martawi: Owh.. aku ingat ceritamu yang tadi bahwa Ima bisa menjelma menjadi sosok yang berbeda-beda.

Aku: Iya.. itu benar.

Nn. Martawi: Bagaimana jika aku adalah Ima?

Aku: Hahaha... Tak mungkin... jangan bercanda ah...

Nn. Martawi: Aku tanya, Bagaimana jika aku adalah Ima?

Aku: Hmmm.... Aku ingin keliling Dunia bersama.

Nn. Martawi: Dunia macam apa yang kamu inginkan Drimiku?

Aku kaget bukan kepayang mendengar kata “Drimiku” keluar dari mulutnya. Seketika tubuhku menjadi kaku, lalu aku mencoba menoleh kearahnya. Dan ternyata memang benar, yang aku lihat sudah bukan lagi Nn. Martawi, melainkan sosok yang tidak aku kenal. Laju mobil semakin tak terkendali. Ia bertanya lagi.

No Name: Dunia macam apa yang kamu inginkan Drimiku?

Aku: Dunia Nyataaa!!!

No Name: Keinginanmu akan segera terkabulkan Drimiku.

Dan mobil ambulanku terperosok ke dalam jurang sedalam 17 meter lalu kemudian masuk ke dalam danau. Aku sempatkan membuka bingkisan kecil yang tadi aku masukan kantong, astaga... ternyata berisi sebuah foto usang yang menggambarkan masa kecilku di SMP, sedang tergantung kaku di ventilasi pintu perpustakaan sambil memegang buku Atlas. Dalam hati aku berkata “Siapa kah perempuan cantik yang memberikan bingkisan kepadaku?”.


Jogjakarta, 28 April 2015

Senin, 30 Maret 2015

DEVIL’S BRIGADE

Ghost and Monsters Character


Berkat Rahmat Allah SWT, akhirnya buku yang berjudul “Devils Brigade” ini berhasil dicetak dengan kertas dan dengan tinta yang full colour. Ini merupakan semangat revolusi iseng daripada tidak mengerjakan apa-apa.

Buku “Devils Brigade” ini merupakan kumpulan dari 10 karya ilustrasi karakter monster yang keseluruhannya dibuat secara manual (Gambar tangan) dan digital (Komputer) pada bulan September 2011.

Arti kata “Devils Brigade” sendiri adalah Pasukan Iblis, dinamakan Pasukan Iblis karena secara fiksi masing masing karakter diberi sifat sebagai monster yang jahat, dan jika disatukan maka akan menjadi sebuah Pasukan yang berbahaya. Karakter tersebut diberi sifat jahat karena ketika dalam proses pembuatan ide bentuk dan ide cerita, banyak dipengaruhi oleh pemikiran - pemikiran negatif. Sehingga munculah ide-ide karakter makhluk yang oleh sebagian besar teman-teman saya, terkesan menyeramkan.

Sebenarnya, cerita pendukung yang ada diperbagian karakter hanyalah fiktif belaka. Hanya sebagai pelampiasan imajinasi yang terbelenggu. Dan juga sebagai proses pembelajaran saya dalam bidang menulis. Oleh sebab itu, mohon maaf yang sebesar - besarnya apabila tulisan dan gambar saya kurang berkenan dihati dan menakuti para pembaca.

Yogyakarta, 4 Februari 2015

OASISTA

Konon kataku, seekor monster betina yang berekor satu tanpa kaki ini telah hidup beratus ratus tahun lamanya disalah satu Gurun Pasir besar yang ada di Negara Mesir. Ia bernama Oasista.

Keunggulan monster kanibal ini adalah mempunyai mulut besar di bagian perut yang berisikan gigi gigi tajam (seperti Hiu) dan aneka macam bakteri (seperti Komodo). Dari dalam mulutnya yang nampak seperti pembuangan sampah itu, tercium bau yang sangat busuk, bahkan karena saking busuknya, lalat pun menghindarinya. Sedangkan topeng langka yang dipakainya tersebut merupakan topeng peninggalan kuno di jaman Fir’aun.

Aktifitas kesehariannya banyak dihabiskan dengan berendam di dalam sebuah sumur tua yang berada di tengah Gurun Pasir tersebut, sebuah sumur ghoib yang berdiameter tiga meter dengan kedalaman kurang lebih 1.404 meter, bahkan saking dalamnya, cahaya matahari pun tidak dapat membantumu melihat kondisi airnya.

Manusia-manusia yang tersesat dan kehausan adalah makanan utamanya, ia membunuh apabila ada manusia yang mencoba mendekati sumurnya, ketika si manusia telah berada di pinggiran tembok sumur lalu mulai menarik ember katrol, disitulah Oasista bersiap siap sambil duduk di atas ember yang secara perlahan membawanya menuju ke atas.

Apabila kamu menyempatkan diri bertamasya ke Gurun Pasir Mesir, jangan lupa mampir dahulu ke Negeri Arab, untuk menunaikan Ibadah Haji.

LARACK

Larack adalah sehantu yang berjenis kelamin wanita tua sekali, yang telah lama mati dan kemudian hidup lagi selama 237 tahun disebuah hutan subtropis di pedalaman Kepulauan Fiji Oceania. Nenek tua ini hidup tanpa kaki dan berjalan menggunakan kedua tangan anehnya dengan beralaskan mancung kelapa, dalam bahasa jawa dinamakan blarak.

Semasa hidupnya, Larack merupakan korban pembantaian para perampok, kaki dan tangannya menjadi saksi bisu kekejaman para perampok tersebut. Bahkan setelah kaki dan tangannya di potong, ia diperkosa secara bersamaan oleh para perampok kejam tersebut hingga meninggal dunia. Kemudian mayatnya digantung di ujung pohon kelapa menggunakan tali tambang. Setelah 57 tahun kepergian para perampok dari kepulauan Fiji, Larack bangkit kembali sebagai hantu yang membawa dendam dan siap untuk membunuh.

Saat ini aktifitas yang paling sering dilakukan si Larack adalah membasmi para Perampok. Sebaiknya kamu jangan menjadi perampok jika ingin hidup lama setidaknya 2 atau 3 hari ketika kamu tersesat di hutan kepulauan Fiji Oceania.

BUNCHIT

Konon kataku, Bunchit pernah ditemukan secara tidak sengaja disebuah pemakaman kecil yang rimbun dan lembab di Desa Penikel oleh seorang mahasiswa. Ketika pertama kali ditemukan, Bunchit sedang berjalan sendirian melewati perkemahan pada malam hari saat bulan sabit.

Jika dilihat dari bentuk anatominya, hantu yang berjenis kelamin laki-laki ini berjalan dengan kedua tangannya. Sedangkan kedua kakinya tidak dapat difungsikan sebagai mestinya, karena terlalu kecil dan tidak memiliki tulang yang kuat. Sesosok kepala kecil yang menempel di tangan kirinya merupakan teman abadinya. Itulah yang membuat si Bunchit terkadang tertawa cekikikan sambil mengayun-ayunkan perut buncitnya sebagai tanda kegembiraannya.

Konon kataku, setiap orang yang secara tidak sengaja mendengarkan tawa cekikikannya pada malam hari, maka orang tersebut akan kehilangan kesadaran hingga memunculkan imajinasi-imajinasi tentang cara bunuh diri terhebat. Pada akhirnya para korbannya tersebut tidak pernah ditemukan raganya.

ROLLA

Hantu wanita belia ini hidup sebagai akrobatik Sirkus di Dunia Ghoib. Dalam kegiatannya berakrobat, ia bermain dengan roda kecil ditangannya, menggelinding di sebuah kawat api berduri pada ketinggian 12 meter di atas permukaan panggung Sirkus.

Jika dilihat dari kondisi fisiknya, Kedua kakinya sudah tidak berfungsi lagi akibat terkena Tetanus saat dahulu menyeberangi lautan bersama kekasihnya. Walaupun kedua kakinya tidak berfungsi, namun gerakan tubuhnya terlihat sangat lincah ketika sedang beraksi menghibur para penonton Sirkus.

Para penonton yang sebagian besar di dominasi oleh manusia, benar-benar disuguhkan dengan atraksi-atraksi yang menakjubkan. Para penonton dibuatnya bergembira hingga lupa diri. Uniknya, tanpa disadari oleh para penonton, pertunjukan tersebut sesungguhnya berlangsung selama 29 tahun. Entah kenapa, setiap akhir pertunjukan, para penonton yang kehilangan kesadaran, saling membunuh satu sama lain. Siapapun yang berhasil bertahan hidup hingga akhir, akan diberikan hadiah unik berupa penyakit Skizofrenia.

Saat ini pertunjukan Sirkus Ghoib tersebut sudah jarang ditemukan karena tergerus era globalisasi.

LENTHERA

“Jangan pernah menatap cahaya lenteranya dikegelapan malam atau kau akan tersesat diantara Mati dan melayang-layang”. Sebuah pesan yang sebetulnya tidak perlu kamu anggap serius karena hanya fiktif belaka.

Alkisah, hantu wanita ini merupakan jasad dari seorang wanita cantik keturunan Belanda yang disiksa oleh tentara Jepang karena melakukan politik adu domba atau Devide et Impera terhadap tentara Jepang. Ia disiksa dengan cara menjepitkan besi silinder diantara paha dan betisnya, sehingga setiap rodanya berputar maka besi silinder tersebut akan melukai paha dan betisnya. Selain itu, kedua tangannya juga diikat ke belakang bersamaan dengan tiang penyangga lampu Lenteranya.

Cahaya lampu Lenteranya yang berwarna kuning ke emasan itu tidak pernah padam, walaupun hujan dan badai menerjang pun.

JHONES

Menurut cerita yang aku karang sendiri, Jhones merupakan hantu laki-laki dewasa yang semasa hidupnya sering melakukan seks bebas. Seks yang benar-benar bebas, tanpa aturan, tanpa logika. Selain dengan manusia yang berjenis kelamin perempuan, ia juga kerap melakukan seks terhadap binatang (Bestially), tumbuhan, udara dan benda mati. Benda mati yang dimaksud adalah, Jenazah atau mayat (Necrophilia).

Sehingga pada titik puncak kejayaannya, ia mendapatkan hukuman yang menyakitkan. Sekujur tubuhnya disiksa, bagian kepala disiksa menggunakan besi penjepit, lehernya berlapis besi yang dalamnya memiliki duri, tulang rusuk kanan dan kirinya ditusuk menggunakan samurai berkarat, perut bagian bawah dilubangi untuk mengeluarkan kotoran (Pengganti Anus), kedua kakinya dilipat dan diikat menggunakan kawat berduri, alat kelaminnya pun ditusuk dan diberi pemberat berupa guci untuk menampung nanah dan darah yang menetes dari lubang kelamin.

Hukuman tersebut membuatnya menjadi hantu yang abadi, sehingga aktifitas yang bisa ia lakukan hanyalah merintih menahan perih.

RUNNY

Runny adalah hantu yang terdiri dari 2 makhluk, yaitu lelaki kurus tinggi dan seekor burung unta tanpa kaki. Mereka berdua hidup berdampingan dan tak pernah terpisahkan selama lebih dari 872 tahun.

Runny sangat mahir menembak walaupun tidak bisa melihat, hanya burung untanya saja yang bisa melihat dan menunjukan jalan, bahkan dikegelapan malam, penglihatan burung untanya dapat mencapai radius 17 km.

Konon kataku, Kebersamaan mereka terjalin dengan baik karena dahulu Runny pernah menyelamatkan nyawa si burung unta dari serangan para pemburu. Sehingga membuat si burung unta mengabdikan diri untuk menjadi Navigator Runny yang memang tidak bisa melihat.

AMAZONERECTUS

Sesosok makhluk jantan yang ada di pedalaman hutan Amazon. Tubuhnya dipenuhi pernak - pernik seperti gembel yang ia dapatkan dari setiap orang yang ia bunuh. Selain itu ia juga mempunyai wajah yang dilindungi oleh kepala babi hutan yang telah memumi. Secara pengamatan ia tergolong makhluk pemakan segalanya baik matang, mentah atau pun busuk.

Diantara ke 10 karakter yang ada di buku ini, Amazonerectus adalah yang terkuat ke 2, karena memiliki bentuk anatomi tubuh dan kekuatan fisik yang lebih sempurna. Dia pun telah survival (Bertahan Hidup) di hutan selama 14.041.990 tahun. Alam dan waktu telah membuatnya menjadi yang terkuat.

Aktifitas yang paling sering ia lakukan adalah berburu (Manusia, Binatang dan Hantu). Sebelum memburu manusia, ia terlebih dahulu memburu binatang, seperti: Kelinci, Ayam, Kucing, Kera, Merpati, Kupu-kupu dll. Yang kemudian dilatih menjadi binatang buas yang haus darah dan sangat agresif terhadap manusia. Ia juga penguasa dunia hantu, eksekutor para hantu yang pembangkang dan Guru Besar para hantu di hutan Amazon. Namun dibalik sifat kejamnya itu, ia memiliki sebuah perasaan layaknya manusia. Kita menyebutnya “Cinta”. Cintanya yang begitu besar dan bertepuk sebelah tangan, ia curahkan kepada “Niponk”, sesosok makhluk sihir betina penguasa Pegunungan Himaguna yang sangat kuat. Telah beratus ratus tahun pula Amazonerectus telah mengejarnya namun selalu mendapat penolakan.

Langkah kakinya yang begitu cepat, menghasilkan bunyi yang khas “krak krak krak”.

ANGCRACK

Angcrack merupakan hantu bertopeng tengkorak yang hidup sebagai pendongeng di dunia Ghoib, ia menggunakan media boneka kayu aneh yang selalu ia bawa kemana pun. Setiap malam senin ia mendongeng tentang sejarah para hantu, dari asal usulnya hingga kebudayaannya. Dan yang paling ramai penonton adalah ketika malam bulan purnama, dimana ia berdiri di atas permukaan danau yang dikelilingi oleh rimbunnya pohon - pohon Baobab yang menjulang tinggi dan para penonton yang memenuhi area sekitar danau dengan membawa lilin merah, disana ia membawakan dongeng “Misteri Ana dan Jose” yang menceritakan tentang kisah perjalanan dua hantu dalam menyelidiki sebab - sebab kematian mereka, dengan bantuan sebuah buku catatan misterius yang mereka temukan di dasar lautan, tidak jauh dari tempat dimana kapal layar mereka tenggelam.

Dongeng malam bulan purnama tersebut juga selalu dimeriahkan dengan lantunan musik mendayu dayu yang terdiri dari bunyi - bunyian raungan 7 serigala, hentakan kaki roh prajurit, ringkikan kuda yang sakit, lonceng tembaga, gesekan dedaunan kering, patahan ranting pohon, rintihan tangis 3 roh gadis berkepala botak dan 14 roh pasukan seriosa wanita bergaun merah. Dayuannya menggema hingga ratusan kilometer.

NIPONK

Di antara 10 karya ilustrasi karakter yang ada di buku ini, Niponk menduduki peringkat pertama sebagai hantu yang terkuat dan terganas. Karena ia memiliki keunggulan pada ilmu sihirnya. Hutan besar yang ia tinggali mampu disulap menjadi Labirin kematian yang sangat luas.

Konon kataku, pernah ada 13 rombongan pendaki gunung yang tersesat, hilang dan belum ditemukan sampai sekarang, ke-13 rombongan itu mulai hilang ketika melewati 2 pohon Beringin besar yang kemudian masing - masing dari mereka memasuki dunia Labirin, 1 orang mendapatkan 1 Labirin Kematian yang akan membuat mereka berputar - putar hingga akhir hayatnya.

Menurut sejarah yang ada, Niponk merupakan sesosok hantu wanita yang telah berumur 10.000.000 tahun, 4.041.990 tahun lebih muda dari Amazonerectus, pemujanya. Wajah di balik topeng peraknya hanyalah ruang hampa, jadi jangan berharap kalian bisa melihat wajahnya.

Seluruh ilustrasi dan cerita hanyalah fiktif belaka, terima kasih telah menyempatkan waktu untuk berkunjung, semoga bermanfaat.

Jumat, 27 Maret 2015

Menunggu Gerhana Bulan


Dialog singkat seekor ayam jantan dan sahabatnya, telur.

Disuatu senja yang dingin disebuah gubug kayu di tengah padang sabana yang hijau. Tinggal lah dua makhluk hidup, satu ayam dan satunya lagi telur. Di atas genting gubug tersebut mereka berdua duduk memandang langit hitam sambil bercakap-cakap sembari menunggu gerhana bulan yang katanya jatuh pada malam itu. Dua cangkir kopi hitam pun telah disediakan untuk menambah nikmatnya malam itu.

Telur:  Tak terasa... matahari telah terbenam, yang secara otomatis membuat saudara-saudara kita di seluruh Dunia menjadi tidak berani keluar rumah.

Ayam: Sesungguhnya matahari tidak pernah tenggelam atau pun terbit. Bumi lah yang berputar, Lur. Saudara-saudara kita boleh saja takut dengan malam, karena mereka hanya mengikuti tradisi turun-temurun dari nenek moyang. Kita tidak, karena kita beda. Kita adalah penikmat malam, Lur. Duduk rileks di atas gubug, minum kopi sembari menunggu gerhana bulan.

Telur: Ooo... Bumi ini berputar, pantas saja aku merasa sedikit pusing...

Ayam: Itu karena kamu takut ketinggian, Lur. Takut jatuh, takut pecah...

Telur: Ooo... iya yah...

Ayam: Lur... Aku heran, mengapa saudara-saudara kita takut pada malam?, padahal bagiku, malam merupakan suatu keindahan, seperti sebuah lukisan. Kita jadi bisa melihat burung Elang hitam itu yang sedang terbang mondar-mandir melintasi bulan purnama. Selain itu, kita juga bisa melihat Serigala yang sedang melonglong di ujung bukit batu tersebut saat bulan purnama.

Telur: Itu sih keindahan yang mengancam, Yam...

Ayam: Hahaha... Bodo amat... setidaknya kita jadi bisa tahu, Lur. Sesuatu yang indah ternyata bisa juga menjadi ancaman.

Telur: Hmm... sepertinya sang Elang dan serigala sedang mendekat kearah kita, apakah itu sebuah ancaman Yam?

Ayam: Hahaha... kita anggap saja ini bukan ancaman, tapi kesempatan, kesempatan buat kita lebih mendekat kearah Bulan yang sedang bulat-bulatnya. Kamu ikut bersama sang Elang, aku bersama sang Serigala.

Dua jam kemudian, akhirnya Bulan menunjukkan Gerhananya. Genting gubug hanya menyisakan dua cangkir ampas kopi yang telah disemuti.


***

Sabtu, 21 Maret 2015

INDRA dan INDRI


Bacalah ketika pelajaran kosong

Indra : Semenjak awal kita putus, sesungguhnya aku ingin menyampaikan ini, Ndri. Maafkan semua kesalahanku yang dahulu, semenjak kita pacaran, aku selalu menyakitimu, aku pernah selingkuh hingga menghamili sahabat karibmu, si Vera. Kini Vera telah ku nikahi dengan diam-diam, tanpa undangan. Aku pun kini sudah meminang seorang bayi laki laki yang lucu. Tapi, hari hariku selalu dirundung kegelisahan, selalu dihantui rasa bersalah. Aku bersalah padamu..

Indri : Ya ampun.. Semuanya sudah aku maafkan, Indra. Malahan aku pun sudah lupa, hehehe..

Indra : Ah.. mana mungkin kamu melupakannya! Bukankah itu menyakitkan? Bukankah sesuatu yang menyakitkan itu adalah hal yang sulit untuk dilupakan?

Indri : .....................

Indra : Jawab Indri..!

Indri : Indra.. apakah kamu lupa? Hehehe

Indra : Lupa apa?

Indri : Sesungguhnya, semua kenangan tentang kita, sudah lama menghilang dariku. Aku ini sudah mati Indra.. 2 tahun yang lalu. Aku bunuh diri, aku melompat dari ketinggian puncak Jembatan Biru di Kota Kelahiran kita. Ah.. kamu pasti ingat sayang..

Indra : Ya.. aku ingat. Tetapi tak mungkin! Kamu terlalu nyata untuk kusebut hantu! Tapi.. nyatanya, kamu memang benar benar telah menghantui pikiranku.

Indri : Indra.. Aku ada, karena terlalu kamu pikirkan. Tenangkan pikiranmu..

Indra : Tidak.. apakah jika pikiranku telah tenang, maka kamu akan menghilang? Sesungguhnya, aku tak ingin kamu menghilang.

Indri : Mungkin untuk sementara, iya..

Indra : Jangan.. jangan menghilang, tetaplah disini bersamaku. Aku sudah tak punya apa apa lagi selain sosokmu.Aku sudah membunuh bayiku yang lucu dan Veraku yang cantik bersama kobaran api di dapur rumahku.

Indri : Hmm.. Aku mau bersamamu, asalkan kamu sanggup melukiskan paras wajah manisku diseluruh dinding rumahmu ini menggunakan darahmu. Sederhana bukan?

Indra : Ha..ha..ha..haa.. Hanya itu kah? Ya ampun.. terlalu mudah buatku, Indri.. Ha..ha..ha..haa..

Indri : Bagus.. Jika kamu menginginkan sesuatu yang lebih padaku, pakailah aku kapanpun kamu mau, ketika aku merasuki jasad Vera mu yang cantik,  yang gosong, yang kau umpatkan di gudang bawah tanah.

Indra : Oooh.. sungguh perhatian sekali kamu padaku. Terima kasih Indri.. Aku mencintaimu..

***