Selasa, 12 April 2016

PIKNIK PACITAN

GUA GONG, PANTAI KLAYAR & PANTAI NGIROBOYO

Perjalanan menuju kota Pacitan dimulai pada hari sabtu 19 Maret 2016, start dari Kotagede Yogyakarta pukul 07.00 WIB. Perjalanan tersebut diikuti oleh 13 orang, 2 diantaranya adalah perempuan. Perjalanan ditempuh menggunakan 2 mobil melalui rute jalur selatan: Kota gede - Wonosari - Pracimantoro - Giritontro - Pacitan. Rute tersebut merupakan jalanan yang penuh dengan lika-liku, sehingga dapat menyebabkan mual-mual bagi orang yang biasa mabuk darat menggunakan kendaraan roda empat, saran penulis adalah, tetap waspada dan nikmati pemandangannya, karena sepanjang jalan tersebut kita akan disuguhkan dengan pemandangan yang indah berupa gunung-gunung berbatu dan aneka perbukitan. Ini merupakan perjalan dalam rangka piknikan rutin kantor di tahun 2016 ini, intinya adalah untuk menghilangkan penat akibat rutinitas kerja sehari hari juga untuk menjalin kekompakan dan keakraban diantara masing masing pegawai kantor. Langsung saja, menuju obyek wisata yang kami kunjungi:

GUA GONG
Nama (Gong) tersebut berasal dari keunikan sebuah batu Stalaknit yang terdapat di dasar gua, yang apabila batu tersebut dipukul, maka akan menghasilkan suara mirip bunyi Gong. Sebetulnya masih banyak lagi Gua-gua di Pacitan yang sangat menarik, karena memang slogan wisata kota Pacitan adalah "Pacitan kota 1001 Goa". Namun Gua Gong lah yang paling favorit dan terkenal.

Pintu Masuk Gua Gong
Foto bersama sebelum memasuki Gua Gong
Jembatan menuju Gua Gong
Jembatan menuju Gua Gong
Mohon maaf karena tidak ada foto suasana Gua Gong yang bisa ditampilkan, karena susah. Jangankan pegang kamera, untuk jalanpun masih tersandung-sandung. Penerangan lampu didalam Gua sangat lah minim ditambah pula kondisi tangga yang sempit dan licin. Hati hati lah.. lanjuuut...

"Selamat datang di pasar Gua Gong, selamat berbelanja.."
Aneka macam kaos murah dengan desain bertema "Gua Gong"
Mau beli batu akik? Disini tempatnya
Pasar Batu Akik
Halaman depan Gua Gong (Pintu Keluar)
Istirahat sejenak melepas lelah
Pukul 11.30 WIB kami mencari rumah makan seadanya di area parkir mobil, Alhamdulillah.. menyenangkan sekali. Lanjut menuju obyek wisata selanjutnya.

PANTAI KLAYAR
Merupakan pantai yang paling terkenal di Pacitan, kata sebagian orang-orang "Kamu belum ke Pacitan kalau belum ke Pantai Klayar". Kondisi siang hari di pantai Klayar sangat panas, apabila kamu termasuk orang yang takut hitam tapi doyan travelling, lebih baik membawa perlengkapan anti ultraviolet, seperti payung dan topi koboy. Seperti kita ketahui, Pantai Klayar merupakan pantai di pesisir laut selatan, memiliki ombak yang cukup besar sehingga sangat berbahaya untuk berenang. Ingat, dilarang berenang di pantai ini, cukup nikmati saja keindahan alamnya.
Pantai Klayar nampak dari parkiran mobil
Foto dulu sebelum jalan ke bawah
Menuju Pantai Klayar
Menuju Pantai Klayar
Pantai Klayar tampak dari atas
Barisan pohon kelapa yang melambai-lambai
Situs Pantai Klayar
DILARANG BERENANG/MANDI DI PANTAI, BERBAHAYA !!!
Terdapat juga penyewaan Motor ATV untuk menelusuri pantai
Foto Bersama
Batu Karang
Air mancur disela-sela lubang karang (Ciri khas Pantai Klayar)
Batu Karang


PANTAI NGIROBOYO
Pukul 14.00 WIB, kami sampai di pantai yang kedua, yaitu Pantai Ngiroboyo, setelah melewati jalan kecil sepanjang 7 km yang terbuat dari susunan batu dan juga hanya bisa dilewati oleh satu mobil, sehingga apabila berpapasan dengan mobil lainnya, mau tak mau salah satu mobil harus mengalah dengan cara keluar dari jalur. Suasana di pantai Ngiroboyo sangat berbeda dengan Klayar, disini lebih sepi. Wisata Ngiroboyo juga meyediakan beberapa perahu motor yang bisa disewa untuk menyusuri muara sungai yang ada di kawasan pantai Ngiroboyo.
Pesona Ngiroboyo
Menyusuri Sungai
Menyusuri Sungai
Pohon L (Pohon Kelapa yang batangnya berbentuk huruf L)
Barisan pohon kelapa di pinggiran sungai
Pemandangan di pinggiran sungai
Sebagian besar pohon kelapa, daunnya habis dimakan ulat
Barisan pohon kelapa
Bakar-bakar sampah
Batuan cadas di pinggiran sungai
Muara sungai Ngiroboyo
Istirahat sejenak disalah satu deretan warung makan
Kuliner menu seafood di gasebu pantai Ngiroboyo
Foto bersama
Pantai Ngiroboyo nampak sepi
Sunset di pantai Ngiroboyo

Langit sudah mulai gelap, kami pun melanjutkan perjalanan kembali menuju kota Klaten.

Selasa, 10 November 2015

ILLUSTRASI KOTA CILACAP PADA MEDIA T-SHIRT

By. Chandra Adi W
Rancangan illustrasi
tentang Kota Cilacap
pada media t-shirt.
Sebagai upaya
promosi obyek wisata.
Menggunakan
Teknik gambar manual
dan gambar digital.

Cilacap merupakan salah satu kota kecil di Provinsi Jawa Tengah bagian selatan, namun walaupun Cilacap merupakan kota yang kecil, Cilacap dinobatkan sebagai kabupaten terluas se Provinsi Jawa Tengah. Secara geografis, kota Cilacap terletak di bagian paling selatan pulau Jawa dan, sehingga kota Cilacap dapat dikatakan sebagai kota Bahari. Bahari adalah segala hal yang berhubungan dengan laut atau kelautan. Cilacap dikatakan sebagai kota bahari karena memang mata pencaharian terbesar masyarakatnya adalah nelayan. Tidak lepas dari konteks kebaharian, kota Cilacap sendiri juga diramaikan oleh aneka Pabrik, Perkantoran dan Industri. Keseluruhannya merupakan Industri yang besar dan ternama di Indonesia.

Masih dalam konteks Bahari, maka tidak lepas dari yang namanya Wisata. Wisata utama yang disuguhkan oleh kota Cilacap adalah laut sebagai tujuan utama para wisatawan baik lokal maupun luar daerah. Adapun wisata lainnya yang paling terkenal dan yang menjadi kebanggan masyarakat Cilacap sekaligus menjadi icon kota Cilacap itu sendiri, yaitu pulau Nusakambangan. Siapa tidak mengenal pulau Nusakambangan, sebuah pulau yang dikenal sebagai pulau Penjara. Dimulai sejak jaman Hindia Belanda, pulau Nusakambangan dikususkan oleh Pemerintah Belanda sebagai pulau untuk memenjarakan para tahanan kelas kakap. Hingga sekarang pun pulau tersebut masih difungsikan sebagai pulau penjara. Karena beberapa penjara yang terdapat di pulau tersebut masih aktif dan siap siaga menerima tahanan yang berkelas kakap.

Untuk lebih mengenal seluk beluk kota Cilacap, maka penulis menyuguhkan promosi tentang kota Cilacap baik wisatanya ataupun industrinya menggunakan pendekatan ilmu desain grafis atau desain komunikasi visual. Dimana selanjutnya penulis akan mengkomunikasikan dan merangkum gambaran tentang isi kota Cilacap dalam bentuk illustrasi.

Perancangan illustrasi tentang kota Cilacap akan dibuat menggunakan gaya desain art nouveau agar terkesan rumit dan dekoratif. Gaya desain art nouveau dinilai dapat mewakili pesan pesan visual kepada target audiencnya yang utama yaitu remaja, khususnya remaja SMA dan remaja yang mengenyam pendidikan kuliyah. Penulis memilih remaja sebagai target utama proyek illustrasi ini karena secara psikologis, sebagian besar remaja memiliki sifat keingintahuan yang tinggi terhadap hal-hal yang menyangkut bidang kesenian, khususnya gambar atau illustrasi. Sehingga pesan promosi tentang kota Cilacap dapat tersampaikan.

Media promosi yang digunakan adalah t-shirt, sehingga ketika t-shirt tersebut dikenakan, maka akan menumbuhkan rasa bangga pada diri pemakainya. Khususnya bangga dengan kekayaan kota Cilacap itu sendiri.

Suatu desain tidak lepas dari yang namanya unsur desain atau kata lainnya bahan desain. Unsur desain yang ditampilkan dalam illustrasi t-shirt ini terdiri dari gambar bentuk yang diambil dari ciri khas kota Cilacap, baik aspek wisata maupun aspek industri sebagai penguat identitas kota Cilacap.

1. Cerobong Api Kilang Minyak Pertamina
PT Pertamina merupakan Industri terbesar se-Indonesia dan salah satu kilang minyaknya yang terbesar berada di kota Cilacap. Bagian paling menarik dari kilang minyak Pertamina adalah adanya cerobong atau menara besar dan tinggi yang ujungnya mengeluarkan api yang cukup besar, sampai saat ini api tersebut tidak pernah padam, api tersebut dihasilkan dari limbah minyak yang sudah tidak terpakai.

2. Kilang Minyak Pertamina
Kilang Minyak di kawasan industri kota Cilacap ini menempati area yang cukup luas, kilang-kilang minyak tersebut membentang dari selatan hingga utara. Jika ditinjau dari kejauhan, kilang - kilang tersebut akan membentuk seperti barisan kue bakpao karena memang bentuknya yang silinder dan setengah bulat dibagian atasnya ditambah lagi warnanya yang putih.

3. PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap)
Bangunan besar yang berada di sisi selatan kota Cilacap, tepat dibibir pantai laut selatan. Sesuai dengan namanya “Pembangkit Listrik Tenaga Uap” dikelola oleh pemerintah kab. Cilacap sebagai penghasil sumber daya listrik kepada masyarakat. Ciri khas dari bangunan ini adalah cerobong asapnya yang begitu besar dan tinggi, dilapisi dengan ornament garis-garis diagonal berwarna merah putih biru serta tambahan lampu yang gemerlapan ketika malam, sehingga nampak indah ketika malam hari.

4. Laut Teluk Penyu
Merupakan laut yang berada di sepanjang garis pantai, garis pantai tersebut diberi nama Teluk Penyu. Di sepanjang garis pantai banyak disandarkan perahu-perahu motor kecil milik para nelayan yang tinggal di pesisir pantai. Jarak antara pantai dan laut lumayan jauh, sehingga pantainya kerap digunakan oleh para anak muda untuk bermain bola dan berenang.

5. Pemecah Gelombang
Di sepanjang pantai Teluk Penyu dibangun beberapa pemecah gelombang terbuat dari beton yang panjangnya sekitar 200 meter dari garis pantai hingga ke laut. Bentuknya menyerupai rel kereta api hanya saja ukurannya lebih besar. Bangunan tersebut lebih sering digunakan oleh masyarakat untuk memancing.

6. Penyu
Sepanjang pintu masuk area wisata laut Cilacap, banyak terdapat toko-toko yang menjajakan aneka souvenir. Salah satu souvenir yang menarik adalah patung-patung Penyu, Penyu yang dijual bukan lah penyu asli yang diawetkan, melainkan hanya buatan tangan. Seperti kita ketahui Penyu merupakan binatang yang harus dilindungi dan dilestarikan. Namun walaupun wisata pantai kota Cilacap bernama Teluk Penyu, tidak ada satupun penyu yang hidup disekitar laut tersebut.

7. Benteng Pendem
Merupakan bangunan sejarah peninggalan jaman Belanda, bangunan tua yang berbentuk benteng yang dilengkapi dengan aneka penjara ukuran dan bentuknya berbeda beda. Awal ditemukan, bangunan benteng tersebut terpendam di dalam tanah. Lokasi wisata benteng pendem tersebut berada tepat di area pantai Teluk Penyu.

8. Nusakambangan
Pemandangan Pulau Nusakambangan dapat kita lihat dengan jelas ketika kita berada di pantai Teluk Penyu. Tepatnya berada di sebelah barat pantai. Jika dilihat dari pantai, nampak bahwa pulau Nusakambangan ditumbuhi oleh aneka jenis flora dan terlihat pula beberapa kapal tangker yang bersandar di pulau tersebut.

9. Penjara
Penjara merupakan ikon khusus yang menjadi ciri khas dari pulau Nusakambangan. Semula terdapat sembilan Lapas di Nusakambangan (untuk narapidana dan tahanan politik), namun kini yang masih beroperasi hanya tinggal empat, yaitu Lapas Batu (dibangun 1925), Lapas Besi (dibangun 1929), Lapas Kembang Kuning (tahun 1950), dan Lapas Permisan (tertua, dibangun 1908). Lima lainnya, yaitu Nirbaya, Karang Tengah, Limus Buntu, Karang Anyar, dan Gleger, telah ditutup. Wilayah selatan pulau menghadap langsung ke Samudra Hindia dengan pantai berkarang dan berombak besar. Masing-masing penjara memiliki tingkat keamanan, bentuk, fungsi dan jenis yang berbeda beda.

10. Bunga Wijayakusuma
Bunga Wijayakusuma merupakan kembang malam yang misterius. Setiap kali mendengar bunga wijayakusuma yang kerap terlintas adalah sebuah bunga yang misterius dan bunga yang mekar hanya di malam hari. Ya, malam dan misterius inilah yang kemudian membuat bunga yang satu ini menjadi terkenal bahkan sarat dengan mitos. Menurut masyarakat Cilacap, bunga Wijayakusuma hanya dapat ditemukan di pulau Nusakambangan. Itulah mengapa, ikon kota Cilacap adalah bunga Wijayakusuma.











Terima kasih telah berkunjung,
Semoga dapat menberikan inspirasi yang positif
Bagi kita semua.
Mohon maaf apabila ada salah kata
Maupun salah gambar.

Yogyakarta, 10 November 2015

Sabtu, 26 September 2015

KACANG TAK PERNAH LUPA KULITNYA


Sebuah Cerpen Fiksi

Di sebuah bangunan poskamling yang bercahaya kuning di bawah naungan langit yang gelap, aku menyendiri dari keramaian, bukan karena aku tak suka keramaian, lebih karena keramaian yang tak menyukaiku. Ya, aku mengerti. Begini saja sudah lebih baik, aku nikmati setiap detik waktuku hanya bersama kesunyian.

Aku pernah dengar cerita tentang sifat dasar manusia, manusia ditakdirkan sebagai makhluk sosialis, entah apa sosialis itu, mungkin maksudnya adalah makhluk yang saling membutuhkan antara satu individu terhadap individu lainnya. Namun, meskipun sama-sama terlahir sebagai seorang manusia, mengapa aku dijauhkan dari aktifitas sosialis? Mengapa mereka tak pernah mau menerimaku? Apa yang salah dariku? Begitulah segelintir kegelisahanku, yang sengaja aku tulis ungkapan kegelisahan batinku tersebut pada sebuah buku yang aku buat sendiri dari limbah kertas.

Malam begitu dingin, angin menyentuh tubuh kumalku yang bertelanjang dada, untung lah radiasi lampu 5 watt memberiku sedikit kehangatan. Di sisi lain, puluhan nyamuk beterbangan mengelilingi rambut gimbalku seakan ingin mencari tempat sembunyi, sesekali terdengar suara ayam jantan berkokok, aku menduga ini tidak lagi malam, tetapi telah berlanjut menuju dini hari. Pantas, Poskamling hanya menyisakan sebuah tikar usang dengan taburan sampah kulit kacang di atasnya.

Di dalam keheningan, tiba-tiba kurasakan gerakan kecil kulit-kulit kacang mendekat kearahku, entah kau percaya atau tidak, itulah yang aku lihat dengan mata kepalaku. Satu persatu kulit kacang bergerak dan berkumpul membentuk barisan menghadap ke arahku, bahkan sebagaian dari mereka berloncatan bergantian dengan suaranya yang lucu “cuw..cuw..cuw..”. Ku katakan lagi, entah kau percaya atau tidak, itulah yang aku dengar dari telingaku. Beberapa menit kemudian kulit-kulit kacang tersebut telah berkumpul rapih tepat di depanku. Kupandangi mereka dengan seksama, tak ada yang berbeda, semua sama, hanya kulit kacang. Salah satu kulit kacang yang berada di barisan paling depan tiba-tiba bersuara lalu berkata padaku “Aku punya suatu cerita untukmu”. Dalam hati, sesungguhnya aku ingin tertawa, mendengar kulit kacang memiliki sebuah cerita. Aku mulai penasaran, dan dialog dini hari pun terjadi.

Aku : Sebelum kau menyampaikan cerita, tolong perkenalkan dulu dirimu beserta teman-temanmu.

Kulit Kacang 1 : Mengapa aku harus memperkenalkan diriku dan teman-temanku?

Aku : Hmm... Agar aku bisa menyayangimu.

Kulit Kacang 1 : Apa hubungannya? Jangan bodoh kau.

Aku : Aku ingat, Pepatah pernah berkata “Tak kenal maka tak sayang”.

Kulit Kacang 1 : Pepatah? Siapa pula Pepatah itu? Manusia kah?

Aku : Ah.. pertanyaan macam apa itu, baru kali ini kudengar.. sial..

Kulit Kacang 3 : Lalu, menurutmu siapa Pepatah itu?

Memang benar, dalam benakku, sesungguhnya aku pun tak pernah tau siapa dan apa itu Pepatah. Pertanyaan Kulit Kacang tersebut membuatku bertanya tanya pula. Disisi lain aku juga tak ingin terlihat bodoh dan kikuk di depan mereka. Maka segera aku menjawab.

Aku : Pepatah adalah golongan manusia-manusia yang bijaksana. Kalimat-kalimat bijak yang mereka buat merupakan sebuah pesan yang memiliki arti mendalam. Kira-kira begitu.

Kulit Kacang 3 : Benar begitu?

Aku : Ah.. salah pun tak apa, kebenaran hanya lah masalah kesepakatan. Jika kita sama-sama sepakat bahwa pendapatku benar, maka jadilah benar.

Kulit Kacang 1 & 3 : Ya.. tentu kami sepakat, bahwa pendapatmu benar.

Aku : Kalau begitu, lekas perkenalkan siapa kalian?

Suara jangkrik menyebar dari segala penjuru, padahal sepanjang yang kuketahui tak ada pohon ataupun semak di sekitarku. Poskamling ini terhimpit oleh bangunan rumah di samping kanan, kiri dan belakang yang begitu padat. Jalan aspal di depan poskamling ini pun hanya cukup untuk dilewati 1 buah mobil.

Kulit Kacang 1 : Perkenalkan, kami adalah Kulit Kacang yang sedang merindu.

Aku : Wahai Kulit Kacang yang sedang merindu, cerita apa yang ingin kau sampaikan?

Kulit Kacang 1 : Ini tentang saudara kami, saudara yang sejak lahir kami lindungi dan kami jaga dengan segenap kekuatan. Bahkan hingga mereka tumbuh menjadi dewasa dan matang. Dan entah mengapa, di puncak kedewasaan mereka, selalu saja mereka meninggalkan kami tanpa ucap satu kata pun. Bahkan, tersenyum pada kami pun tidak. Pada saat itu pula, kami mulai mengerti, saudara kami terlahir sebagai sosok yang tak pernah berterima kasih. Kekecewaan kami berbuah kebencian.

Aku : Ya.. aku mengerti kekecewaanmu, ditinggalkan tanpa pesan memang menyakitkan.

Kulit Kacang 1 : Ya.. kau benar

Suara burung gagak menggema di atas atap Pos Kamling, nyamuk-nyamuk pun masih bersemangat terbang bebas berkeliling di bawah lampu yang hangat. Sejenak aku terdiam dalam lamunan, mencari-cari kalimat untuk menanggapi pernyataan para Kulit Kacang yang sedari tadi dirundung kegelisahan. Semakin lama aku mencari, semakin tak kutemukan pula pikiranku tentang solusi permasalahan para Kulit Kacang tersebut. Sementara itu, sebagian dari para Kulit Kacang wajahnya tampak mulai mengantuk lalu menguap selebar-lebarnya.

Tidak lama setelah itu, tiba-tiba terlihat gerakan-gerakan kecil dari arah pojok Pos Kamling, yang kulihat adalah sebuah bungkus korek api kayu kecil yang bergerak-gerak. Aku ambil lalu kemudian aku buka.

Alangkah kagetnya aku ketika sebutir Kacang melompat dari dalam bungkus korek api, lalu berdiri tegak diantara aku dan para Kulit Kacang. Sontak membuat para Kulit Kacang kehilangan rasa kantuknya. Tampak wajah tegang diseluruh wajah mereka. Akhirnya dialog pun terjadi.

Aku : Waw.. Sepertinya ada tamu tak diundang disini.

Kacang : Diam kau lelaki bodoh! Gila! Ini bukan urusanmu!

Aku : Lalu apa urusanmu?

Kacang : Aku..

Kulit Kacang 4 : Hey.. kau! Saudara kurang ajar! Tak tahu berbalas budi!

Kulit Kacang 1 : Kami sudah muak melihatmu, jangan harap kau bisa meminta perlindungan dari kami. Pergi kau!

Kulit Kacang 13 : Kau selalu pergi meninggalkan kami, tanpa satu pesan pun!

Kulit Kacang 1 : Pergi Kau! Kacang sialan!

Dalam ketegangan yang tak kuketahui perkaranya, sejenak aku merenung menembus pikiran masa lampau, membuatku ingat beberapa petuah papatah, pepatah pernah berkata “Kacang Lupa Kulitnya”. Mungkinkah kejadian ini yang menjadi dasar pemikiran pepatah tersebut? Ah.. mungkin saja.

Aku : Kau! “Kacang Lupa Kulitnya”

Kacang : Dengar!!! Aku tak seperti yang kalian pikirkan!

Kulit Kacang 1 : Kau itu “Kacang Lupa Kulitnya” Pergi kau!

Kacang : Dengar!!! Sungguh aku tak pernah lupa pada kulitku.

Kulit Kacang 1 : Hmm.. Omong kosong!

Kacang : Dengar!!! “Kacang tak pernah lupa Kulitnya”, Ingat itu. Manusia lah yang memisahkan kita, lalu kemudian mereka merampas ragaku dari lindungan kalian. Jangan kalian pikir aku seenaknya meninggalkan kalian tanpa pesan. Perlu kalian ketahui, aku bisa berdiri disini dihadapan kalian bukan lah hal yang mudah. Aku satu-satunya kacang yang berhasil lolos dari cengkeraman manusia.

Kulit Kacang 1 : Apa maksudmu cengkeraman manusia?

Kacang : Wahai saudaraku, sesungguhnya para Kacang menjadi santapan para manusia setelah merampasnya dari kalian, saudaraku.

Kacang mulai berjalan memasuki kerumunan para Kulit Kacang, kemudian mereka saling berpelukan. Terdengar isak tangis memecah keheningan malam. Aku hanya terdiam dalam kebingungan.

Kini pandangan mereka ditujukan padaku dengan mata-mata yang menyipit dan tangan yang mengepal. Aku mulai paham, sebentar lagi aku akan dibenci mereka, karena aku manusia.

Suara burung Gagak di atas atap Pos Kamling mengiringi langkahku untuk segera meninggalkan mereka.

***