Jumat, 26 Juni 2015

#2 TRILOGY DIARY

CATATAN AKHIR KUPU


Sebuah Cerpen Fiksi Kedua Tentang Kupu-kupu

Sembari menunggu hujan reda, aku sempatkan untuk menghabiskan setetes madu menu sarapanku dipagi ini. Madu super nikmat yang aku kumpulkan dari bunga pohon kamboja tadi malam. Kesunyian jiwa dan lembabnya udara disekitar pohon kamboja semalam telah memberiku secercah semangat beserta inspirasi, sehingga secara tak sadar, aku mampu meracik suatu ramuan madu yang nikmat dari tujuh bunga kamboja yang berbeda warna. Aku menamakannya Madu Pelangi.
Perkenalkan, aku adalah seekor kupu-kupu jantan bersayap merah jingga yang tampan. Satu tahun yang lalu, aku menemukan buku kecil ini tergeletak di bawah sebuah pohon mangga. Setelah aku baca ternyata ini merupakan sebuah buku catatan harian seekor semut bodoh yang mati karena meminum racun serangga, hahaha. Sebuah catatan yang menurutku tidak menarik sama sekali, tetapi buatku itu cukup menghibur lah dan harus aku syukuri pula, karena adanya dia, aku bisa ikut menulis di bukunya.
Inilah aku, seekor kupu-kupu jantan, sejenis fauna yang diagung-agungkan oleh manusia, namaku sering dihadirkan pada sajak dan lagu-lagu mereka, aku pun selalu menjadi icon tanda cinta oleh manusia. Sebagai kupu-kupu yang teramat kecil bagi Dunia, aku sangat bangga atas diriku. Aku ditakdirkan terlahir menjadi kupu-kupu, bukan semut. Aku pernah mendengar para manusia bercakap tentang filosofi semut, mereka berkata: “Hidup harus saling tolong menolong dan bergotong royong layaknya para semut.” Hmm.. tapi aku tidak peduli, bagaimanapun juga semut tetap lah semut, dari bentuknya saja sudah tidak menarik untuk dilihat.
Aku memiliki perjalanan hidup yang panjang, sebelum menjadi bentuk yang seindah ini, aku adalah seekor ulat bulu yang jelek dan menjijikan. Oiya.. sebelumnya aku ingin meminta maaf atas penjajahan oleh Bangsaku terhadap Bangsa semut dimasa silam. Seperti kita ketahui, hidup ini adalah kompetisi, siapa yang kuat dia lah yang berkuasa. Aku akui Bangsa ulat adalah Bangsa yang bersifat parasit, merusaki tanaman yang kami tinggali. Tapi perlu diketahui, setelah kami bermetamorfosa (kata manusia) menjadi kupu-kupu, maka kami adalah hiasan, hiasan yang menghiasi tanaman, tanaman yang pernah kami rusaki. Bahkan Bangsa kami lah yang membantu bunga bunga berkembangbiak. Suatu ketika pernah ada cerita tentang sekuntum bunga matahari yang rela rusak daunnya saat dirinya ditinggali tiga ekor ulat, hanya karena ingin melihat tiga ekor kupu-kupu yang indah. Intinya adalah, keindahan sejati baru bisa dinikmati setelah merasakan yang buruk.
Banyak sudah waktu yang kuhabiskan untuk berkelana sendirian, ya... aku sendirian. Tanpa teman bahkan kekasih, bagiku keduanya cukup merepotkan, merepotkan jika aku pikirkan. Aku hanya malas jika harus ikut memikirkan segala permasalahannya, dan lagipula aku pun juga tak ingin membagikan masalah yang sedang aku pikirkan. Kukira itu adil.
***
Suatu hari dimusim panas pertengahan bulan September, aku pernah terbang melintasi hamparan perkebunan bunga Lavender yang luas di atas tanah berumput yang berbukit-bukit. Sinar matahari pagi saat itu seakan akan menambahi intensitas warna dari setiap kelopak bunganya, ungu violetnya benar-benar jujur. Harumnya semerbak hingga menusuk rongga trakeaku. Bahkan saking harumnya, jika saja ada dua puluh empat manusia yang kentut, pasti tidak akan tercium bau kentutnya. Angin yang sepoi-sepoi membuatku tak perlu mengepakan sayap banyak-banyak, aku terbang layaknya burung Elang. Angin juga membuat ujung-ujung bunga berayun-ayun ke depan dan ke belakang secara bergantian, andai saja kalian ikut melihatnya, mungkin kalian akan takjub, gerakan mereka seperti ombak di lautan. Saat itu, aku berkata dalam hati “Seperti ini kah bentuk surga itu?”.
Dilain waktu, pada musim hujan akhir bulan Desember, aku juga pernah terbang melintasi sebuah gurun pasir yang bagiku terlalu luas untuk diterbangi dan sangat tandus sampai sampai aku tidak sadar bahwa ketika itu sedang berlangsung musim hujan. Tidak ada satupun bunga yang aku temukan, kecuali buah Naga, buah yang konon katanya merupakan tanda cinta sang Raja Naga kepada permaisurinya. Aku memakannya hanya untuk melepas dahaga karena cuaca terlalu panas. Pasirnya yang putih bersih membuat mataku silau karena pantulan sinar matahari, sehingga membuatku terbang dengan mata yang menyusut. Dalam perjalanan tersebut aku melihat banyak sisa tulang belulang Bangsa manusia maupun Bangsa binatang mamalia, karena terlalu panas dan tandus. Bahkan saking panasnya, aku melihat beberapa bangkai Burung Bangkai dan Ular derik yang telah mengering hingga hampir membentuk sebuah fosil. Apabila kamu ingin bertanya mengapa aku bisa bertahan hidup ketika itu, maka aku akan menjawab, aku terbang ketika malam dan aku masuk ke dalam badai pasir ketika siang, yang secara otomatis membuatku semakin cepat melewati gurun pasir yang tandus itu. Aku benar-benar kapok melewati tempat tersebut, dalam hati aku berkata “Seperti itu kah bentuk neraka itu?”.
***
Sekarang hari sudah mulai siang, matahari tepat di atasku, Madu Pelangiku pun juga sudah habis empat tetes, sisanya aku simpan di dalam sebuah guci keramik peninggalan temanku dari Bangsa Laba-laba. Aku akan bersiap untuk terbang-terbang atau dalam bahasa manusia disebut jalan-jalan, menuju sebuah taman di pinggiran kota, taman yang ditumbuhi aneka ragam bunga, tanaman dan ikan-ikan koi yang asyik berenang di dalam kolam bulat berdiameter tujuh meter.
Aku melihat ada tiga gasebu semi permanent yang terbuat dari bambu. Gasebu pertama diisi oleh seekor kucing jantan coklat yang sedang terlelap, gasebu kedua diisi oleh seorang ayah dan anak laki-lakinya yang masih kecil sedang bercakap-cakap sambil menikmati es krim vanila, gasebu ketiga diisi oleh gadis cantik yang sedang menyendiri sambil memegang sebuah buku berwarna coklat berukuran A4.
Sembari menghisap madu pada bunga Sepatu berwarna merah, aku sedikit menguping pembicaraan seorang ayah dan anak laki-lakinya yang berada di gasebu kedua. “Yah... apakah surga itu masih tersedia untuk kita? Surga yang kata ibu guruku berada di telapak kaki ibu. Sedangkan, ibu telah meninggalkan kita sejak lima tahun yang lalu ketika aku berusia tujuh tahun.” Tanya si anak dengan rasa keingin tahuannya. “Tentu saja surga selalu tersedia untuk kita nak.. Sekarang ibu sudah duluan berada di surga tersebut, ibu sedang menyiapkan rumah untuk kita bisa bersama sama lagi disana.” Jawab si ayah sembari menatap awan. “Yeee.... pasti sekarang ibu sedang membuat perpustakaan raksasa seperti yang aku cita-citakan.” Kata si anak dengan nada gembira. “Iya.. Tapi ingat nak... selama ibu membuat perpustakaan tersebut, kita harus tetap mendo’akan ibu.” Si ayah mencoba memberi pengertian. “Kenapa kita harus mendo’akan ibu Yah?” Tanya si anak yang kebingungan. “Agar ibu tau dan dengar, bahwa kita di Bumi ini juga sedang berjuang, berjuang untuk bisa menyusulnya.” Jawaban si ayah dengan penuh keyakinan. “Ayo kita berjuang!” Kata si anak yang tiba-tiba berdiri sambil menghormat menghadap langit.
Begitulah percakapan mereka yang aku dengar, yang sekaligus juga menakutkanku, karena setelah itu anak kecil tersebut mencoba mengejarku. Kemudian aku terbang menjauh untuk mencari aman, mendekati bunga Matahari di dekat gasebu ketiga, disitu aku melihat seorang gadis beparas manis, dengan mata indah yang pandangannya kosong, dengan kulit berwarna sawo matang, dengan kepala yang dibalut kain kerudung bermotif taman alias bunga-bunga, dengan baju gamis berwarna coklat yang tidak bisa aku lihat lekuk tubuhnya. Aku mencoba terbang lebih dekat untuk melihat buku apa yang sedang ia pegang, buku besar berukuran A4 dengan sampulnya yang berwarna coklat. Dengan perlahan ia membuka lembaran-lembaran bukunya sampai halaman empat, setelah kuhitung. Herannya, aku tidak menemukan satu kata pun pada lembaran-lembaran buku tersebut. Jari-jari lentiknya mulai meraba-raba permukaan kertas putih polos pada halaman empat di buku tersebut, wajahnya terlihat sedikit tersenyum, menampakkan gigi serinya yang begitu rapih. Setelah aku dekati, ternyata di dalam lembaran kertas putih tersebut memiliki motif lingkaran–lingkaran kecil yang dibuat timbul. Aku menggambar motif tersebut agar aku tidak lupa.


Aku sedikit heran, mengapa hanya dengan meraba–rabakan jari pada lembaran kertas yang bermotif lingkaran kecil-kecil tersebut, bisa membuatnya tersenyum.
Matahari telah menunjukan jingganya, satu per satu makhluk hidup yang berkeliaran di taman mulai berangsur pergi. Menyisakan aku dan bunga-bunga. Sementara itu, barisan lampu taman mulai menyala. Mencahayai bunga-bunga yang sedari tadi aku hisap sari madunya. Tak lama kemudian, sekumpulan Laron datang entah dari mana, mendekati lampu untuk sekadar terbang-terbang. Jumlahnya terlalu banyak untuk kuhitung. Aku ikut bergabung dengan mereka, terbang dan menari di dalam cahaya yang kekuning-kuningan. Seolah olah tak ada lagi beban di dalam pikiranku. Dari kejauhan aku melihat 7 ekor burung gagak sedang mengintai kami dari kejauhan, tapi aku tak peduli.

***

Jogja, Juni 2015

4 komentar:

  1. Kebahagian akan benar-benar manjadi kebahagiaan setelah merasakan kesedihan.
    Keberhasilan akan benar-benar diraih setelah menuai berbagai kesulitan.
    Jadi, akhir dr ceritanya ?

    BalasHapus
  2. Betul...
    Akhir cerita, kupu-kupu beserta laron-laronnya mati dimakan Burung Gagak.. :)

    BalasHapus
  3. hmm..sad ending...:-(
    bukannya burung gagak itu makan bangkai ya ?

    BalasHapus
  4. No..Sad.. Just an Fiction.. :)
    Bukan, itu burung Nazar. Kalau burung Gagak makan klepon mba.. :D

    BalasHapus